Minggu, 20 September 2026

Hikayat Hantu Pohon Kering: Kisah Si Linglung yang Mendamba Jodoh

Syahdan, maka tersebutlah perkataan sebuah perkampungan yang amat terpencil di ujung sebuah negeri, namanya Kampung huma Serumpun. Adapun kampung itu berbatasan langsung dengan lahan persawahan yang teramat luas. Untuk menuju ke kampung tersebut, sekalian musafir dan penduduk haruslah melewati sejalur jalan yang amat sepi lagi sunyi. Di tepi jalan itu, berdirilah sebatang pohon yang telah mati lagi kering meranggas, tiada berdaun walau sehelai pun.

Maka pada pohon kering itulah bersemayam sesosok makhluk gaib yang digelari orang tua-tua sebagai Hantu Pohon Kering. Adapun peri tabiat hantu ini terlampau jahil lagi usil. Tiap-tiap malam tatkala bulan mulai naik, ia gemar sekali mengganggu dan membayangi para pejalan kaki atau pengendara sepeda motor yang kebetulan lalu-lalang di jalan sepi itu. Diikutinya orang-orang itu dengan setia, mulai dari pangkal jalan tempat pohon kering itu berdiri, hingga sampai ke gerbang desa yang dituju.
Maka gemparlah sekalian penduduk desa, menyangka bahwa pohon kering itu amat angker dan dihuni oleh setan yang berniat mencelakakan manusia. Padahal, jika dicermati dengan saksama oleh orang-orang yang arif, kelakuan hantu ini sebetulnya tiada ubahnya seperti anak kecil belaka. Tiada ia berniat mendatangkan mudarat atau mencabut nyawa. Segala keusilannya itu berpunca daripada kegundahan hatinya yang teramat sangat, sebab telah sekian lama ia hidup menyendiri dan tiada kunjung mendapatkan jodoh.
Maka dengan mengganggu masyarakat sekitar, sejatinya hantu itu hanyalah mendambakan perhatian. Ia berharap agar ada di antara manusia yang mengerti akan permasalahan batinnya, serta ikut membantu mencari jalan keluar atas nasibnya yang merana. Namun, apatah daya, oleh karena tiada seorang pun di lingkungan itu yang mengerti duduk perkaranya, maka sekalian penduduk hanya menaruh rasa takut dan menjauhinya.
Alkisah, pada suatu malam yang diselimuti kabut tipis, lewatlah seorang pemuda bernama indra di jalan sepi itu dengan mengendarai sepeda motornya. Adapun Indra ini merupakan seorang pemuda yang dianugerahi mata batin yang tajam, lagi pula berani hatinya. Tatkala ia melintasi pohon kering itu, segeralah Hantu Pohon Kering turun dan mengikutinya dari belakang, menciptakan bayangan hitam yang bergerak-gerak.
Indra yang merasakan kehadiran makhluk itu tiada menjadi gentar. Malahan, ia menghentikan laju sepeda motornya di pinggir jalan, lalu menoleh ke belakang. Maka terkejutlah sang hantu melihat manusia yang berani menatapnya.
Maka terjadilah dialog antara keduanya. Bertanyalah Indra dengan suara yang tenang, “Wahai makhluk penghuni pohon kering, apakah gerangan maksudmu senantiasa mengikuti dan mengusik perjalanan kami sekalian manusia? Adakah engkau hendak bermusuhan?”
Maka dari mulut si hantu keluarlah suara yang lirih lagi penuh keputusasaan, tiada kedengaran menyeramkan sama sekali. Tuturnya, “Wahai anak muda yang bijaksana, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku tiada bermaksud jahat. Segala kelakuanku ini hanyalah iseng belaka, berpunca daripada rasa stres dan frustrasi yang teramat sangat di dalam dadaku, sebab sampai hari ini aku tiada jua mendapatkan jodoh. Aku hidup sebatang kara di pohon kering ini, merana tanpa ada yang menemani.”
Mendengar penuturan yang demikian jujur lagi sepele dari makhluk gaib itu, maka tertawalah Indra di dalam hatinya, namun ia pun menaruh rasa iba yang amat besar. Kelakuan hantu yang disangka angker itu ternyata hanyalah ekspresi dari rasa kesepian makhluk yang merindukan pasangan hidup.
Maka berkatalah Indra seraya memberi janji, “Jikalau demikian duduk perkaranya, wahai hantu pohon kering, maka tenanglah engkau. Aku berjanji kepadamu, apabila di dalam perjalananku atau pengembaraanku suatu saat nanti aku bertemu dengan makhluk yang sejenis dengan dirimu, lagi pula berjenis kelamin perempuan, maka secepatnya hal itu akan kuberitahukan kepadamu agar engkau dapat meminangnya.”
Mendengar janji yang keluar dari mulut pemuda itu, maka bertambahlah girang hati si hantu. Wajahnya yang semula muram berubah menjadi ceria. Ia pun sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Indra, sebab baru kali itulah ada manusia yang sudi mendengarkan keluh kesahnya.
Maka sejak malam yang bersejarah itu, Hantu Pohon Kering pun memegang teguh janjinya. Ia menghentikan sama sekali segala aktivitas keusilannya. Tiada lagi ia membayangi pejalan kaki ataupun mengejar pengendara yang lewat. Jalan menuju Kampung Huma Serumpun pun menjadi aman dan damai, sementara si hantu dengan sabar menanti di atas pohon keringnya, menunggu kabar gembira yang dijanjikan tentang belahan jiwanya. Maka tamatlah hikayat ini dengan membawa kedamaian bagi sekalian makhluk.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...