Nama saya A-Chai. Saya hanyalah satu dari ribuan san-khe—orang-orang asing dari daratan Cina yang berlayar mengarungi lautan demi segenggam emas di rimba Montrado. Dahulu, kakek dan ayah saya bertaruh nyawa di bawah panji Kongsi Thai Kong. Mereka membanting tulang melubangi tanah, membendung sungai, dan menggali kim-kheo—parit-parit air—agar emas dapat dicuci dari lumpurnya. Tapi kini, kongsi besar itu telah dihancurkan oleh serdadu-serdadu Eropah, dan hidup kami bukannya membaik, melainkan terperosok ke dalam neraka yang lebih kelam.
Malam itu, dingin Montrado meresap hingga ke tulang. Di atas meja kayu lapuk, temaram lampu minyak menerangi selembar kertas berstempel merah.
"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istri saya, memecah kesunyian. Ia sedang memangku anak kami yang kurus dan terbatuk-batuk.
Saya menatap telapak tangan saya sendiri yang kapalan dan penuh bekas luka. "Satu gulden per bulan. Si pachter—penyewa tambang yang dipasang pemerintah Eropah itu—menuntut pajak atas sepuluh kuli. Padahal enam kuli sudah melarikan diri minggu lalu karena tanah nam kita tak lagi memancarkan kilau emas."
"Tapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan dengan suara tertahan. "Hasil panen padi dari ladang belakang juga belum genap ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta bagian sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"
Saya mencengkeram rambut saya yang kusam dengan rasa putus asa. "Aku tahu, Mei-Lan! Tapi si penyewa tak mau tahu. Menurut aturan baru Staatsblad, dia bertindak atas nama pemerintah. Kalau besok uang pajak dan tunggakan persekot tidak dilunasi, dia akan menyita seluruh pekerjaan air dan tempat penyimpanan air milik kita! Bahkan tanah ladang ini akan dibeli orang lain!"
Betapa ironisnya nasib kami, bangsa yang memeras keringat di tanah orang. Di zaman kongsi dulu, pimpinan kami memeras pajak dengan sewenang-wenang setiap kali tambang kami menunjukkan hasil. Sekarang, setelah kongsi runtuh, si penyewa yang baru bertindak tak kalah kejamnya. Mereka memanfaatkan utang persekot untuk membelenggu leher kami. Bagi Tuan-Tuan Eropah di kota, aturan di atas kertas nampak adil, tapi di celah-celah gunung Montrado ini, hukum hanyalah cambuk pemeras darah.
Keesokan harinya, ketika kabut tebal masih menyelimuti pepohonan, derap langkah sepatu memecah pagi. Ah-Kuat, sang antek penyewa dari suku kami sendiri, datang membawa tiga algojo berwajah dingin.
"A-Chai!" panggil Ah-Kuat nyaring. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan surat tanah ini!"
Saya melangkah keluar dengan tubuh bergetar, sementara Mei-Lan memeluk erat anak kami di ambang pintu.
"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami sesama saudara," ikrar saya sambil membungkuk rendah. "Hujan tak kunjung turun. Fut-long—danau penampungan air kami kering. Kami tak bisa mencuci emas. Biarkan kami memanen padi dulu. Seluruh hasilnya akan saya serahkan untuk membayar sewa."
Ah-Kuat terkekeh dingin. "Saudara? Di Montrado tak ada saudara jika sudah berurusan dengan pajak! Kau tidak bayar, maka hakmu atas tambang dan seluruh saluran air ini hangus! Penyewa telah memutuskan, parit-parit air ini disita!"
"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan berlari keluar, matanya menyala. "Saluran air ini digali sendiri oleh suami saya dan orang-orang tua kita! Kami menahan alur sungai dengan darah dan keringat! Kalau air ini disita, bagaimana ladang kami bisa tumbuh? Bagaimana anak kami makan?"
"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat. "Air ini akan dialirkan untuk kuli-kuli baru di Kulor!"
Dada saya bergemuruh. Amarah yang terpendam bertahun-tahun membakar kesadaran saya. Saya melihat para algojo mulai mengayunkan cangkul, menghancurkan pematang air (kim-kheo) yang telah saya rawat saban hari.
"Jangan sentuh air itu!" teriak saya histeris.
Tanpa berpikir panjang, saya menerjang algojo terdepan. Namun tubuh saya yang kurus kering karena kurang makan tak berdaya menghadapi kekerasan. Seorang algojo mendorong saya dengan kasar. Tubuh saya terlempar, dan kepala saya menghantam batu padas tajam di tepi parit air.
Krak!
Pemandangan di mata saya mendadak berubah merah. Rasa hangat mengalir deras dari pelipis saya, merembes cepat ke dalam parit air leding yang jernih.
"A-Chai!" jeritan histeris Mei-Lan terdengar jauh, seolah datang dari balik awan.
Saya terbaring tak berdaya. Dalam samar, saya melihat darah saya sendiri melarut di dalam air—air yang selama ini saya gunakan untuk mencuci emas dan menyiram ubi makanan babi kami. Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap saya tanpa sedikit pun iba sebelum melangkah pergi membawa serombongan algojonya.
Mei-Lan berlutut di samping saya, memangku kepala saya yang bersimbah darah. Air matanya menetes panas di pipi saya.
"Mei-Lan..." bisik saya dengan sisa napas yang kian sesak. "Bawa anak kita... lari ke perkampungan Dayak di hulu..."
"Tidak, A-Chai! Jangan tinggalkan kami!"
"Pergilah..." ceguk saya, merasakan dingin yang teramat sangat merayapi dada. "Tanah ini... telah dikutuk oleh emas... Jangan biarkan anak kita mati sebagai kuli di parit-parit jahat ini..."
Mata saya pelan-pelan makin memberat. Cahaya matahari pagi di Montrado perlahan padam. Di dalam parit yang mengalir tenang, darah seorang san-khe miskin hanyut terbawa arus—menjadi tumbal bisu dari serakahnya pajak, buruknya hukum kolonial, dan nasib tragis bangsa kami di tanah perantauan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar