Aroma tanah basah dan jelaga bekas pertempuran masih melekat erat di udara. Namaku Sujang, seorang pemuda dari Mempawah. Di tangan kananku, sebongkah kayu berukir dan beberapa helai bulu burung enggang tergenggam erat. Malam itu, di tengah alun-alun Thang yang biasanya legam oleh kegelapan, api unggun besar membumbung tinggi, memunculkan bayang-bayang panjang yang menari di atas dinding-dinding bangsal kayu.
Malam itu bukan malam biasa. Orang-orang kulit putih—para serdadu Kompeni Belanda yang dipimpin oleh seorang perwira jangkung bernama Kapten van Houten—mengumpulkan kami. Bukan untuk mengarahkan moncong meriam atau mengacungkan bayonet, melainkan untuk menyaksikan kami menari.
Rakyat Dayak Mempawah diminta membawakan tarian pengayau, tarian perang para pemenggal kepala.
Aku berdiri di barisan depan bersama sepuluh pemuda lainnya. Di pinggulku terikat rotan melingkar menyerupai rok bersimpai, dan selembar rompi kain menutupi dadaku. Di sudut alun-alun, tiga buah tom-tom dan seperangkat gamelan berbahan perunggu mulai dipukul. Musik bernada tunggal itu terdengar konstan, berat, dan gaung basnya menembus dada, menyerupai bunyi dentang lonceng dari kejauhan.
Sambil melontarkan teriakan tajam ke udara, kami melompat serentak membentuk lingkaran. Kami mengepakkan kedua lengan ke atas dan ke bawah, meliuk-liuk menirukan burung buas yang sedang mengintai mangsanya dari langit. Kami terbang, menyingkir, berlari, lalu menukik tajam seolah hendak menerkam nyawa.
Di tengah lingkaran kami, tak ada kepala musuh yang dipajang. Biasanya, jika tarian ini dibawakan di kampung-kampung tanpa adanya kepala manusia di tengahnya, para tua-tua akan melarangnya. Kami khawatir nafsu mengayau akan membakar darah young kami hingga kami merasa wajib menyerang kampung tetangga. Namun malam ini berbeda. Mata Van Houten dan perwira-perwira Kompeni memperhatikan setiap gerakan kami tanpa berkedip. Ada rasa kagum sekaligus gentar yang tersirat di mata mereka. Mereka melihat kebuasan dan kelembutan menyatu dalam gerak tubuh kami.
Bagi mereka, tarian kami mungkin sekadar tontonan eksotik untuk merayakan hilangnya dahaga perang. Namun bagiku, tarian ini adalah cara kami menjaga martabat. Tanah Montrado ini telah terlalu banyak minum darah.
Beberapa minggu sebelum malam perayaan itu, tanah ini membara. Pertikaian antara Kompeni dan orang-orang kongsi Cina telah menghancurkan perkampungan dan ladang-ladang padi. Kami, rakyat Dayak dan Melayu, terjebak di antara dua gajah yang saling bertarung. Namun, perang itu akhirnya usai ketika benteng-benteng kongsi diratakan dan hukum baru dipancangkan.
Aku ingat betul hari ketika peraturan pemerintah baru diumumkan di Thang. Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah duduk di panggung kehormatan bersama para kapitan Cina yang mengenakan jubah sutra berat. Muka para kapitan itu pucat pasi. Kekuasaan kongsi yang bertahun-tahun mencengkeram pertambangan emas dan jalan-jalan perdagangan, dibubarkan dalam sekejap mata oleh maklumat Belanda.
Eksekusi mati di tiang gantung terhadap para pemimpin pemberontak telah mematahkan nyali mereka. Aku menyaksikan sendiri bagaimana sepuluh kepala pemberontak dipenggal dan ditancapkan di atas tiang kayu selama dua minggu di tepi jalan. Bagi orang-orang Cina, hukuman pemenggalan kepala itu adalah mimpi buruk yang teramat mengerikan. Mereka percaya, tanpa kepala dan kuncir rambutnya, roh mereka tak akan bisa ditarik oleh Kon-fu-cu menuju surga. Hukuman itu membuat mereka sangat ketakutan, jauh lebih takut daripada sekadar dihukum gantung.
Bahkan, aku mendengar cerita unik dari para pedagang di pasar. Karena merasa terharu dan kasihan pada jasad rekan-rekannya yang terpenggal, orang-orang kongsi secara sembunyi-sembunyi membuat kepala tiruan dari kayu dan kertas, lengkap dengan kuncir sutra yang indah. Mereka memasangkannya ke jasad kawan mereka sebelum dikuburkan, berharab bisa menipu dewa-dewa agar roh kawan mereka tetap bisa diselundupkan masuk ke surga.
Kini, masa-masa kelam itu perlahan memudar. Kompeni mulai memaksa warga kampung untuk bekerja bakti membangun jalan raya. Rute jalan setapak berliku yang dulu menjadi sarang jebakan dan persembunyian gerilya, kini diratakan dan diperlebar. Jalan raya baru membentang menghubungkan Singkawang, Montrado, hingga Pangkalan Batu di tepi Sungai Raya.
Awalnya, banyak warga kampung dan pekerja tambang yang mencoba lari dari kewajiban membangun jalan. Para kapitan bahkan membuat alasan-alasan konyol, seperti tidak mau meratakan tanggul benteng rumah kongsi karena masih menggunakannya untuk menjemur kain cucian. Namun, ketegasan Van Houten yang dijuluki 'Kapten Penyerang' tak bisa ditawar. Siapa pun yang membangkang akan merasakan pukulan rotan atau hukuman yang lebih berat.
Hasilnya mulai terlihat. Roda-roda pedati dan derap kaki kuda kini meramaikan jalan-jalan yang dulu sepi dan mencekam. Perahu-perahu muatan berdayung menyusuri Sungai Raya selama berjam-jam membawa beras, garam, dan barang dagangan dari pantai. Pasar Montrado yang dulu suram, kini kembali bernapas.
Malam festival itu menjadi bukti bahwa kehidupan telah kembali. Usai tarian kami selesai, alun-alun semakin riuh. Suara gelak tawa memecah malam. Di sudut panggung lain, pertunjukan wayang Cina digelar dengan nyanyian merdu primadona laki-laki yang memikat penonton. Tak jauh dari sana, para serdadu Eropa sibuk tertawa menyaksikan perlombaan panjat pinang dan balap karung. Pelawak-pelawak asal Jawa dan Madura bertanding melempar kelakar konyol, sementara orang-orang Afrika melakukan atraksi akrobat melompati kerumunan.
Warna-kulit dan bahasa yang berbeda-beda malam itu melebur dalam kegembiraan yang sederhana. Kami, warga tempatan yang awalnya berdiri canggung di tepi lapangan, perlahan mendekat dan ikut berbaur. Para prajurit yang biasanya garang dengan senapan di tangan, malam itu meneguk minuman pertama mereka sambil bersulang untuk ketenangan yang baru lahir.
Aku berjalan melintasi kerumunan dan berpapasan dengan Kapten van Houten. Tubuh perwira itu tampak makin kurus, matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat akibat demam tropis yang terus menggerogoti fisiknya. Namun, tatapan matanya tetap tenang dan berwibawa. Ia menangguk pelan padaku, sebuah isyarat rasa hormat yang jarang ditunjukkan oleh seorang penguasa berkulit putih kepada pemuda suku tempatan seperti aku.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa Kapten van Houten harus berlayar pulang ke negerinya karena sakit keras. Tugasnya sebagai Asisten Residen digantikan oleh Kapten Verspijck. Hari ketika keretanya pergi meninggalkan Montrado, aku berdiri di tepi jalan raya yang baru selesai dibangun.
Aku memandangi kereta kuda itu berlalu menembus debu jalanan. Di tanah ini, perang telah usai. Meskipun kami harus hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan bangsa asing, aku tidak bisa memungkiri bahwa jalan-jalan lebar yang terhampar, pasar yang ramai, dan malam-malam tanpa ketakutan akan serangan mendadak adalah warisan yang ditinggalkannya.
Sambil memegang ukiran kayu di pinggangku, aku berbisik dalam hati. Biarlah pedang dan meriam beristirahat di dalam tanah. Bumi Montrado ini telah cukup menderita, dan kini saatnya bagi kami untuk merawat kedamaian yang tersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar