Alkisah Mani Amas Mula Menebas Belukar, Maka tersebutlah pula perkataan tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan sinar yang kemerah-merahan laksana sapuan darah di langit yang fana. Adapun Mani Amas, setelah menetapkan niatnya yang tegar lagi angkuh untuk melawan sekalian pertanda alam, bangunlah ia pada pagi-pagi buta itu. Maka diambilnyalah sebilah parang miliknya yang amat panjang lagi tajam, lalu diasahnya pada batu asahan hingga kilau besinya berkilat-kilat memantulkan cahaya. Sesudah itu, diikatkannyalah sarung parang yang terbuat daripada kayu pilihan itu dengan sekukuh-kukuhatnya pada pinggangnya.
Maka berjalannyalah Mani Amas seorang diri masuk ke dalam rimba raya, melangkah mengikuti arah dan jurusan yang sebenarnya telah dilarang keras oleh garis petunjuk adat (solor tuha tahutn). Setelah ia berjalan menempuh rimbunnya hutan dalam beberapa kurun waktu, maka sampailah ia ke sebidang tanah yang telah dipilihnya sejak menebas pertama untuk dijadikan lahan ladang barunya.
Hatta, demi menjejakkan kaki di sana, pertama-tama dibuatnyalah sebuah panggung kayu sederhana yang tinggi, yakni suatu platform untuk tempat ia duduk beristirahat tatkala kelelahan. Maka bersiaplah Mani Amas seraya menghunus parangnya yang tajam itu, lalu mulailah ia menebas sekalian semak belukar, pohon-pohon kecil, dan tumbuhan menjalar yang merintangi lahan tersebut. Setelah beberapa lama ia bekerja dengan memeras keringat, maka selesailah pekerjaan menebas itu dilakukan.
Maka dipandangnya sebuah pohon yang teramat besar lagi tinggi menjulang ke langit, yang tumbuh di tengah-tengah lahan tersebut. Demi melihat besarnya pohon itu, maka Mani Amas pun membuat sebuah aram-aram, yaitu perancah atau tangga kayu yang tinggi bersandar pada batang pohon, karena ia bermaksud hendak memanjat dan menebang pohon besar tersebut dari atas.
Kalakian, setelah pekerjaan menebas itu usai, maka dibiarkannyalah sekalian kayu-kayu dan ranting hasil tebasan itu terbaring berserakan di atas tanah ladang selama satu bulan lamanya. Hal itu dilakukannya agar sekalian kayu itu menjadi kering kerontang setelah dijemur di bawah terik matahari, supaya mudah dibakar kelak. Setelah genap satu bulan kurun waktunya berlalu, maka Mani Amas pun kembali lagi ke ladang itu dengan membawa sebuah beliung besi yang tajam, lengkap dengan tangkai kayu dan pegangannya yang kukuh.
Maka dipanjatnyalah aram-aram yang tinggi itu dengan langkah yang mantap. Setelah ia sampai di atas perancah, maka diayunkannyalah beliungnya dengan sekuat-kuat tenaganya, mulai menebang sebatang pohon suci yang bernama pohon jahanang. Setiap kali beliung itu menghantam batang pohon, maka bergemululah suaranya membelah kesunyian rimba. Setelah beberapa lama ia bertekun menebang, maka pohon jahanang yang besar itu pun mulai condong, lalu runtuh dan tumbanglah ia ke bumi dengan suara yang amat dahsyat, laksana runtuhnya sebuah bukit.
Maka Mani Amas pun turunlah dari atas aram-aram dengan hati yang puas lagi penuh kemenangan. Akan tetapi, syahdan tatkala itu ia tiada mengetahui, bahwa di balik rimbunnya dedaunan hutan yang gelap, ada sepasang mata musuh yang sejak tadi mengendap-endap, memperhatikan dan mengintip segenap gerak-geriknya dengan penuh rasa benci dan dendam yang amat berkarat.
Adapun musuh yang mengintai itu tiada lain melainkan Leo Baja, seorang ksatria perang yang amat masyhur kegagahannya, yang berasal dari kaum Raram Barangan. Maka tepat pada seketika kaki Mani Amas baru saja menjejak dan menyentuh tanah ladang, melompatlah Leo Baja keluar dari tempat persembunyiannya dengan rupa yang amat garang. Maka bertempek dan berteriaklah ia dengan suara yang menggelegar membelah rimba, katanya, "Inilah hasil duniaku!"
Sambil berteriak demikian, maka dilemparkannyalah sebuah tombak dengan sekuat-kuat tenaganya, mengarah tepat ke dada Mani Amas. Demi melihat mata tombak yang datang meluncur laksana kilat itu, maka Mani Amas yang cekatan itu pun melompat tiga kali berturut-turut ke arah pinggir, sehingga luputlah ia daripada mata tombak tersebut. Seketika itu juga, Mani Amas langsung menarik pedangnya yang panjang dari sarungnya, seraya bersiap sedia menghadapi maut.
Hatta, maka pecahlah amuk pertempuran yang teramat sengit di antara kedua ksatria itu di tengah-tengah ladang yang sunyi. Maka melompatlah mereka berdua ke sana kemari, ke kiri dan ke kanan, saling memotong, menetak, menangkis, dan memukul dengan senjata masing-masing. Maka berdentang-dentunglah bunyi besi pedang mereka beradu, menimbulkan percikan api yang menerangi kegelapan celah pohon. Pada awal mulanya amuk pertempuran itu, tiada seorang pun di antara mereka yang dapat menang atau kalah, sebab kedua-duanya sama-sama pandai, sama-sama sakti, lagi sama-sama cepat gerakannya laksana angin yang berkisar.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar