Kabut tebal menggantung rendah di atas perbukitan Kulor, menudungi duka yang merayap diam-diam di sebuah rumah panggung beratap rumbia. Di dalam pondok kayu yang lapuk itu, bau minyak tanah bercampur dengan aroma tanah basah dan desah napas keputusasaan. Seorang pria bernama A-Chai menatap nanar selembar kertas berstempel merah yang tergeletak di atas meja. Kertas itu bukan sekadar surat pajak biasa, melainkan ancaman terselubung dari sang penyewa—seorang pachter yang bertindak bak raja kecil menggantikan kekuasaan Kongsi Thai Kong yang telah runtuh beberapa tahun lalu.
"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istrinya, memecah kesunyian malam. Perempuan itu sedang memeluk erat anak balitanya yang terbatuk-batuk di sudut tempat tidur.
A-Chai menyapu wajahnya yang kusam dengan telapak tangan yang sarat bekas luka kerja keras. "Satu gulden per bulan. Si penyewa menuntut bayaran atas sepuluh kuli di pertambangan emas kita. Padahal enam kuli sudah kabur minggu lalu karena parit-parit air mengering dan emas tak lagi tampak dari lumpur."
"Tetapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan pelan, matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam. "Hasil panen padi dari ladang belakang pun belum sempat ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"
A-Chai mencengkeram rambutnya dengan rasa frustrasi yang meluap. Ia paham betul betapa tragisnya nasib mereka. Di masa lalu, ketika Kongsi Thai Kong masih memegang kendali, pimpinan kongsi memeras mereka dengan menaikkan beban pajak secara sewenang-wenang setiap kali tambang mereka menunjukkan hasil. Kini, setelah kongsi hancur dan Pemerintah Eropah memberlakukan hukum Staatsblad, nasib para penambang kecil bukannya membaik. Aturan perizinan bertuliskan tinta emas itu hanyalah kedok; di ceruk-ceruk Montrado, hukum tetaplah cambuk pemeras darah di tangan sang penyewa.
"Kalau besok uang sewa dan utang persekot itu tidak dilunasi, si penyewa akan menyita seluruh saluran air dan tempat penyimpanan air milik kita," bisik A-Chai lirih. "Bahkan lahan pertanian ini akan dia serahkan kepada orang lain."
Keokesokan harinya, ketika matahari pagi baru saja membiaskan cahaya suram melalui celah pepohonan, derap langkah kaki berderap menghampiri pelataran. Ah-Kuat, tangan kanan sang penyewa yang dikenal dingin, melangkah maju membawa tiga orang algojo berwajah garang.
"A-Chai!" panggil Ah-Kuat dengan suara keras memecah keheningan pagi. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan hak atas saluran air ini!"
A-Chai melangkah keluar dengan tubuh bergetar, diikuti oleh Mei-Lan yang mendekap erat anaknya di dada.
"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami," pinta A-Chai sambil membungkuk dalam-dalam. "Hujan belum turun berbulan-bulan. Kolam penampungan air kami kering sehingga kami tidak bisa mencuci emas. Biarkan kami mengolah ladang ini dulu. Hasil panen padi nanti akan kami serahkan seluruhnya untuk mencicil utang persekot itu!"
Ah-Kuat tertawa dingin, sebuah tawa kejam yang tak menyentuh matanya. "Hukum atau perjanjian lama, semuanya tak berlaku jika kau menunggak pajak, A-Chai! Kau tidak bayar, maka hakmu atas parit-parit air ini hangus! Penyewa telah memutuskan, seluruh infrastruktur irigasi ini disita dan akan dijual kepada rombongan kuli baru dari Kulor!"
"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan memotong, matanya menyala oleh keputusasaan. "Saluran air ini digali sendiri oleh suami saya bersama warga kampung! Kami membendung sungai kecil itu dengan keringat kami sendiri! Jika air disita, dengan apa kami menyiram ladang? Bagaimana anak kami bisa makan?"
"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat dingin. "Bongkar pematang air itu! Alirkan airnya ke tambang sebelah selatan!"
Para algojo mulai mengayunkan cangkul, menghancurkan bendungan air (airleding) yang dibangun A-Chai dengan susah payah. Melihat hasil keringat dan harapan hidup keluarganya dihancurkan, A-Chai kehilangan akal sehatnya. Dengan jeritan histeris, ia berlari menerjang algojo terdepan.
Namun, keputusasaan tak berdaya di hadapan kekerasan. Seorang algojo mendorong A-Chai dengan sangat keras hingga tubuhnya terlempar. Kepala A-Chai membentur sudut batu padas yang tajam di tepi parit air.
Brak!
Suara benturan keras itu disusul oleh jeritan histeris Mei-Lan. Darah segar menyembur deras dari kepala A-Chai, dengan cepat mengalir merembes masuk ke dalam parit pengairan yang jernih.
Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap dingin pada tubuh A-Chai yang terkulai lemas di tepi parit. "Lelaki bodoh. Selalu saja ada yang mati demi sepetak tanah yang bahkan bukan milik mereka." Tanpa sedikit pun rasa iba, Ah-Kuat dan para pengawalnya berjalan pergi meninggalkan perkarangan itu.
Mei-Lan menjatuhkan dirinya ke tanah, memangku kepala suaminya yang kian mendingin. Air matanya menetes panas, bercampur dengan darah A-Chai yang membasahi pangkuannya.
"Mei-Lan..." bisik A-Chai dengan napas yang kian terseok-seok. Tangannya yang gemetar terangkat lambat, menyentuh pipi istrinya. "Bawa anak kita... lari ke perkampungan Dayak di hulu gunung... Jangan pernah... jangan pernah kembali ke tanah pertambangan ini... Tempat ini telah dikutuk..."
Napas terakhir A-Chai berhembus seiring terpejamnya kedua matanya secara perlahan. Di parit pengairan yang tenang, warna merah darah A-Chai perlahan memudar, larut dan terbawa arus air leding menuju tambang-tambang di hilir—menjadi saksi bisu atas takdir tragis para jiwa kecil yang tergilas oleh serakahnya pajak, buruknya sistem hukum kolonial, dan dinginnya rimba Montrado.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar