Di bawah naungan langit Montrado yang muram, Chen Wei berdiri di tepi perbukitan Lumar, menatap kepulan asap yang masih membubung dari reruntuhan pasar Kulor. Sebagai seorang juru catat di Balai Kongsi, ia telah menyaksikan bagaimana kejayaan yang dibangun oleh bangsa dan leluhurnya selama satu abad perlahan-lahan runtuh menjadi debu dan abu.
Pikiran Chen Wei melayang pada kisah-kisah tua yang sering diceritakan mendiang kakeknya. Dahulu, hampir seratus tahun yang lalu, leluhur mereka tiba di tanah Borneo ini dengan kapal berbongkah aneh. Mereka datang sebagai rombongan manusia yang lesu, pucat, dan keletihan, bersimpuh di hadapan Sultan Umar Alamudin untuk memohon sepetak tanah kecil di Larah demi bertahan hidup. Dengan cucuran keringat dan ketekunan yang tiada tara, mereka menggali tanah berawa, memeras emas dari perut bumi, hingga mengubah belantara menjadi kota-kota kongsi yang makmur dan mandiri.
Namun, Chen Wei menyadari betul bahwa kemakmuran dan kekuasaan sering kali membutakan mata. Benih-benih kecongkakan mulai tertanam sejak tragedi berdarah pesta Tajau puluhan tahun silam. Kelompok kongsi menanggalkan rasa terima kasih mereka, membantai sekutu pribumi, dan menyatakan diri sebagai penguasa tunggal atas tanah-tanah tambang. Setelah itu, perang saudara yang haus darah antar-kongsi sendiri meletus, merobek persatuan mereka dan meninggalkan jejak dendam yang mendalam.
Kini, masa penghakiman bagi bangsanya telah tiba. Dari balik celah dinding benteng Lumar yang retak, Chen Wei memperhatikan derap langkah pasukan Kompeni Belanda yang bergerak maju di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andresen.
"Apakah perlawanan di Lohabang dan Kulor benar-benar sudah berakhir?" tanya Chen Wei dengan suara gemetar kepada seorang prajurit kongsi yang terengah-engah di sampingnya.
Prajurit itu menyapu darah dan lumpur di dahinya, lalu menggeleng lemas. "Benteng-benteng kita di Kulor telah hancur dihantam mortir mereka. Pasukan Tirailleur Belanda menyeberangi sungai di bawah hujan peluru kita tanpa ragu. Sebelum mundur, para pejuang kita membakar pasar Kulor agar tidak jatuh ke tangan musuh, tetapi itu tak menghentikan langkah mereka. Pasukan Kompeni kini tinggal selangkah lagi dari jantung Montrado."
Chen Wei mendesah berat, meremas gulungan kertas catatan kongsi di tangannya. Ia ingat betul bagaimana beberapa hari yang lalu kongsi mereka mengirimkan surat balasan yang penuh kesombongan kepada pihak Belanda—menyatakan bahwa mereka lebih baik membakar seluruh rumput di tanah ini daripada harus menundukkan kepala. Namun, menghadapi kekuatan meriam, kapal perang beruap, dan disiplin militer Eropa, keberanian dan gertakan itu menguap begitu saja.
Dari kejauhan, dentuman meriam terakhir terdengar perlahan surut, digantikan oleh keheningan yang menyiksa. Di dalam Balai Kongsi Montrado, para tetua dan penguasa tambang tidak lagi memikirkan kejayaan emas atau otonomi republik kecil mereka. Yang tersisa di wajah mereka hanyalah rasa takut akan pemusnahan total.
"Kirimkan utusan," bisik Chen Wei pelan, mendahului keputusan para tetua yang sedang tertunduk lelah. "Himpun dua belas warga terpenting kota ini. Katakan pada komandan Belanda bahwa orang-orang yang mengobarkan perang telah melarikan diri ke hutan, dan yang tersisa di sini hanyalah warga sipil yang memohon ampun."
Tanggal 2 Juni 1854 menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan Chen Wei sepanjang hidupnya. Matahari pagi menyinari jalanan utama Montrado yang bisu. Chen Wei berdiri di barisan depan bersama tiga puluh tokoh kongsi, semuanya mengenakan pakaian putih polos sebagai tanda duka dan kepasrahan mutlak.
Di sepanjang tepi jalan, ribuan warga keturunan Cina—para penambang, pedagang, dan keluarga mereka—bersimpuh di atas tanah liat yang basah. Saat bayonet dan sepatu bot tentara Belanda berbaris melintas di hadapan mereka, Chen Wei menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh debu.
Dalam sujud pasrah itu, Chen Wei menyadari bahwa era kejayaan, kebebasan, dan kedaulatan kongsi-kongsi Cina di tanah Borneo telah resmi berakhir. Mimpi besar yang dibangun oleh keringat leluhurnya kini terkubur di bawah naungan kekuasaan baru dari negeri yang jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar