Alkisah pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang makmur di kaki Bukit Bawokng, bertempat tinggal seorang peladang bernama Ne’ Baki bersama istrinya, Nek Tipah, dan seorang anak laki-lakinya yang bernama Kamang. Ne’ Baki dikenal sebagai orang yang taat kepada adat paribaso serta sangat menghormati para Jubato dan awo pamo (roh-roh leluhur).
Syahdan, beberapa tahun sebelumnya, kehidupan Ne’ Baki dilanda kesusahan. Anaknya, Kamang, jatuh sakit parah dan panen padinya selalu gagal. Maka berdoalah Ne’ Baki di jendela rumahnya:
“Ya Jubato Ne’ Opo Panungkat Bawokng, jikalau anakku Kamang diberikan kesembuhan dan padiku kelak muih padi (melimpah), hamba berjanji akan melaksanakan sambayang anyokng pada pesta Ngabayotn nanti untuk mayar moot (membayar mulut)!”
Maka atas kehendak Jubato, Kamang pun sembuh dan panen padi di ladang Ne’ Baki melimpah ruah. Tiba saatnya pesta Ngabayotn, Ne’ Baki hendak menepati janji nazarnya.
Hatta, pada petang hari sekira jam lima sore, tatkala matahari mulai condong ke barat, Ne’ Baki memanggil Kamang untuk bersiap melakukan ritual matek—ritual pengantar sebelum sambayang anyokng pada besok pagi.
“Wahai Kamang, anakku,” kata Ne’ Baki seraya memegang sebilah kayu kecil yang ditusuki tujuh buah kue tumpi', “gantungkanlah kain sarung balunggi bersulam emas ini di atas tempat ritual besok. Bapak akan membacakan doa matek di dekat jendela (tingo'otn).”
“Baik, Bapak,” jawab Kamang. “Mengapa ritual matek ini harus kita lakukan pada petang hari, Pak?”
Ne’ Baki tersenyum lalu menjelaskan, “Kerana pada waktu sore seperti inilah para Jubato, awo pamo, dan roh-roh pelindung telah kembali ke tempatnya masing-masing. Dengan matek, kita mengundang dan memohon agar Mereka tidak pergi ke mana-mana dan sudi menghadiri upacara keluarga kita besok pagi.”
Maka Ne’ Baki pun berdoa di dekat jendela yang menghadap ke timur. Sejurus kemudian, Duaarrr! Suara meriam kecil lelo dan rantako menyalak keras mengguncang udara kampung.
“Acap kali dentuman itu berbunyi, ngubarotn—mengabarkan kepada warga kampung dan para roh bahwa besok pagi rumah kita menggelar sambayang anyokng!” ujar Ne’ Baki dengan penuh khidmat.
Malam pun berganti pagi. Hari puncak upacara Ngabayotn telah tiba. Di dalam rumah Ne’ Baki, sajian putukng bersusun tujuh telah ditata rapi bersama masakan daging santotn, sigoh, dan bamopm. Seekor babi kurban yang utuh (baboatotn) disiapkan kerana upacara tersebut adalah bentuk penemuan nazar (mayar moot).
Namun, untuk upacara Ngabayotn biasa milik warga lain, babi kurban harus dipotong (di-turih) mengikut aturan adat. Datanglah seorang pua-pua adat yang tua bernama Ne' Samik ke rumah Ne’ Baki.
“Ne’ Baki,” kata Ne’ Samik melihat babi kurban yang disiapkan, “sungguh benar persembahanmu ini. Untuk membayar nazar, babi disajikan utuh telentang. Namun ingatlah, jikalau kelak engkau menurih babi kurban untuk Ngabayotn biasa, jangan sekali-kali orang yang sembarangan yang menurihnya!”
“Mengapa demikian, Pua?” tanya Kamang penasaran.
“Kerana setiap turihan potongan babi itu ada namanya sendiri menurut adat. Jikalau tersalah turih, kurban itu akan rusak dan akan membawa sial serta malapetaka bagi kehidupan keluarga pemilik kurban!” tegas Ne’ Samik.
Setelah seluruh prosesi ritual doa nyangohotn selesai dan persembahan disampaikan hingga melampaui batas kampung ke Bukit Bawokng dan Sungai Sapero', lega luar biasa dirasakan oleh Ne’ Baki dan keluarganya. Janji nazarnya kini telah tuntas ditunaikan.
Tatkala matahari mulai tinggi, terdengar suara petikan gitar, bas jepug, pukulan gendang malaya, romba, dan tambrin merdu mengalun dari luar rumah. Anak-anak muda kampung datang membawa kegembiraan.
“Bapak, rombongan bangsin sudah tiba di depan pintu!” seru Kamang gembira.
Anak-anak muda itu bernyanyi dan menari riang di halaman rumah Ne’ Baki. Nek Tipah segera keluar membawa sepinggan beras sebanyak dua copak yang diselipi beberapa lembar uang kertas di dalamnya sebagai hadiah untuk para pemusik muda itu.
“Terima kasih, Nek! Semoga keluarga Ne’ Baki senantiasa dilimpahi berkah oleh Jubato!” seru pemuda pemimpin orkes bangsin dengan gembira seraya menerima piring beras tersebut.
Demikianlah Ne’ Baki menepati janjinya, memelihara adat sambayang anyokng, serta membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi keluarga dan seluruh warga kampungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar