Minggu, 20 September 2026

Cerpen: Senjakala di Hulu Sungai Duri

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana bau mesiu dan lumpur bercampur menjadi satu di udara pagi itu. Namaku A-Siong. Di usiaku yang kini menginjak kepala lima, rambutku telah memutih, sama putihnya dengan sisa-sisa debu penyaringan emas yang dahulu kuayak di hulu Sungai Duri. Namun, bayang-bayang tahun 1854 itu tidak pernah sedetik pun lekang dari kepalaku.

Puluhan tahun lalu, ketika aku masih seorang pemuda yang penuh ambisi, aku datang ke tanah Borneo ini bersama gelombang kolonisasi. Kami, orang-orang perkongsian, menganggap bumi Kalimantan Barat sebagai tanah harapan. Di bawah bendera Kongsi Tai-Kong yang berpusat di Montrado, kami merasa menjadi penguasa sejati. Kami membabat rimba, mengeruk bukit, dan membangun koloni mandiri yang megah. Raja-raja Melayu yang lelah setelah perang saudara tahun 1772 tak lagi punya taji untuk mengatur kami. Kami adalah sebuah republik di tengah belantara; merdeka dan berdaulat.

Namun, kemakmuran adalah magnet bagi keserakahan yang lebih besar. Hari itu, saat mentari baru saja menyembul di balik tajuk pohon jati, peluit tanda bahaya berbunyi melengking di seluruh penjuru benteng pertahanan kami.

"Kompeni! Serdadu Belanda datang dari arah Singkawang!" teriak Ah Hin, sahabat karibku, sambil berlari kencang memegang senapan sundutnya yang masih hangat.

Aku segera melompat ke balik barikade tanah. Dadaku bergemuruh hebat saat melihat dari kejauhan barisan serdadu berkulit putih berbaris rapi dengan seragam biru gelap mereka. Di belakang mereka, moncong-moncong meriam artileri berat diarahkan tepat ke jantung pertahanan kami. Batavia telah mengirimkan badai untuk merebut emas yang kami urus dengan tetesan darah.

"Jangan biarkan mereka maju selangkah pun, A-Siong!" pekik Ah Hin di antara desingan peluru yang mulai membelah kesunyian hutan.

Aku mengangguk mantap, membidikkan senapanku ke arah garis depan musuh, lalu menarik pelatuk. Dor! Hawa panas menyembur ke wajahku. Pertempuran gerilya yang brutal pun pecah. Selama berminggu-minggu, kami memanfaatkan lebatnya hutan dan pekatnya rawa untuk menahan gempuran mereka. Kami bergerak bagai hantu di tanah leluhur baru kami, menyergap dari balik rimbunnya belantara, lalu menghilang.

Namun, taktik gerilya kami perlahan menemui jalan buntu. Kompeni Belanda menembaki benteng-benteng kayu kami tanpa henti menggunakan meriam berat. Suara dentumannya meremukkan nyali dan meruntuhkan pertahanan yang kami bangun bertahun-tahun. Jalur logistik kami diputus, menyisakan kelaparan yang teramat sangat di dalam benteng. Aku menyaksikan kawan-kawanku roboh satu per satu, bukan hanya karena timah panas, melainkan karena perut yang kosong.

Puncaknya terjadi di awal tahun 1855. Dengan tubuh yang kurus kering dan hati yang remuk redam, kami terpaksa menyaksikan bendera kejayaan kongsi diturunkan dari Balai Utama Montrado. Sebagai gantinya, bendera triwarna Belanda berkibar angkuh di langit yang mendung.

Aku terpaksa berbaris, menyerahkan senapan kesayanganku ke dalam tumpukan besi tua yang disita oleh serdadu kolonial. Uang gulden yang dingin kini menggantikan mata uang kongsi kami, dan selembar kartu identitas seharga 3 gulden terpaksa kubeli demi memastikan aku tidak digantung sebagai pemberontak.

Kini, masa-masa kejayaan itu telah terkubur bersama runtuhnya koloni kami. Aku tidak lagi memegang sekop emas atau senapan. Di sebuah kedai kopi kecil di pesisir Singkawang, aku menghabiskan sisa hidupku dengan menyeduh kopi untuk para nelayan, sambil menatap riak air laut yang tenang—meratapi senjakala koloni emas yang kini hanya menjadi debu dalam lembaran sejarah.

------------------------------


Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...