Senin, 21 September 2026

HIKAYAT PARAWAKNG TUJUH: PERI KISAH BUJAKNG ONYES DAN KATA AMANAT DI ATAS BUMI BATUNGKAKNG

Alkisah Peri Mula Cerita, Sebermula maka tersebutlah suatu perkataan hikayat zaman purba kala, zaman nenek moyang yang empunya ceritera adat, peri kebiasaan, dan petunjuk asrar orang-orang Dayak sekaliannya. Adapun kisah yang amat indah lagi sarat dengan hukum tatanan ini mula-mula diturunkan oleh para arif bijaksana dari tanah Parawakng Tujuh. Maka di sanalah konon tempat kedudukan parasiatn, yakni suatu khasiat serta mukjizat spiritual yang amat sakti, yang tiada lain melainkan berasal daripada karunia sakti kaum manusia yang mendiami bumi Bolekng Batungkakng.

Maka pada zaman itu, tersebutlah seorang laki-laki yang menjadi tiang kaum, bergelar ia Mani Amas. Adapun Mani Amas itu orangnya amat perkasa lagi teguh hatinya, lagi pula ia memegang pangkat tuha tahutn, yaitu seorang tetua adat yang dihormati dan dipatuhi segala titah perkataannya oleh segenap isi negeri. Syahdan, Mani Amas itu mempunyai seorang saudara laki-laki yang lebih tua, bernama Ujan Tungal, yang padanya melekat gelar panyanakng kalangkakng, yakni sosok yang menjaga tali darah dan garis keturunan agung agar tiada putus dari satu generasi kepada generasi yang kemudian.

Maka bermula kisah asmara dan kekeluargaan mereka itu, tatkala Mani Amas memperistrikan seorang anak dara yang elok parasnya, bernama Kari Amas. Bermula Kari Amas ini tiada lain melainkan anak perempuan yang tertua daripada seorang ibu budiman bernama Dayakng Litatn. Alkisah, maka Kari Amas itu mempunyai beberapa orang saudara, dan adalah seorang adiknya yang laki-laki yang paling bungsu lagi termuda di antara sekalian kaum kerabatnya, bernama ia Bujakng Onyes.

Hatta, maka adalah takdir Yang Maha Kuasa atas diri Bujakng Onyes itu, tatkala ia dilahirkan ke dunia fana, tubuhnya tiada sesempurna anak-anak manusia yang lain. Kalakian, bermula waktu ia masih kecil lagi sedang mekar tumbuh, kena ia oleh sejenis penyakit yang amat jahat, dinamai penyakit puru atau frambusia. Maka sebab tiada obat yang dapat menahan jalannya penyakit itu, kian lama kian merusaklah ia ke dalam daging, hingga akhirnya mendatangkan infeksi yang teramat parah pada sekalian sendi-sendi dan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.

Maka apabila penyakit itu telah reda, tinggallah Bujakng Onyes dengan tubuh yang cacat lagi daif. Jikalau ia berjalan ke sana kemari di tengah-tengah kampung, senantiasa pincanglah jalannya, berayun ke kiri dan ke kanan, menahan rasa ngilu pada tulang-tulangnya yang telah bengkok. Syahdan, melihatkan keadaan yang demikian itu, maka manusia-manusia di bumi, baik dari golongan anak-anak muda maupun orang-orang yang kurang bijaksana hatinya, sering kali menaruh rasa pongah lagi jemawa. Maka apabila mereka melihat Bujakng Onyes lewat di hadapan mereka, berkumpullah orang banyak itu seraya bersorak-sorak mengolok-olokkan dia.

Maka dibuatkanlah oleh manusia-manusia bumi itu sebaris nyanyian singkat lagi ejekan yang senantiasa mereka dendangkan dengan riuh-rendah apabila hendak menyakiti hati Bujakng Onyes, demikianlah bunyinya:

Tepos dicabut, padi dituangkan;

Sekarang kasar kemudian lembut, sekarang tinggi kemudian rendah.

Adapun nyanyian itu mereka ulang-ulang sepanjang hari, laksana angin yang meniup daun kering, tiada menaruh rasa belas kasihan sedikit jua pun kepada hamba Allah yang sedang dirundung kemalangan fisik itu.

Akan tetapi, tatkala didengar oleh tetua adat dan orang-orang yang beroleh petunjuk makrifat, maka mereka pun menahan tangan manusia-manusia bumi yang suka mencela itu. Maka kata orang tua-tua yang arif, "Wahai sekalian manusia yang bebal hatinya, janganlah sekali-kali engkau berani mengolok-olokkan atau mencela kekurangan makhluk lain yang ada di bawah langit ini. Ketahuilah olehmu sekalian, bahwa sesungguhnya keberhasilan, kemuliaan, serta nasib baik orang-orang yang bertubuh sempurna semacam kita ini tiada pernah bersifat tetap. Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini bergulir laksana roda pedati."

Syahdan, berkatalah pula tetua adat itu memberikan pengajaran dari nyanyian tersebut, "Siapakah di antara kita, manusia yang fana ini, yang benar-benar mengenali dan mengetahui kapan datangnya ayu, yakni malapetaka yang amat dahsyat, yang senantiasa berjalan mengendap-endap dan siap menerkam kita dari arah belakang? Hari ini kita tegak berdiri dengan megah, esok lusa boleh jadi kita tersungkur di atas tanah. Maka peliharakanlah lidahmu daripada mencela hamba yang daif." Maka nyanyian tentang Bujakng Onyes itu pun diangkat menjadi sebuah madah peringatan adat yang amat suci bagi sekalian manusia di Parawakng Tujuh, agar senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan tiada takabur atas nikmat tubuh yang sehat.

------------------------------


Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...