Senin, 21 September 2026

Hikayat Sang Penempa Besi dan Derap Takdir Rimba

Maka tersebutlah kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang mahaluas lagi lindap oleh pohon-pohon ulin nan menjulang ke angkasa. Adapun negeri itu bernama Bantang Salako, sebuah petempatan tempat anak cucu leluhur bermukim, berladang, dan mengagungkan adat tradisi yang diwariskan turun-temurun. Alkisah, di luar lingkaran para tetua organisasi dan pengurus adat yang duduk di balai, terdapatlah hamba-hamba yang memegang keahlian khusus yang dinamai tukang.

Hamba yang empunya cerita ini bernama Utan, seorang yang dikaruniai bakat oleh Dewara untuk menjadi Tukang Tampo—atau yang kerap pula disapa oleh warga bantang sebagai tukang pantotn, yakni seorang pandai besi. Hamba bukanlah seorang pamane atau pamaiotn yang sanggup memanggil roh pahiangan tatkala malam mencekam, bukan pula seorang pangarabanan yang mampu menyambut bayi yang baru terbit ke dunia. Hamba hanyalah seorang peladang biasa yang tangannya berteman dengan bara api, landasan besi, serta dentang tempaan kuali. Namun demikian, tanpa tempaan dari jemari hamba, tiada satu pun parang, beliung, maupun kapak yang dapat menembus keperawanan hutan untuk dijadikan ladang padi.

Maka tatkala musim berladang kian menghampiri, gubuk penempaan hamba yang terletak di hujung kampung tidak pernah sepi dari keriuhan. Asap hitam membubung tinggi ke udara, membaur dengan wangi daun-daun kering yang terbakar. Orang-orang dari segenap pelosok bantang datang berduyun-duyun membawa perkakas besi milik mereka yang telah tumpul, retak, atau patah putingnya. Mereka datang memohon bantuan hamba untuk natari’—yakni membetulkan dan merawat kembali bilah-bilah besi yang menjadi urat nadi kehidupan di rimba.

Maka pada suatu hari, tatkala matahari baru sahaja merambat setinggi pohon pinang, datanglah seorang peladang muda bernama Beli membawa sebuah parang tua yang amat tumpul dan karatnya telah memakan mata besi.

"Wahai Paman Utan, Tukang Tampo yang arif," kata Beli seraya menyerahkan parang itu dengan kedua belah tangannya. "Musim baketo sudah di ambang pintu. Hamba mohon sudilah Paman membaiki parang pusaka ini, kerana tanpa parang ini, tiadalah sanggup hamba menebas semak dan membuka ladang untuk anak bini hamba."

Hamba mengambil parang itu, menimangnya sejenak, lalu menatap mata Beli. "Wahai anak muda," ujar hamba dengan suara berat berselimut debu arang. "Ketahuilah olehmu, pekerjaan natari’ ini bukanlah sekadar menghembus ubupan dan memukul besi panas. Ada takdir yang tertulis di atas landasan besi ini. Sebelum ritual baketo diselenggarakan oleh kampung, perkakasmu ini pasti akan siap. Namun ingatlah, besi yang kutempa ini harus engkau suci dan diurapi (di-caek) kelak dalam upacara baketo, supaya ia tidak memakan tuannya sendiri sewaktu engkau bekerja di ladang."

Maka Beli pun membongkokkan badan, mengucapkan terima kasih lalu beredar dari tempat penempaan hamba. Tinggallah hamba seorang diri di hadapan tungku api yang membara. Maka hamba mulai menjepit parang tua itu dengan penyepit besi, membenamkannya ke dalam bara arang yang merah menyala. Hamba tarik dan dorong tangkai ubupan, menghembuskan angin ke jantung api hingga nyalanya menjulang berwarna kebiruan.

Tatkala besi itu telah menjadi merah membara bagaikan lidah naga, hamba mengangkatnya cepat-cepat dan meletakkannya di atas landasan ulin yang dilapisi plat tembaga. Tuk! Tak! Dentang! Dentang!

Suara pukulan palu hamba bergema membelah kesunyian Bantang Salako. Setiap kali palu berat itu menghantam besi yang membara, percikan api memercik ke udara bagaikan bintang-bintang jatuh di siang hari. Bagi hamba, setiap dentang pukulan adalah sebuah doa pendek. Hamba menempa tidak hanya dengan otot, melainkan dengan jiwa. Hamba membentuk kembali siku-siku besi yang tumpul, meratakan matanya yang sumbing, dan menyatukan kembali retak-retak kecil yang tersembunyi.

Di tengah-tengah hamba sibuk menempa, datanglah melintas seorang perempuan tua yang amat dihormati di kampung kami, yakni Mak Sumi, seorang Tukang Pangarabanan atau bidan kampung. Beliau sedang berjalan terburu-buru menuju ke rumah seorang warga yang istrinya hendak melahirkan (bapero’). Mak Sumi berhenti sejenak di hadapan pondok penempaan hamba, menatap parang tua yang sedang hamba tempa.

"Wahai Tukang Tampo," kata Mak Sumi seraya tersenyum tipis. "Bagus benar tempaanmu hari ini. Jangan lupa, jika ada parang yang patah putingnya, sisakan satu untukku. Hamba memerlukannya untuk dipantakkan ke tanah di samping pintu rumah orang yang melahirkan, lengkap dengan coretan kapur sirih, agar hantu bantianak tidak berani datang mengganggu persalinan."

Hamba tertawa pelan seraya menyapu peluh di dahi dengan belakang lengan yang berjelaga. "Tenanglah, Mak Pangarabanan. Besi patah dan tua ada beronggok di sudut pondok ini. Ambillah mana yang engkau hajati demi keselamatan ibu dan bayi di bantang kita ini."

Maka Mak Sumi pun berlalu dengan tergesa-gesa. Hamba kembali menyepuh parang milik Beli. Hamba celupkan bilah yang membara itu ke dalam gentong air dingin yang telah dicampur dengan racikan daun-daun kuno. Suara desss! bergema nyaring, diiringi kepulan uap putih yang membumbung tinggi. Besi itu kini telah keras, tajam, dan siap untuk mengabdi pada tanah.

Hari berganti hari, dan malam pun menjelang. Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara dentuman dau, tiga buah gong, suben, dan tumo’ bergema dari rumah seorang warga. Itu adalah pertanda bahwa Sang Pamaiotn sedang melangsungkan ritual baiotn untuk mengobati orang sakit, atau mungkin seorang dukun sedang mengadakan ritual badukun dengan mantra Bisimbilah yang memanggil para Jubato.

Hamba menyandarkan palu berat hamba di tepi landasan. Hamba duduk di tingkap pondok, memandangi kegelapan malam yang dibalut lolongan angin rimba. Hamba merenungi betapa indahnya susunan takdir di dalam komunitas suku Dayak Salako ini. Di belantara yang mahaluas ini, setiap jiwa memiliki peranannya masing-masing yang telah ditata oleh Jubato di kayangan.

Para pamane dan pamaiotn menjaga hubungan manusia dengan alam roh dan para Jubato. Para pangarabanan menyambut nyawa baru yang terbit ke bumi. Para pamabore menyembuhkan raga yang lemah dan sakit. Para wanita menganyam tikar gagadokng dan menyusuk atap rumbia (nu’ur). Adapun hamba, Sang Tukang Tampo, berdiri tegak di persimpangan antara besi dingin dan api membara. Hamba bertugas memastikan bahwa alatan yang digenggam oleh jemari para peladang tidak akan mengecewakan mereka tatkala berhadapan dengan ganasnya rimba.

Syahdan, tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, upacara baketo pun dilangsungkan di tengah-tengah kampung. Seluruh peladang berkumpul membawa perkakas besi milik mereka yang telah selesai hamba natari’. Parang, beliung, dan kapak dibariskan dengan rapi di atas tikar anyaman. Minyak sakral diurapkan (di-caek) pada setiap bilah besi yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Doa-doa keselamatan dipanjatkan agar iron-iron perkakas itu tidak mencelakai kaki dan tangan para peladang sewaktu mereka menoreh tanah dan menebang kayu.

Beli, peladang muda itu, menghampiri hamba dengan wajah yang berseri-seri. Ia menggenggam parang pusakanya yang kini telah berkilat tajam bagaikan cermin.

"Paman Utan," kata Beli dengan penuh takzim. "Tengoklah parang ini. Ia bukan lagi besi tua yang mati, melainkan telah bernyawa kembali di tangan Paman. Hari ini hamba siap melangkah ke ladang tanpa rasa waswas."

Hamba menepuk bahu pemuda itu seraya tersenyum bangga. "Pergilah, Beli. Kerjakan ladangmu dengan tekun. Biarlah parang itu menjadi saksi bisu atas keringat dan perjuanganmu menafkahi keluarga. Ingatlah, selama api di pondok penempaan hamba masih menyala, besi-besi di Bantang Salako tidak akan pernah tumpul oleh zaman."

Maka Beli pun melangkah pergi menuju hutan bersama para peladang lainnya, membawa perkakas yang telah disepuh oleh jiwa dan peluh hamba. Hamba kembali melangkah ke pondok penempaan, menggenggam palu kesayangan, dan menarik ubupan. Suara dentang tempaan besi hamba kembali membahana, menyatu dengan desir angin rimba dan nyanyian burung-burung hutan—sebuah hikayat abadi tentang Sang Tukang Tampo yang menjaga nafas kehidupan suku Dayak Salako di bumi Borneo.

Demikianlah hikayat ini tamat diringkaskan.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...