Senin, 21 September 2026

Asal-usul meminta nasehat dari pertanda-pertanda.

Ini berasal dari Parawakng Tujuh. Disitu ada parasiatn dari manusia-manusia dari Bolekng Batungkakng.

Mani Amas tuha tahutn, abangnya Ujan Tungal panyanakng kalangkakng. Isteri Mani Amas adalah Kari Amas, anak perempuan tertua Dayakng Litatn dan adik laki-laki termuda dari dia bernama Bujakng Onyes.

Onyes mempunyai satu tubuh yang tidak sempurna. Dia berjalan pincang, karena dia dulu kena puru (frambusia) dan sesudah itu infeksi sendi-sendi. Karena itu buat manusia-manusia satu nyanyian singkat untuk dia:

Tepos dicabut, padi dituangkan;

Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.

Janganlah mengolok-olok orang lain, keberhasilan orang-orang semacam ini tidak tetap. Siapa akan tetapi mengenal ayu (= malapetaka?) (yang mengancam kita) dari belakang?

Demikian (bunyi) ceritera dari zaman, bahwa Mani Amas pergi meminta nasehat dari pertanda-pertanda di Parawakng Tujuh. Pertanda-pertanda untuk pekerjaan ladang tahunan sangat tidak baik. Dia mendengar satu rusa panggil kijakng, jatuhkan satu dahan, tumpangkan satu pohon mati. Itulah pertanda-pertanda, bahwa akan orang meninggal satu kematian darah.

Apa pikir Mani Amas tentang pertanda-pertanda yang begitu keras? Dia putuskan hari itu (kali ini?) melawan pertanda-pertanda.

------------------------------

## [Halaman 206]

206 | Sumbangan Kepada Pengetahuan Adat dan Bahasa Dayak

Nah, baiklah, dia mengasah pagi berikut parangnya dan ikat sarung dari kayu di pinggang. Dia pergi untuk menebang, mengikuti jurusan pertanda-pertanda dari solor tuha tahutn.

Sesudah dia berjalan satu waktu, dia tiba di tempat, yang oleh penebasan pertama dipilih sebagai tempat ladang. Disitu dia bikin satu platform untuk duduk. Kemudian dia mulai menebas. Sesudah beberapa waktu ladang selesai; dia bikin di pohon tinggi satu aram-aram, karena dia mau menebang dia.

Satu bulan lamanya kayu-kayu yang dipotong tinggal baring di ladang untuk menjadi kering; (sesudah itu) dia ambil beliung dengan tangkai dan pegangan; dia naik aram-aram dan mulai menebang pohon jahanang. Sesudah satu waktu tumbang pohon. Mani Amas turun dari aram-aram; musuh rupanya melihat semuanya.

Siapa musuhnya? Rupanya Leo Baja, seorang dari Raram Barangan. Pada saat Mani Amas menempatkan kaki di tanah, teriak Leo Baja: "Hasilku!" sambil lemparkan tombaknya.

Mani Amas melompat tiga kali (ke pinggir) dan kemudian menarik dia pedangnya. Disitu melompat mereka berdua kesini-sana, memotong dan memukul. Mula-mula tidak seorangpun menang atau kalah, karena mereka berdua sama pandai, sama cepat.

Sesudah berapa waktu kaki Mani Amas terkait pada urat. Dan benar: disitu semprot darah, satu kepala jatuh, (dia) oleh Leo Baja ditusuk di pinggang. Sekarang Leo Baja puas, dia pulang ke rumah, kepala Mani Amas diikat di pinggangnya. Seperti satu Kamang pulang dari pengayauan, demikian dia juga taati adat.

Ah; apa boleh buat: Mani Amas meninggal karena ramalannya yang keras.)

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...