Hendra tinggal sendirian di sebuah rumah kecil di pinggir desa. Rumah itu tidak besar, hanya memiliki dua kamar, sebuah ruang tamu sederhana, dan halaman yang dipenuhi rumput liar. Tidak ada suara anak-anak bermain, tidak ada suara seorang ibu yang memanggilnya untuk makan, dan tidak ada seseorang yang bertanya bagaimana hari yang telah ia lalui.
Hanya ada dua suara yang selalu menyambut kepulangannya.
“Ciko! Bima!”
Dua ekor anjing itu akan berlari dari halaman setiap kali mendengar suara motor Hendra berhenti di depan rumah. Ciko, anjing berbulu cokelat dengan telinga yang selalu tegak, biasanya menjadi yang pertama menyambut. Sementara Bima, anjing berbulu hitam-putih yang lebih besar, akan mengikuti dari belakang sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Bagi Hendra, mereka bukan sekadar hewan peliharaan.
Mereka adalah keluarga.
Setiap pagi, sebelum berangkat bekerja, Hendra selalu menyediakan makanan untuk keduanya.
“Jaga rumah, ya. Jangan nakal,” katanya sambil mengusap kepala Ciko.
Bima hanya menatapnya dengan mata bulat, seolah memahami setiap perkataan tuannya.
Setelah bekerja seharian, Hendra selalu pulang dalam keadaan lelah. Terkadang ia pulang dengan wajah murung. Terkadang ia hanya diam. Namun, Ciko dan Bima tidak pernah bertanya mengapa.
Mereka hanya duduk di dekatnya.
Pada malam-malam tertentu, Hendra duduk di teras sambil memandang langit. Ciko tidur di dekat kakinya, sedangkan Bima duduk di samping kursi.
“Capek, Bim,” ujar Hendra pelan.
Bima mengangkat kepalanya.
“Hari ini aku dimarahi atasan. Padahal bukan salahku.”
Ciko bergerak mendekat dan meletakkan kepalanya di kaki Hendra.
Hendra tersenyum tipis.
“Kalian memang pendengar yang baik.”
Ia kemudian bercerita tentang pekerjaannya, tentang orang-orang yang membuatnya kecewa, tentang masa lalu yang tidak bisa dilupakan, bahkan tentang kesepian yang sering datang ketika malam semakin larut.
Tidak pernah ada jawaban dari kedua anjing itu.
Tetapi anehnya, setelah bercerita kepada mereka, hati Hendra selalu terasa sedikit lebih ringan.
Suatu malam, hujan turun sangat deras. Hendra duduk di ruang tamu sambil memandangi sebuah foto lama keluarganya. Sudah bertahun-tahun ia hidup sendiri setelah kehilangan orang-orang yang paling ia sayangi.
“Aku kangen mereka,” bisiknya.
Suaranya bergetar.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ciko mendekat dan menjilati tangannya. Bima kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Hendra.
Untuk pertama kalinya malam itu, Hendra menangis tanpa merasa malu.
“Terima kasih,” katanya lirih. “Kalian masih di sini.”
Waktu terus berjalan. Rambut Hendra mulai memutih. Langkahnya tidak lagi sekuat dulu. Namun, setiap pagi, dua sahabatnya tetap menunggunya di halaman.
Sampai suatu hari, Hendra jatuh sakit.
Ia tidak pergi bekerja. Tubuhnya lemah dan hanya mampu berbaring di tempat tidur. Ciko dan Bima tidak meninggalkan rumah. Mereka tidur di depan kamar Hendra dan sesekali masuk untuk memastikan keadaan sahabatnya.
Beberapa hari kemudian, Hendra mulai pulih.
Ia membuka pintu rumah dan melihat keduanya berlari menyambutnya.
Hendra berjongkok dan memeluk mereka erat.
“Kalian tahu?” katanya sambil tersenyum. “Selama ini aku kira aku yang menjaga kalian.”
Ia mengusap kepala Ciko dan Bima.
“Ternyata kalianlah yang selama ini menjaga aku.”
Senja mulai turun. Hendra duduk di teras bersama kedua sahabatnya. Ia menyadari bahwa hidupnya memang tidak dipenuhi banyak orang, tetapi ia tidak benar-benar sendirian.
Sebab di rumah kecil itu, selalu ada dua pasang mata yang menunggunya pulang, dua ekor sahabat yang tidak pernah menghakiminya, dan dua hati kecil yang selalu menerimanya apa adanya.
Bagi Hendra, itulah arti persahabatan yang sesungguhnya.
Tidak harus pandai berkata-kata. Tidak harus selalu memahami. Cukup hadir, tetap setia, dan tidak pergi ketika dunia terasa begitu sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar