Senin, 21 September 2026

Cerpen: Gema Gong di Dalam Pekong

Aroma dupa puyer dan hio membumbung tinggi, menyatu dengan wangi lemak babi bakar serta uap mangkuk-mangkuk sup yang mengepul di dalam pekong. Dari balik tiang-tiang kayu merah berpahat naga, suara tawa dan dering cangkir-cangkir keramik beradu riuh melintasi aula utama. Hari itu adalah puncak perayaan pesta Tajau, hari di mana pintu-pintu benteng yang biasanya tertutup rapat justru dibuka lebar-lebar untuk para tamu dari balik belantara.

Di sudut meja panjang, seorang pemuda Dayak bernama Nyarik memegang cangkir tuak dengan jemari berkeringat. Matanya menatap takjub pada lampion-lampion kain merah yang bergantung di langit-langit, memancarkan pendar keemasan yang belum pernah ia lihat di dalam hutan. Di sekelilingnya, belasan tetua Dayak dan prajurit penjaga benteng duduk berdampingan dengan para penambang serta pimpinan kongsi Cina. Mereka makan bersama, meneguk minuman persahabatan, dan mendengarkan kisah-kisah rahasia di balik patung-patung tepekong yang diagungkan.

"Minumlah, Saudara!" seru seorang penambang Cina di samping Nyarik sambil mengukir senyum lebar dan menuangkan tuak hangat hingga meluap dari cangkirnya. "Hari ini tidak ada sekat di antara kita. Aturan benteng dilupakan, senjata disimpan. Hari ini kita saudara!"

Nyarik tersenyum polos, rasa curiga yang biasa menyelimuti hatinya perlahan-lahan luntur tersapu oleh kehangatan tuak dan ramahnya sambutan tuan rumah. Di luar sana, penjaga-penjaga benteng dari sukunya tampak telah melepaskan pegangan pada hulu mandau, ikut tertawa dan berbaur dalam keramaian yang makin riuh. Perempuan-perempuan Dayak yang membawa anak-anak kecil pun duduk tenang di pelataran, menikmati hidangan manis yang jarang mereka kecap.

Namun, di tengah gelak tawa yang membahana, Nyarik merasakan sesuatu yang aneh. Ia mendapati beberapa pemuda kongsi yang berdiri di dekat tiang-tiang utama tidak menyentuh cangkir mereka sama sekali. Mata mereka tidak menatap piring atau sajian, melainkan terus melirik ke arah pintu ruang dalam, tempat sebuah gong tembaga besar tergantung di kegelapan.

Nyarik meletakkan cangkirnya, hendak mengusap peluh di dahi. Ia baru saja bermaksud menyapa pamannya di ujung meja ketika mendadak seluruh pergerakan di dalam ruangan terasa membeku.

DONGGG!

Dentuman gong dari dalam tepekong bergema dahsyat, menggetarkan lantai kayu dan memekakkan telinga.

Suara itu bukanlah penutup doa, melainkan awal dari mimpi buruk yang teramat kelam.

Sebelum gema gong pertama sempat memudar, senyum ramah di wajah penambang di samping Nyarik mendadak sirna, berganti menjadi cengiran dingin yang mengerikan. Tanpa sepatah kata pun, kilatan besi tajam meluncur dari bawah meja. Nyarik menyaksikan dengan mata terbelalak saat pisau panjang menembus dada pamannya yang masih memegang mangkuk minuman.

"Penghianatan!" jerit Nyarik, suaranya serta-merta tertutup oleh jeritan histeris yang meletus bersahutan di seluruh aula.

Suasana jamuan damai dalam sekejap berubah menjadi ladang pembantaian yang brutal. Para penjaga benteng Dayak yang terlanjur melepaskan ikatan disiplin dan senjata mereka tewas seketika di tempat duduknya, ditusuk dari belakang oleh tuan rumah yang beberapa detik lalu mengulang kata 'saudara'. Cangkir-cangkir porselen pecah berantakan di lantai, bercampur dengan darah merah yang menggenang dan membasahi meja-meja jamuan.

Nyarik melompat mundur, menghindari tebasan pisau yang nyaris menyambar lehernya. Ia bergerak kalap menembus kekacauan, mengabaikan rasa perih di bahunya. Di pelataran luar, pemandangan jauh lebih mengerikan melukai matanya. Perempuan-perempuan dan anak-anak suku Dayak berlari ketakutan sambil meratap, memohon belas kasihan di bawah kepungan senjata, namun mereka dirobohkan tanpa ampun satu per satu.

"Berlari! Lari ke hutan!" teriak seorang prajurit Dayak yang bersimbah darah, berusaha menahan pintu gerbang dengan sisa-sisa tenaganya sebelum akhirnya runtuh dihantam senjata musuh.

Nyarik menerobos asap dupa dan uap darah yang makin pekat, melompati barikade kayu benteng yang kini telah dikuasai penuh oleh para pejuang kongsi. Dari balik kegelapan hutan yang dingin, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang dengan dada naik-turun.

Di dalam pekong yang kini dipenuhi jeritan tangis dan tumpahan darah, pendar lampion merah masih menyala terang. Nyarik mengepalkan tangannya rapat-rapat, membiarkan air mata dan darah menetes ke tanah. Jamuan di dalam pekong telah berakhir, tetapi dendam dan luka atas pengkhianatan malam itu akan terpatri selamanya dalam ingatan sukunya, menyulut api perlawanan yang tak akan padam selama bertahun-tahun mendatang.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...