Senin, 21 September 2026

Cerpen : Kutuk Lumpur Kulor

Malam di Montrado selalu menyimpan sunyi yang berat, seberat lumpur emas yang dikikis para kuli di parit-parit leding. Di dalam sebuah pondok beratap rumbia yang lembap, A-Chai menatap telapak tangannya yang kapalan dan tercemar jelaga. Di atas meja kayu yang lapuk, selembar kertas berstempel merah berpendar suram disinari temaram lampu minyak.

Itu adalah surat dari sang penyewa—seorang pachter yang bertindak bak raja kecil menggantikan kedudukan Kongsi Thai Kong yang dibubarkan beberapa tahun lalu.

"Berapa lagi yang dia minta, A-Chai?" suara Mei-Lan, istrinya, memecah kesunyian. Perempuan itu menyusui bayi mereka yang terbatuk-batuk kecil di sudut pembaringan.

A-Chai mendengus getir, melempar kertas itu ke meja. "Satu gulden per bulan. Dia bilang ini pajak untuk sepuluh orang pekerja di tambang Kulor. Padahal, enam orang sudah kabur minggu lalu karena air sungai mengering dan emas tak lagi tampak."

"Tapi kita tidak punya uang sebesar itu!" jerit Mei-Lan pelan, takut membangkitkan amarah kegelapan malam. "Hasil panen padi di ladang belakang juga belum genap ditumbuk. Orang-orang Dayak di hulu kemarin datang meminta bagian sewa tanah dalam bentuk natura, sesuai janji kita saat pertama kali membuka hutan ini!"

"Aku tahu, Mei-Lan. Aku tahu!" A-Chai mencengkeram rambutnya yang kusam. "Tapi si pachter tidak mau peduli. Dia bilang, kalau besok uang sewa dan tunggakan persekot tidak dilunasi, dia akan menyita seluruh leding dan kolam penyimpanan air kita. Bahkan tanah pertanian ini akan diserahkan kepada orang lain!"

Tragedi itu membayang jelas di mata A-Chai. Dahulu, ketika Kongsi Thai Kong masih berjaya, pimpinan kongsi memeras mereka dengan menaikkan pajak sesuka hati setiap kali tambang mereka mulai menunjukkan hasil. Kini, setelah kongsi runtuh dan Gubernemen Eropah mengambil alih, nasib mereka bukannya membaik. Pemerintah di kota membuat aturan Staatsblad yang berbunga-bunga, tetapi di ceruk Montrado ini, hukum hanyalah cambuk di tangan sang penyewa.

Keesokan harinya, kabut tebal masih menggantung di atas bukit ketika langkah kaki berderap menghampiri pondok A-Chai. Seorang pria berbadan tegap dengan pakaian sutra hitam melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Di belakangnya, berdiri tiga orang algojo berwajah dingin membawa parang panjang. Dia adalah Ah-Kuat, tangan kanan sang penyewa.

"A-Chai!" panggil Ah-Kuat dengan suara nyaring memecah udara pagi. "Bawa keluar emasmu, atau serahkan surat tanah ini!"

A-Chai keluar dengan tubuh gemetar, diikuti Mei-Lan yang memeluk erat anaknya.

"Tuan Ah-Kuat, kasihanilah kami," puji A-Chai sambil membungkuk dalam-dalam. "Hujan belum turun berbulan-bulan. Leding kami kering, kami tidak bisa mendulang emas. Biarkan kami mengolah ladang ini dulu. Hasil panen padi nanti akan kami serahkan seluruhnya untuk mencicil utang persekot itu!"

Ah-Kuat tertawa terkekeh, suara tawa yang tak menyentuh matanya. "Hukum Staatsblad atau aturan kongsi, semuanya sama saja di sini, A-Chai! Kau tidak bayar sewa, maka hakmu atas tambang dan air ini hangus! Mulai hari ini, leding air dan kolam penampungan ini disita!"

"Tidak bisa begitu, Tuan!" Mei-Lan memotong, matanya menyala oleh keputusasaan. "Air leding itu digali sendiri oleh suami saya bersama warga kampung! Kami membendung sungai kecil itu dengan keringat kami sendiri! Kalau air disita, dengan apa kami menyiram ladang? Bagaimana bayi kami bisa hidup?"

"Perempuan tidak usah ikut campur!" bentak Ah-Kuat dingin. "Penyewa telah memutuskan. Leding air ini akan dijual kepada rombongan kuli baru dari Kulor. Kalian, jika ingin tetap tinggal di tanah ini, harus bekerja menjadi kuli gaji harian!"

"Ini tanah yang diizinkan oleh Tua Kampung Dayak kepada kami!" teriak A-Chai, kehilangan kesabarannya. "Kami tidak merugikan siapapun! Kenapa kalian begitu tega memeras orang sesuku sendiri?"

"Hakmu sudah mati sejak kau menunggak pajak, A-Chai!" Ah-Kuat memberi isyarat kepada para algojonya. "Bongkar pematang air itu! Alirkan airnya ke tambang sebelah selatan!"

"Jangan!" jerit A-Chai.

Tanpa berpikir panjang, A-Chai berlari menerjang algojo yang memegang cangkul di dekat parit utama. Namun, nasib buruk telah merantai orang-orang kecil di Montrado. Seorang algojo mendorong A-Chai hingga terjatuh keras ke atas batu padas yang tajam. Kepala A-Chai membentur sudut batu, menyemburkan darah segar yang mengalir cepat masuk ke dalam parit air leding yang jernih.

"A-Chai!" Mei-Lan menjerit histeris, menjatuhkan dirinya ke samping tubuh suaminya yang terkulai.

Darah A-Chai mewarnai alur air yang selama ini dia rawat dengan susah payah. Pria itu memegangi dada suaminya yang bergerak kian lemah, menatap langit Montrado yang terasa begitu asing dan kejam.

Ah-Kuat hanya meludah ke tanah, menatap dingin pada tubuh yang sekarat itu. "Lelaki bodoh. Selalu saja ada yang mati demi sepetak tanah yang bahkan bukan milik mereka."

Tanpa sedikit pun rasa iba, Ah-Kuat dan para pengawalnya berjalan pergi meninggalkan perkarangan itu, melangkah melintasi parit-parit emas yang kini menyerap darah pembukanya.

A-Chai menatap istrinya dengan pandangan yang mulai kabur. Tangannya yang berdarah terangkat lambat, menyentuh pipi Mei-Lan yang basah oleh air mata.

"Pergilah... Mei-Lan..." bisik A-Chai dengan nafas yang terseok-seok. "Bawa anak kita... pergi ke perkampungan Dayak di hulu gunung... Jangan pernah... jangan pernah kembali ke tambang ini... Tempat ini... telah dikutuk oleh emas dan ketakutan..."

"Tidak, A-Chai! Jangan tinggalkan kami!" tangis Mei-Lan pecah, menggema di antara pepohonan rimba Montrado.

Namun, mata A-Chai perlahan terpejam. Nafas terakhirnya berhembus bersama angin pagi yang dingin. Di parit pengairan yang tenang, warna merah darahnya perlahan memudar, larut dan terbawa arus air leding menuju tambang-tambang emas di hilir—menjadi saksi bisu atas tradisi penindasan, hukum yang pincang, dan nasib tragis para jiwa kecil yang tergilas di tanah Montrado.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Ratapan di Parit Montrado

Kabut tebal menggantung rendah di atas perbukitan Kulor, menudungi duka yang merayap diam-diam di sebuah rumah panggung beratap rumbia. Di d...