Senin, 21 September 2026

HIKAYAT NE’ DUNIANG: RATAP IBU DI ATAS TANAH KAYANGAN

Berdasarkan teks naskah asli di atas, tokoh ibu dari Baruakng Kulup tertulis sebagai Ene' Duniang atau Ne' Duniang (bukan Nek Binuang) [180].

Sebermula, maka inilah suatu kisah yang dipersembahkan daripada mulutku, Ne’ Duniang, yang memeliharakan rahasia purba kala di atas puncak kayangan. Biarlah sekalian manusia di bumi mendengar, bagaimana kepiluan seorang ibu atas takdir anak lanangnya yang membawa berkat sekaligus petaka ke dunia fana.

Syahdan, pada masa dahulu kala, aku ini dinobatkan oleh orang-orang dunia sebagai istri kepada Ene’ Panitah yang maha sakti. Akan tetapi, ketahuilah olehmu wahai anak cucu, bahwa sesungguhnya kami tiada pernah bercampur dan bersetubuh layaknya laki-isteri yang beroleh syahwat dunia. Rahimku ini sunyi, sepi bagai malam yang tiada berbintang. Maka tatkala kesunyian itu tiada tertahankan lagi olehku, bersujudlah aku seraya menadahkan tangan ke atas langit, menyembah Yang-Yang si Jubata [180].

Maka sembahku dengan hati yang remuk, "Wahai Tuanku Sang Jubata yang memegang tiang semesta, karuniakanlah apalah kiranya bagi hamba ini seorang anak, supaya ada yang meramaikan pondok ladang ini." [180]

Maka dengan takdir serta kun fayakun Sang Pencipta, seketika itu juga menjelmalah sesosok anak laki-laki yang elok parasnya di hadapanku. Tiada ia dibentuk dalam rahimku, namun demi menatap matanya, tumpahlah segenap kasih sayangku. Lalu kami namai akan dia Baruakng Kulup [180].

Hatta, demi Baruakng Kulup itu tumbuh menjadi remaja, hatinya senantiasa rindu dendam hendak turun bermain-main ke bumi fana. Maka kuizinkan ia pergi dengan hati yang was-was. Di bawah sana, ia bermain judi gading, panca, dan menyumpit bersama Ne’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit [180]. Anakku senantiasa menang, hingga pada suatu hari, takdir malang mula mengintai. Tanpa diketahuinya, sebutir padi yang suci dari ladang kayangan kami telah melekat pada tulang keringnya tatkala ia turun ke bumi [180].

Maka tatkala butir padi itu dimakan oleh Ne’ Umang-Umang, kalahlah anakku dalam permainan [180]. Di sanalah bermula petaka itu. Manusia bumi yang serakah membujuk anakku agar menyelundupkan padi suci itu ke bumi [181].

Aduhai, seketika itu runtuhlah duniaku! Aku yang sedang duduk tenang di pondok ladang dikejutkan oleh Baruakng Kulup yang berlari terengah-engah, "Cepat, Ibu, mari kita pulang! Jangan duduk di sini saja sampai menumpahkan padi. Nanti Ayah bisa marah!" [181]

Rupanya, anakku yang bebal namun berhati mulia itu telah menyembunyikan sebutir padi di dalam kemaluannya demi menghidupi manusia bumi yang kelaparan [182]. Namun, tiada suatu pun yang luput dari pandangan Ene’ Panitah yang tajam bagai elang. Demi suamiku mendapati ada tanaman padi tumbuh menghijau di bumi manusia pada bulan keenam hingga kedelapan, meledaklah amarahnya yang dahsyat [182].

Maka bentak Ene’ Panitah kepadaku dengan mata menyala-nyala, "Coba lihat apa yang dilakukan Baruakng Kulup di bawah sana! Dia telah memberikan padi kita kepada manusia. Ini semua karena kau tiada waspada menjaga anak laki-laki itu tatkala bermain!" [182]

Maka aku pun menangis tersedu-sedu, air mataku laksana air terjun yang tiada membendung duka. Kataku dengan ratap yang pilu, "Aduhai, apalah yang dapat kita perbuat sekarang?" [182]

Suamiku menjawab dengan bengis, "Tunggu saja, aku akan memasang tombak lompat untuk membunuh anak itu!" [182]

Mendengar hal itu, hancurlah hatiku sebagai seorang ibu. Tiada rela aku melihat anak yang kupohonkan dari Sang Jubata mati di tangan ayahnya sendiri. Maka sambil berpura-pura duduk membersihkan rambut kepalaku dan terus menangis, mataku tajam melirik ke arah bumi [182]. Aku melihat bayangan Baruakng Kulup hendak kembali naik ke kayangan [182].

Maka dengan segenap daya muslihatku, kugeserlah bangkai seekor babi betina tua tepat ke arah mata tombak jebakan itu [182]. Demi anakku tiba dengan langkah yang sunyi mengendap-endap, aku berbisik di balik angin malam, "Larilah, Baruakng! Kau bersalah telah memberi manusia padi! Ayahmu hendak membunuhmu!" [182]

Maka selamatlah anakku daripada maut, sedang tombak itu hanya menembus bangkai babi betina [182]. Sebelum ia lari sejauh-jauhnya, sempatlah aku menitipkan pesan terakhir, "Hati-hatilah anakku, jika engkau mengambil jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan. Tetapi jika ke kiri, engkau menuju ke arah manusia." [183]

Akan tetapi, takdir tiada dapat ditolak. Anakku tersesat ke jalan yang lurus dan menikah di alam arwah Subayan dengan Ne’ si Putih [183]. Demi ia kembali kepadaku dan mengadu bahwa istrinya melahirkan sewakul penuh burung, aku pun kembali memberikannya helah (tipu muslihat) agar ia mencabut rambut putih di kepala istrinya supaya mereka bercerai, karena masanya di alam kematian belumlah tiba [183, 184]. burung-burung itulah yang kemudian dinamai Keto', Jantek, dan lainnya, sebagai petunjuk berladang bagi manusia [184].

Kalakian, anakku pun turun ke bumi, menikah dengan Jamani dan beroleh cucu bagiku bernama Kuling Langit [185]. Sebelum anakku naik kembali ke atas menemui aku, ia telah berpesan agar cucuku jangan melanggar suara abang-abangnya (burung peramal) [185].

Maka pada suatu hari yang malang, cucuku Kuling Langit bersikap tegar hati memanjat pohon langsat, melanggar pantang dan isyarat buruk dari burung Keto’ dan Jantek sampai tiga kali berturut-turut [185, 186]. Maka terjatuhlah ia—debuk!—lalu tewas di atas batu-batuan [186].

Melihat jasad cucuku dibawa terbang oleh burung-burung peramal naik ke kayangan, tangisanku kembali pecah membelah langit [186]. Hatiku hancur melihat cucuku terbujur kaku. Namun, Ene’ Panitah yang melihat keteguhan burung-burung itu akhirnya luluh, lalu dibangkitkannya kembali Kuling Langit dari kematian untuk hidup abadi bersama kami di kayangan [186].

Kini, tinggallah aku di atas kayangan yang sunyi ini, memandang ke bawah, ke arah bumi fana. Anakku, Baruakng Kulup, telah kutitahkan kembali ke tengah-tengah manusia untuk mengajarkan ketentuan adat dan bahasa burung peramal [186]. Walau raganya tiada lagi di sisiku, namun hatiku tenteram melihat setiap kali manusia bumi menanam padi dan mendengar suara burung di hutan, mereka sedang merawat warisan cinta dan pengorbanan yang kuperjuangkan bagi anakku, Baruakng Kulup.

Maka tamatlah Hikayat Ne’ Duniang.


Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...