Nama aku Ratu Sepudak. Di dalam dadaku mengalir darah gagah prajurit Majapahit. Bersama enam perwira lainnya, aku menyeberangi lautan luas hingga akhirnya menjejakkan kaki di tanah Kota Lama ini dan mendirikan sebuah kerajaan. Selama bertahun-tahun, aku bertakhta di bawah naungan ajaran leluhurku, menghormati para dewa, serta memimpin rakyatku dengan hukum Hindu yang kami bimbing dari tanah Jawa. Bagi saya, kejayaan Sambas adalah segalanya.
Namun, takdir Kerajaan Sambas berubah pada suatu hari yang tak terlupakan.
Dari balik gelombang sungai, tampak bahtera megah berlabuh dari Kerajaan Berunai. Dari atas kapal itu, turunlah seorang raja muda bernama Raja Tengah. Ia tidak datang membawa balatentara untuk berperang, melainkan membawa kedamaian. Baginda datang bersama istrinya, Ratu Surya, serta putra mereka yang masih muda, Raden Sulaiman—putra yang lahir tatkala mereka singgah di Kerajaan Tanjung Pura.
Sebagai tuan rumah, aku menyambut Raja Tengah beserta rombongannya di istana. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari sosok Raja Tengah. Ia memeluk agama Islam.
Hari demi hari berlalu, dan aku semakin sering memperhatikan gerak-geriknya. Tutur katanya sangat santun, tegur sapanya halus, dan tata cara pergaulannya begitu memikat hati. Tidak ada keangkuhan dalam dirinya. Perilaku dan pusaka budi pekerti yang ditunjukkan oleh Raja Tengah benar-benar menarik perhatianku.
"Bagaimana mungkin seorang raja memiliki kelembutan hati yang begitu menenangkan?" batinku saat memperhatikan cara baginda berinteraksi dengan para menteri dan rakyatku.
Perlahan namun pasti, keindahan akhlak yang dipancarkan oleh Raja Tengah mulai menyentuh sanubariku. Bukan hanya aku, seluruh kerabat kerajaan dan rakyat Sambas pun ikut terpesona oleh kedamaian ajaran Islam yang dibawanya. Aku melihat bagaimana rakyatku begitu mudah menerima kehadiran mereka. Hati yang dahulu keras bak batu karang, kini luluh oleh hidayah.
Tanpa ada paksaan atau pertumpahan darah, aku bersama seluruh kerabat kerajaan dan rakyat jelata mengambil keputusan besar: kami memeluk agama Islam. Sejak saat itu, Kota Lama bergetar oleh gema doa yang baru.
Tahun demi tahun berlalu, dan aku menyadari bahwa usiaku tak lagi muda. Aku memandangkan pandangan ke masa depan Kerajaan Sambas. Aku melihat dua anak kandungku: Raden Prabu Kencana dan putriku, Mas Ayu Bungsu. Aku memutuskan untuk menikahkan Mas Ayu Bungsu dengan Raden Sulaiman, putra Raja Tengah yang bijaksana. Di sisi lain, keponakanku, Pangeran Perabu Kencana, kupersiapkan untuk melanjutkan takhta.
Ketika hari-hariku di dunia ini mulai mendekati akhir, aku memanggil keponakanku itu. Aku tahu, aturan di tanah Borneo mengatur bahwa raja tidak dipilih langsung oleh pemungutan suara rakyat, melainkan ditetapkan berdasarkan garis keturunan dan kesepakatan para menteri.
"Wahai keponakanku," bisikku pelan sebelum memejamkan mata untuk selamanya. "Jagalah negeri ini dengan asas bahwa raja ada untuk rakyat, dan rakyat ada untuk raja."
Sesudah aku wafat, Pangeran Perabu Kencana pun dinobatkan menjadi Raja Sambas di Kota Lama dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Ia memimpin didampingi saudaranya, Pangeran Aria Mangkurat, sebagai patih, serta menantuku, Raden Sulaiman, sebagai wakil patih.
Dari alam yang tenang ini, aku hanya bisa berharap agar benih kedamaian dan keimanan yang ditinggalkan oleh Raja Tengah di Kota Lama dapat terus terjaga, serta Raden Sulaiman—yang begitu dicintai rakyat—selalu dilindungi dari benih-benih iri dengki yang kelak mengintai kerajaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar