Nenek moyang kami di pedalaman Borneo selalu percaya bahwa hutan dan sungai tidak pernah berbohong. Jauh sebelum terompet perang berbunyi dan dentuman besi memecah heningnya rimba, pepohonan telah meranggas dan angin membawa bau kecurigaan.
Dahulu kala, sewaktu Sultan Umar Alamudin masih bertahta di Sambas, kami melihat orang-orang berwajah pucat dan tubuh kurus turun dari kapal asing yang aneh. Mereka bersimpuh di tanah, memohon dengan sangat agar diberi sepetak tempat tinggal di Larah. Orang-orang tua kami di suku Dayak melihat mereka dengan belas kasihan. Kami mengajari mereka cara berdampingan dengan hutan, dan tak jarang gadis-gadis kami dipersunting oleh mereka. Saat itu, mereka tampak seperti tetangga yang taat dan rajin.
Namun, emas mengubah segalanya. Lapisan emas di tanah kami bagaikan sihir hitam yang menghapus rasa terima kasih.
Saya masih ingat betul cerita tentang hari naas saat pesta Tajau. Tetua kami dan warga suku Dayak datang dari dalam hutan dengan hati polos dan gembira untuk ikut merayakan pesta orang-orang Cina tersebut. Kami diajak makan bersama, mendengarkan irama musik, dan diajak melihat rahasia di dalam tepekong. Penjaga-penjaga benteng kami melonggarkan ikatan senjata mereka, terbuai oleh tawa dan keramahan yang ternyata palsu.
Di dalam pekong besar yang dipenuhi pendar merah lampion, asap hio membumbung tinggi bercampur dengan aroma hidangan pesta Tajau. Para tetua kongsi Cina dan pimpinan suku Dayak duduk berdampingan, saling melempar tawa dan meneguk tuak bersama. Di mata orang awam, aula itu tampak seperti simbol persaudaraan, namun di balik takdir yang terselubung, aura kematian sedang mengintai.
Di sudut aula yang paling tenang, Ah Seng—seorang pemuda kongsi—duduk dengan dada yang bergemuruh hebat. Di hadapannya duduk Barin, gadis Dayak bermata jernih dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya.
Ah Seng mengetahui rencana rahasia para pimpinan kongsinya: bahwa jamuan ini hanyalah siasat berdarah untuk melumpuhkan orang-orang Dayak dan merebut kekuasaan atas tambang emas secara mutlak. Sementara itu, Barin menatap Ah Seng dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam.
"Barin, pergilah dari sini sekarang... Lewat pintu belakang," bisik Ah Seng dengan suara bergetar penuh keputusasaan.
Barin mengerutkan dahi, bingung. Namun sebelum kata-katanya terucap, sebuah dentuman mendengung keras membelah riuk tawa di aula.
DONGGG!
Pukulan gong nyaring membahana dari dalam tepekong, menggetarkan tiang-tiang kayu bangunan. Suara itu adalah isyarat pembantaian.
Dalam sekejap mata, keramahan para pemuda kongsi berubah menjadi cengiran dingin. Kilatan pisau panjang dan parang dihunus serentak dari bawah meja jamuan. Para tamu dan penjaga benteng Dayak yang terlena ditusuk dari belakang saat cangkir minuman masih ada di genggaman mereka. Suasana damai berganti menjadi neraka banjir darah.
Di tengah kekacauan itu, seorang prajurit kongsi mengarahkan bilah parangnya ke arah Barin. Melihat bahaya itu, Ah Seng melompat tanpa ragu dan memasang dadanya sendiri sebagai perisai. Besi dingin menembus punggung Ah Seng. Ia roboh ke lantai kayu yang tergenang darah, memeluk Barin erat-erat di bawah pendar lampion merah yang bergoyang bisu.
Bertahun-tahun setelah tragedi berdarah itu, kekuasaan kongsi-kongsi Cina di Montrado tumbuh makin congkak, namun pondasinya kian rapuh oleh perang saudara dan kemarahan tanah Borneo.
Dari tepi perbukitan Lumar, Chen Wei—seorang juru catat tua di Balai Kongsi—menatap kepulan asap yang membubung dari reruntuhan pasar Kulor. Dentuman meriam dahsyat terdengar dari arah pesisir: pasukan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andresen telah tiba membawa kapal perang beruap dan mortir-mortir besar.
Chen Wei mendesah berat. Ia ingat bagaimana beberapa hari lalu kongsi mereka menolak menyerah dengan sombong. Namun di hadapan disiplin militer Kompeni, benteng-benteng kongsi runtuh satu per satu. Pejuang kongsi membakar pasar mereka sendiri sebelum mundur kocar-kacir ke dalam hutan.
Pada bulan Juni 1854, asap perang di Montrado perlahan menyusut. Chen Wei berdiri di barisan depan bersama puluhan tokoh kongsi, semuanya mengenakan pakaian putih polos sebagai tanda duka dan kepasrahan mutlak. Di sepanjang jalan, ribuan warga keturunan Cina bersimpuh di atas tanah liat yang basah saat pasukan Belanda berbaris masuk.
Chen Wei menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh debu jalanan. Kejayaan, kedaulatan, dan kebebasan kongsi yang dahulu dibangun di atas cucuran keringat—dan dilumuri pengkhianatan di pesta Tajau—kini resmi berakhir, terkubur di bawah bayang-bayang penguasa baru dari seberang lautan.
Dari balik rimbunnya dedaunan di atas bukit, saya dan para pemuda Dayak mengamati pemandangan itu dalam diam.
Kami melihat orang-orang yang dahulu membantai saudara-saudara kami di dalam pekong, kini bersimpuh dan berlutut memohon ampun di hadapan tentara Kompeni. Kekuasaan kongsi yang dibangun di atas tanah Larah akhirnya runtuh juga.
Gema gong pembantaian di pekong puluhan tahun silam telah berganti menjadi dentuman meriam asing. Kami mengelus hulu mandau di pinggang, menyadari bahwa meski satu penindas telah tunduk di tanah ini, hutan dan tanah kelahiran kami akan selalu menuntut kami untuk tetap waspada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar