Senin, 21 September 2026

Cerpen: Gema di Tanah Montrado

Bau lumpur, bau mesiu, dan bau keringat bercampur pekat di udara pesisir Borneo Barat. Kapitan Tan berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke arah muara Sungai Slakouw, matanya menatap tajam ke arah vegetasi rimbun yang membentang di bawahnya. Jauh di masa lalu, hampir satu abad yang lalu, nenek moyangnya tiba di tanah ini. Saat itu, kapal berbongkah aneh yang mereka tumpangi jatuh jangkar di tepi berpayah Sambas. Dengan tubuh kurus, wajah pucat, dan lutut yang menyentuh tanah, mereka bersimpuh di hadapan Sultan Umar Alamudin, memohon secarik tanah kecil untuk sekadar membangun pondok dan mengadu nasib.

Sultan yang baik hati memberi mereka ruang di Laskar Larah. Berbekal impian akan lapisan emas surgawi yang tersembunyi di dalam perut bumi, orang-orang Kanton dan Hokian itu menggali tanpa kenal lelah. Berita manis tentang kilau emas dengan cepat melintasi lautan, memanggil ribuan rombongan baru. Mereka hidup dalam damai, membayar pajak dengan teratur, dan menikahi gadis-gadis Dayak setempat. Namun, kedamaian itu perlahan terkikis oleh ambisi dan kejayaan yang kian membesar.

Kini, kenangan itu seolah lenyap tergerus zaman. Topeng kesetiaan telah lama ditanggalkan. Perselisihan, perang saudara antar-kongsi, hingga pertumpahan darah pada pesta-pesta adat telah mengubah segalanya. Kongsi-kongsi Cina di Montrado tidak lagi merasa menjadi bawahan; mereka telah tumbuh menjadi kekuatan mandiri yang mengatur hukumnya sendiri, mencetak mata uangnya sendiri, dan menguasai tambang-tambang kaya.

Namun, kapal-kapal bermesin uap dan bersenjata lengkap dari gubernemen Belanda telah merapat. Banner-banner perang Kompeni terkibar. Pertempuran demi pertempuran di Pemangkat dan Singkawang telah membuktikan bahwa tentara kolonial tidak lagi datang untuk berdiplomasi dengan penuh kesabaran, melainkan untuk menegakkan penundukan total.

"Kapitan, pasukan Belanda sudah berhasil menembus rawa-rawa Singkawang!" seru seorang prajurit kongsi dengan napas terengah-engah, memutus lamunan Kapitan Tan. "Mereka berjalan empat hari penuh di atas tanah liat yang digenangi air laut. Pasukan Tirailleur mereka merayap di antara semak belukar, bahkan tidur di atas dahan-dahan pohon kerdil saat hujan deras mengguyur malam. Mereka telah menguasai Kulor!"

Kapitan Tan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Berita mengenai kekalahan di benteng-benteng Kulor adalah pukulan telak. Kapten Nauta dari pihak Belanda telah mengerahkan mortir dan meriam, menyeberangi sungai selebar sepuluh ela di bawah hujan peluru, dan memaksa para pejuang kongsi mundur sambil membakar pasar mereka sendiri hingga menjadi puing-puing berasap.

"Apakah para kepala kongsi masih bermaksud bertahan?" tanya Kapitan Tan, suaranya terdengar berat dan serak.

"Banyak pejuang yang melarikan diri ke pegunungan, Kapitan," jawab prajurit itu dengan waut wajah panik. "Surat ancaman yang kita kirim tanggal 23 Mei lalu—yang menyatakan bahwa kita lebih baik membakar seluruh rumput daripada tunduk—ternyata tidak menghentikan langkah Letnan Kolonel Andresen. Pasukan Belanda terus maju. Di Lohabang, pasukan Mayor de Brabant berhasil memukul mundur serangan balik kita. Sekarang, pasukan besar mereka sedang bergerak langsung menuju Montrado."

Kapitan Tan menghela napas panjang. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar derap langkah ribuan prajurit, dentuman meriam, dan kepulan asap yang makin mendekat. Ia membayangkan 1.700 prajurit infanteri Belanda yang diangkut oleh kapal-kapal perang seperti Celebes, Borneo, dan Onrust, dilengkapi dengan ratusan senjata api, howitzer, dan granat tangan. Kekuatan tempur itu terlalu besar untuk ditahan oleh kongsi yang kini terpecah belah dan kehabisan pasokan.

Ia berjalan memasuki Balai Kongsi Montrado. Di sana, para sesepuh dan tetua kota berkumpul dengan wajah muram. Kertas-kertas perjanjian lama dan pundi-pundi emas tersebar di atas meja, tak lagi memiliki arti di hadapan moncong meriam yang kian merapat.

"Tidak ada lagi tempat untuk berlari," ucap salah seorang tetua dengan suara gemetar. "Gubernemen Belanda telah mengeluarkan pengumuman. Jika kita ingin selamat, kita harus menyerahkan diri dan meminta ampun. Jika kita terus melawan, Montrado akan diratakan dengan tanah, sama seperti yang terjadi di tempat lain."

Seorang tetua lain menimpalinya dengan getir, "Raja-raja Melayu tak lagi bisa melindungi kita, dan kekuatan kita sendiri telah habis dimakan perang saudara dan kepungan tentara Belanda. Apakah kita harus mengorbankan anak dan istri kita demi pride kongsi yang sudah runtuh?"

Ruangan itu hening sejenak. Kapitan Tan menatap bendera kongsi yang tergantung di dinding balai. Dulu, dengan bendera ini mereka merasa menang, menyambut pasukan kolonial dengan musik dan tembakan kegembiraan yang berpura-pura tunduk. Namun kali ini, permainan berpura-pura itu telah mencapai ujungnya. Pilihan yang tersisa hanyalah pemusnahan total atau penyerahan diri secara mutlak.

"Siapkan utusan," kata Kapitan Tan akhirnya, keputusan berat itu terasa mengganjal di tenggorokannya. "Kirim duabelas warga terpenting dari Montrado untuk menemui pihak Belanda. Katakan bahwa orang-orang yang mengobarkan perang telah melarikan diri ke hutan, dan yang tersisa di Montrado hanyalah warga sipil yang menginginkan kedamaian."

Prajurit dan tetua yang mendengar keputusan itu tertunduk, namun ada raut lega di wajah mereka. Nasib telah berputar. Satu abad setelah leluhur mereka tiba sebagai orang-orang yang memohon belas kasihan di hadapan Sultan, kini anak cucu mereka harus kembali berlutut, kali ini di hadapan penguasa baru yang membawa persenjataan modern dari Eropa.

Tanggal 2 Juni 1854, matahari terbit melintasi langit Montrado dengan cahaya keemasan yang redup. Tidak ada dentuman meriam yang menyambut pagi itu. Sebagai gantinya, keheningan yang mencekam menyelimuti jalan-jalan utama kota.

Dari arah Lohabang, barisan panjang pasukan Letnan Kolonel Andresen bergerak masuk dengan langkah tegap. Baju seragam mereka ternoda tanah liat dan air rawa, namun senapan dan bayonet mereka berkilat tertimpa sinar matahari. Di barisan paling depan, tiga puluh tokoh terpenting Montrado berjalan perlahan, mengenakan pakaian putih polos sebagai lambang duka dan penyesalan.

Di sepanjang tepi jalan, ratusan petani, penambang, dan penduduk Montrado bersimpuh di atas tanah. Mereka menundukkan kepala, membiarkan tubuh mereka bersentuhan dengan debu, persis seperti yang disyaratkan dalam perintah penyerahan diri.

Kapitan Tan berdiri di barisan paling depan di antara para tetua yang berlutut. Saat roda meriam dan derap sepatu bot tentara Belanda melintas di hadapannya, ia memejamkan mata. Selama satu setengah jam penuh, pasukan kolonial berbaris melintasi kota tanpa ada satu pun peluru yang dilepaskan. Era kebebasan kongsi-kongsi mandiri di tanah Montrado resmi berakhir, terkubur di bawah bayang-bayang kekuasaan baru yang kini memegang kendali penuh atas bumi Borneo Barat.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...