Senin, 21 September 2026

Cerpen: Bunga Api di Tanah Montrado

Lumpur di Pangkalan Batu malam itu terasa lebih pekat dari biasanya. Bau amis air Sungai Raya bersatu dengan aroma jelaga bekas pertempuran yang belum sepenuhnya disapu angin pantai. Dari kejauhan, dentang lonceng berbahan perunggu bersahut-sahutan dengan tiga buah tom-tom bas—alat musik tradisional orang Dayak Mempawah yang dipukul dengan irama konstan dan magis.

Aku, A-Seng, seorang bekas pekerja tambang emas dari Kongsi Lumar, berdiri canggung di balik bayangan bangsal kayu Thang. Di alun-alun, sepuluh prajurit Dayak melompat serentak membentuk lingkaran. Pinggul mereka terikat lingkaran rotan yang mengembang menyerupai rok bersimpai, dan kepala mereka dihiasi helai bulu burung enggang. Gerakan mereka begitu tangkas, mengepakkan lengan meliuk-liuk menirukan burung buas yang siap menerkam mangsa.

Di tepi lapangan, berdiri seorang perwira tinggi berkulit putih dengan wajah cekung akibat demam tropis. Dialah Kapten Infanteri C. van Houten—pria yang dijuluki 'Kapten Penyerang' oleh orang-orang kami, sekaligus Asisten Residen pertama yang baru ditunjuk untuk memimpin Montrado. Tangannya menggenggam tegap cangkir minuman, sementara matanya yang tajam mengawasi tarian pengayau itu tanpa kedipan.

"A-Seng, jangan terlalu dekat," bisik pamanku, seorang bekas pengurus kongsi yang kini berwajah pucat. "Orang-orang kulit putih itu baru saja menggantung kawan-kawan kita di Singkawang. Kepalanya dipenggal dan ditancapkan di atas tongkat!"

Dadaku berdesir pilu. Aku tahu persis kisah tragis itu. Bagi bangsa asing itu, pemenggalan adalah cara paling ampuh untuk menanamkan ketakutan. Namun bagi kami, pengikut ajaran Kon-fu-cu, itu adalah vonis keputusasaan yang melampaui kematian. Kami percaya bahwa ketika tiba saatnya roh melayang menuju keselamatan kekal, sang nabi akan menarik kuncir rambut kami masuk ke surga. Tanpa kepala dan kuncir sutra itu, roh kawan-kawan kami akan terlunta-lunta di depan pintu surga selamanya.

Bahkan demi menyelamatkan keselamatan roh rekan-rekannya, beberapa warga pasar secara sembunyi-sembunyi membuat kepala tiruan dari kayu dan kertas, melapisinya dengan cat halus dan memasangkan kuncir dari benang sutra indah. Mereka menjahitkannya ke jasad sebelum dikuburkan, berharap dapat menipu para dewa di langit.

"Perang sudah usai, Paman," bisikku pelan. "Liau Ngie Liong dan Wong-Kim-Ngau telah melarikan diri ke hutan. Jika kita terus melawan, hanya tiang gantung dan pukulan rotan yang menunggu kita."

Sejak tanggal 5 November, ketika maklumat resmi dibacakan di Thang di hadapan Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah, dunia lama kami telah runtuh. Pemerintahan kongsi resmi dibubarkan. Montrado kini menjadi bagian dari Asistensi Residensi yang membawahi Singkawang, Kulor, Budok, hingga Lumar.

Demi menegakkan tatanan baru, Kompeni memaksa masyarakat kampung dan pekerja tambang bekerja bakti membakar semak belukar dan meratakan bukit. Rute jalan setapak yang dulu berliku dan menjadi sarang persembunyian gerilya, kini diubah menjadi jalan raya lebar yang menghubungkan Montrado ke Pangkalan Batu dan Singkawang.

Awalnya, para kapitan kami membuat alasan konyol untuk menghindar—mengaku tak bisa membongkar tanggul benteng rumah kongsi karena masih menggunakannya untuk menjemur kain cucian. Namun Van Houten bukan orang bodoh. Ketegasannya yang tanpa kompromi mematahkan seluruh alasan itu. Siapa pun yang membangkang akan merasakan cambukan rotan atau hukuman gantung.

Namun, di balik ketegasannya yang dingin, Van Houten paham betul bahwa ketakutan saja tak akan bisa membangun kota. Pada minggu yang sama, ia menggelar perayaan besar untuk meredakan ketegangan.

Malam itu, Montrado yang dulunya mencamkan oleh letupan meriam, berubah menjadi panggung kegembiraan yang aneh sekaligus indah.

Di tengah alun-alun, sebuah panggung wayang Cina berdiri megah. Suara nyanyian merdu dari primadona laki-laki yang memikat penonton bersahut-sahutan dengan gelak tawa para serdadu Eropa yang sibuk mengadakan lomba panjat pinang dan balap karung. Di sudut lain, pelawak-pelawak Jawa dan Madura melempar kelakar paling lucu, sementara prajurit-prajurit Afrika melakukan atraksi akrobat, melompati kerumunan dengan gerakan jenaka.

Rasa takut yang selama berbulan-bulan mencengkeram dadaku perlahan mereda. Aku melangkah keluar dari bayangan bangsal, ikut berbaur bersama kerumunan warga pasar yang menyaksikan perayaan tersebut. Untuk pertama kalinya, serdadu yang biasanya memegang senapan bayonet kini meneguk minuman mereka sambil tertawa bersama rakyat tempatan.

Beberapa bulan kemudian, tatanan baru benar-benar mengakar. Nilai lelang candu, perikanan, perjudian, hingga pertambangan emas melonjak hingga ratusan ribu gulden—sebuah bukti nyata bahwa stabilitas dan kepercayaan telah kembali ke tanah Montrado. Jalur pos teratur kini menghubungkan Sambas hingga Pontianak, dan dokter-dokter mulai menyuntikkan vaksinasi cacar kepada anak-anak Dayak dan Cina di pedalaman.

Pada akhir bulan Januari 1855, aku berdiri di tepi jalan raya Singkawang yang baru selesai dibangun. Di atas jalan selebar beberapa meter itu, sebuah kereta kuda melintas pelan. Di dalamnya duduk Kapten van Houten yang terkulai lemas karena demam tropis yang parah. Ia harus berlayar kembali ke Belanda, menyerahkan jabatannya kepada Kapten Verspijck.

Saat kereta itu melintas di depanku, aku menundukkan kepala dengan penuh hormat.

Van Houten telah meruntuhkan tatanan lama kami dengan tangan besi dan ketegasan hukumnya. Namun di atas debu jalan raya baru ini, ia juga telah meletakkan batu pertama bagi masa depan yang damai—menghapus jelaga perang dan menggantinya dengan tawa kehidupan di tanah Montrado.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...