Aroma tanah basah menyambut Patih, seorang pemuda yang baru saja kembali ke tanah kelahirannya di Binua Samih, Kabupaten Landak. Langkah kakinya terhenti di tepian hulu sungai Kumpakng Ulu. Sudah bertahun-tahun ia menimba ilmu di kota, hingga tutur kata dan sapanya perlahan terbawa arus modernisasi. Namun, gemericik air sungai seolah memanggilnya pulang ke akar tradisinya.
Petang itu, di teras rumah panggung berbahan kayu ulin, Nek Jubel—tetua adat yang dihormati—sedang menyeduh kopi hangat. Ia menatap Patih yang baru tiba dengan pandangan teduh."Kau sudah kembali, Patih?" sapa Nek Jubel menggunakan tutur kata Ba'ahe yang kental."Ahe kabar, Nek? Saya pulang," jawab Patih mencoba mengingat kembali lekuk-lekuk bahasa Banana’ yang mulai asing di lidahnya.Nek Jubel tersenyum kecil, lalu menunjuk ke arah perbukitan hijau yang membentang jauh melintasi Kampung Samih Subangki hingga Samih Panampe. "Dengar baik-baik, Cucu. Tanah tempat kita berpijak ini bukanlah tanah biasa. Dahulu kala, nenek moyang kita melakukan perjalanan jauh, berpindah dari tanah asal-usul kita di Binua Talaga untuk mencari kedamaian dan kehidupan yang baru di wilayah ini."Patih mendengarkan dengan penuh khidmat. Cerita itu pernah ia dengar sewaktu kecil, tetapi baru kali ini ia benar-benar meresapinya."Meskipun kini masyarakat tersebar luas dari Samih Kubu, Pancur, hingga Punyanget, kita semua tetaplah satu darah dan satu keturunan dengan penduduk Binua Talaga," lanjut Nek Jubel seraya menepuk bahu Patih. "Bahasa Kanayatn yang kita tuturkan ini adalah identitas dan warisan leluhur. Jangan sampai rumpun bahasa Melayik yang menyatukan subsuku Dayak Bukit Talaga ini lenyap hanya karena anak mudanya enggan menuturkannya."Patih menunduk, merasa tersentil oleh ucapan sang kakek. Ia menyadari betapa pentingnya menjaga warisan sejarah dan tutur bahasa lokal di tengah gempuran zaman. Malam itu, di bawah naungan langit Samih Pak Liung, Patih berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah melupakan asal-usul dan bahasa budayanya.
Hendra Bahari Singkawang (Hendrasius, S.Pd), Seniman dan Guru asal Singkawang, Kalimantan Barat. Keturunan Loson Van Nampo (Sakong-Poteng), Tarukun binti Ratu (Pakunam), Raden Syarief Usupm bin Nyabukng (Sajingan-Sambas), dan Marta Kasehan (Pajintan-Sango-Sakong). Sejak 2004, aktif di bidang seni, pendidikan, serta penyiaran. Putra Dayak Salako Garantukng Sakawokng berbahasa Badameo, berkomitmen melestarikan budaya, seni, bahasa, dan sastra. Pernah meraih Penghargaan 1 Tingkat Provinsi Kal-Bar.
Minggu, 20 September 2026
Cerpen Budaya: Jejak Langkah di Binua Samih
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino
Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...
-
HIKAYAT Pengertian Hikayat Menurut KBBI Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hikayat adalah karya sastra Melayu Klasik berbent...
-
Hikayat Menuju Tajok Rancang Sebermula, pada zaman purbakala tersebutlah sebuah negeri besar di pedalaman hutan Kalimantan, diperintah...
-
Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maringa. Adapun kampung itu sangatlah makmur, tanahnya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar