Suara petikan sampe’ yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan tidak mampu menenangkan hati Jubel. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu duduk bersila di sudut beranda rumah panggungnya, menatap nanar selembar kertas catatan tua peninggalan mendiang kakeknya. Catatan itu berisi tabel usang: Nilai Tahil dalam Peraga Adat.
Esok hari, hidup Jubel akan ditentukan. Ia harus berhadapan dengan Pangaraga dan Timanggong—para pengurus adat—di rumah adat Bantang. Jubel dituntut oleh keluarga besar kekasihnya, Dari, karena sebuah kesalahpahaman besar. Batas tanah ladang keluarga Jubel tak sengaja tergeser saat ia menebang pohon, memicu perselisihan antar-keluarga yang berujung pada tuntutan denda adat (singer).
"Hukum adat hidup harus ditegakkan, Jubel," suara berat paman Jubel, Pakcik Amon, memecah keheningan. "Kau dituntut peraga adat untuk memulihkan kedamaian. Satu buah Talam, satu Tawak, dan satu Kakanong untuk hukum pokoknya. Ditambah satu Tempayan Menyanyi karena ada pertengkaran mulut kemarin."
Jubel menghela napas berat. "Dari mana kita mencari benda-benda kuno itu sekarang, Pakcik? Di mana mencari tawak (gong besar) atau tempayan keramik kuno di zaman seperti ini?"
Pakcik Amon tersenyum tipis, lalu menepuk pundak Jubel. "Zaman memang berubah, tapi adat Salako tidak pernah mencekik anaknya sendiri. Kau lupa ada sistem petahilan? Sesuai perkembangan, peraga adat itu dapat ditebus."
Pakcik Amon mengambil kapur, lalu menuliskan hitungan di atas meja kayu.
"Dengarkan baik-baik. Untuk Talam, Tawak, dan Kakanong, nilainya adalah 1 Tahil. Sementara untuk Tempayan Menyanyi dalam adat hidup, nilainya 1 Tahil Tangah. Jadi, total yang harus kau penuhi adalah 2,5 Tahil."
Jubel memperhatikan coretan itu. "Lalu, bagaimana cara kita membayarnya, Pakcik?"
"Secara tradisi kuno, 1 Tahil itu setara dengan 8 singkap piring putih polos," jelas Pakcik Amon. "Jadi kalau 2,5 Tahil, kita memerlukan 20 buah piring putih. Tapi, karena pengurus adat setempat sudah menyepakati nilai tebusan rupiah untuk wilayah kita sebesar Rp100.000 per tahil, kau bisa menebusnya dengan uang tunai."
Jubel menghitung cepat di dalam kepalanya. "Dua setengah tahil dikali seratus ribu... berarti dua ratus lima puluh ribu rupiah?"
"Benar," kata Pakcik Amon. "Tetapi ingat, uang itu hanya pengganti material peraga adat yang sulit dicari. Kau tetap harus menyiapkan ayam jantan, tumpi, dan ketan sebagai syarat ritual pembersihan adat agar hubungan kedua keluarga kembali suci."
Esok paginya, suasana di rumah adat terasa magis sekaligus menegangkan. Jubel duduk berhadapan dengan ayah Dari dan para fungsionaris adat. Di tengah ruangan, terdapat piring-piring putih dan mangkok ritual yang disiapkan.
Setelah melalui musyawarah yang dipimpin oleh Timanggong dengan tutur bahasa Salako yang santun namun tegas, Jubel menyerahkan uang tebusan petahilan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah, beserta kelengkapan ritualnya. Ayah Dari menerima tebusan tersebut dengan anggukan hormat. Perselisihan pun resmi dinyatakan selesai. Aturan petahilan terbukti mampu menjadi jembatan yang adil—menjaga kehormatan tradisi leluhur tanpa harus memberatkan generasi muda di masa modern.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar