Minggu, 20 September 2026

Hikayat Ne' Kabayan dan Petuah Bumi Pabonihan

Alkisah maka tersebutlah perkataan suatu rimba yang amat mahaluas di tanah Borneo, bernama Benua Pabonihan. Maka di benua itu bertakhtalah sekalian kaum peladang suku Salako yang arif lagi teguh memegang adat moyangnya. Syahdan, berbulan-bulan lamanya sekalian mereka itu lelah berjerih payah, membongkar tanah dan menanam benih, hingga sampailah ketikanya padi di ladang menguning bagaikan disepuh emas murni. Maka segala bulir padi pun saratlah menunduk, matang dengan sempurnanya, lalu dimasukkan oleh orang-orang ladang ke dalam kusong, bauh, angko, dan dango padi.

Maka tatkala segala biji padi sudah kamas—yakni genap terhimpun di dalam tempat perhentiannya—terbitlah suatu adat yang amat kramat lagi ditakuti oleh segenap isi benua, yang dinamai orang adat Batayo' dan Ngarago'.

Maka pada suatu hari, bertatalah seorang perempuan peladang yang tua lagi berbudi, Dang Salini namanya. Syahdan Dang Salini itu memandangi ladangnya yang membentang dua bidang. Terkenanglah ia akan petuah purbakala: bahwasanya tatkala segala padi telah dituai dan disimpan, tiada boleh seorang pun menyentuh atau merusak sisa-sisa batang padi, tiada boleh menabang tunggul, dan tiada boleh mengambil kayu api ataupun membersihkan kebun sebelum sang ketua padi dijemput pulang. Adapun jikalau ada manusia yang berani melanggar pantang larang itu, niscaya turunlah mara bahaya, ditimpa tulat dan serapah adat yang membawa celaka atas dirinya dan segenap ahli rumahnya.

Maka tatkala matahari terbit dari celah bukit, Dang Salini pun melangkah menyusuri jalan kecil menuju ke pabonihan, yakni tempat awal mulanya benih disemai. Maka mengikutlah di belakangnya beberapa perempuan peladang yang muda-muda, hendak menyaksikan bagaimanakah adat menjemput sang ketua padi yang dinamai Ne' Kabayan.

Sampailah Dang Salini pada satu lubang tugal tempat tertanamnya tujuh butir batang padi yang sulung. Maka dengan cermat dan perlahan-lahan, seraya membaca jampi ketenangan hati, Dang Salini memotong ketujuh batang tuho podi itu. Batang itu tiada dibiarkan patah, melainkan dilipatnya menjadi dua bahagian dengan penuh hormat, lalu dimasukkannya ke dalam sebuah keranjang kecil yang bernama lubu'. Syahdan, keranjang itu dibentuk elok-elok bagaikan teneng kecil tempat persemayaman rupa seorang perempuan.

Maka Dang Salini pun memetik beberapa tangkai bunga Selasih—atau bungo ikotn—yang harum baunya dari tepi pabonihan. Dimasukkannya bunga itu ke dalam lubu', berdampingan dengan Ne' Kabayan. Maka bertanya-tanyakan seorang perawan muda yang bernama Si Umbut: "Wahai Ibu Dang Salini, apakah sebabnya bunga Selasih itu diarak bersama Ne' Kabayan?"

Maka tersenyumlah Dang Salini seraya menjawab halus: "Wahai anakku, adapun Ne' Kabayan itu adalah lambang seorang perempuan yang diagungkan. Bunga Selasih itu tiada lain melainkan hiasan aksesoris bagi Ne' Kabayan, sebab sudah menjadi suratan alam bahwasanya sekalian kaum perempuan amat menyukai keindahan dan keharuman bunga."

Setelah itu, Dang Salini mengambil pula sebongkah kecil damar yang keras lagi bening rupanya. Damar itu diletakkannya di samping bunga Selasih di dalam tempat Ne' Kabayan. Maka kembali Si Umbut bertanya dengan heran: "Apakah pula hikmatnya membawakan sebongkah damar yang kaku ini, Ibu?"

Maka ujar Dang Salini dengan penuh petuah: "Dengarlah olehmu wahai anak cucu. Adapun damar ini adalah lambang kekekalan. Maksud segala peladang meletakkan damar bersama Ne' Kabayan adalah supaya padi yang tersimpan di dalam bauh dan dango padi itu lambat habisnya, jua jikalau saban hari diambil untuk ditumbuk menjadi beras. Kita memohon kepada Sang Pencipta agar padi ini baparuopm bapajaji—yakni meluap ke atas dan melimpah-ruah secara mukjizat—hingga tumbuhlah damar padanya dan jadilah ia padi lama yang gawak. Dengan demikian, tatkala musim panen yang baru datang berbilang tahun kemudian, padi yang lama tiada pernah habis dikecap oleh keluarga kita."

Maka takjublah sekalian perempuan yang mendengar petuah itu. Setelah genap segala syaratnya, diusunglah keranjang Ne' Kabayan itu dengan cermat, lalu diletakkan di atas tumpukan padi yang bertimbun di dalam dango padi.

Syahdan, tersebut pula kisah seorang peladang lain di benua itu, seorang pemuda bernama Si Lebai yang miskin lagi bebal. Adapun Si Lebai itu berladang pula di seberang sungai, namun pada hari penjemputan Ne' Kabayan, terhalanglah ia oleh suatu kesusahan yang amat sangat hingga tiada sempat pergi ke ladangnya. Maka makin harilah makin dekat menuju upacara besar Ngabayotn. Maka gugup dan risaulah hati Si Lebai, sebab jikalau Ne' Kabayan tiada dijemput dari pabonihan, niscaya ia dan keluarganya tiada dapat menyertai upacara ritual Ngabayotn, yakni ritual narahi' padi tempat benih disirami dan diberkati dengan darah hewan kurban serta jaranang.

Maka berjalanlah Si Lebai menemui tetangganya, seorang lelaki yang jujur lagi taat bernama Si Sutan. Maka bersabdalah Si Lebai dengan iba hati: "Wahai sahabatku Si Sutan, kasihanilah kiranya hembusan nafasku ini. Aku tiada sempat pergi ke ladangku untuk menjemput Ne' Kabayan. Maukah engkau berjalan bagi pihakku untuk menjemputkan sang ketua padi di ladangku?"

Maka Si Sutan yang dermawan itu pun menjawab: "Baiklah wahai sahabatku, sebab kita hidup se-benua bertetangga." Maka pergilah Si Sutan ke ladang Si Lebai, melakukan segala adat penjemputan dengan sempurna, lalu membawa pulang Ne' Kabayan ke rumah Si Lebai.

Maka tatkala tiba hari pesta pesta upacara ritual Ngabayotn, Si Lebai tiada lupa akan janji dan aturan leluhurnya. Maka dibawanyalah kepada Si Sutan tanda terima kasih dan bentuk penghormatan adat, berupa seekor manok sabarokng (ayam jantan), beberapa keping tumpi', nasi beras pulut poe', serta sebungkus bontokng saepet.

Maka berkatalah orang tua-tua di benua itu: "Sungguhlah pemberian Si Lebai itu dinamai paribaso, yakni etiket dan adab sopan santun yang wajib dipelihara dalam pergaulan sesama manusia. Sebab begitulah adat leluhur mengajar kita, supaya hidup saling tenggang, hormat-menghormati, dan ingat akan pertolongan sesama."

Maka tatkala Ne' Kabayan sekalian peladang telah selamat dijemput dan disemayamkan di rumah masing-masing, maka terbukalah rintangan adat. Belenggu larangan pun gugur. Maka berbondong-bondonglah sekalian kaum perempuan turun kembali ke ladang-ladang mereka. Maka bermulalah pekerjaan yang dinamai nayo' umo dan ngarago'.

Syahdan, kaum perempuan pun menyingsingkan kainnya, mulai membersihkan kebun dari rumput dan gulma. Mereka merawat tanaman ubi kayu, ubi jalar, keladi, tebu, jahe, dan pisang yang tumbuh berselang-selang di antara sisa batang padi. Batang-batang padi yang kering dan tunggul-tunggul kayu yang merintangi jalan mulai ditebang dan dikumpulkan. Kayu-kayu kering diangkut untuk dijadikan kayu api di dapur rumah mereka.

Maka tempat yang tadinya dinamai umo (huma) kini telah berubah wajahnya. Tiada lagi dipanggil umo, melainkan dinamai orang toyo'bn atau babutotn, yakni kebun Dayak yang sarat dengan segala buah dan tanam-tanaman non-padi.

Hatta, maka tersebutlah pula perihal kaum lelaki di Benua Pabonihan. Adapun tatkala kaum perempuan sibuk batayo' di ladang selama satu bulan berturut-turut, maka jaranglah ada lelaki yang turut campur dalam pekerjaan batayo' itu. Kaum lelaki memikul kewajiban yang lain. Maka ada yang memanjat bubungan rumah untuk nyuat—yakni mengganti atap-atap daun yang telah bocor dan rapuh—supaya rumah mereka teduh tatkala hujan turun. Ada pula yang merambah hutan mencari hasil alam, atau berjalan jauh mencari rezeki dan biaya. Sekalian itu dilakukan oleh kaum lelaki demi memenuhi belanja dan keperluannya tatkala pesta besar upacara ritual padi Ngabayotn dilangsungkan kelak.

Maka riuh-rendahlah benua itu oleh gema bunyi gendang dan gong tatkala pesta Ngabayotn benar-benar tiba. Padi-padi lama yang tersimpan dalam dango padi tetap utuh dan melimpah, berkat barokah damar dan restu Ne' Kabayan. Sekalian penduduk makan dan minum dengan sukacita, memuji adat lama yang tiada lapuk dek hujan dan tiada lekang dek panas.

Maka demikianlah tuntasnya hikayat kuno Ne' Kabayan dan Batayo', menjadi ikhtibar bagi sekalian anak cucu peladang di benua Borneo, bahwasanya barang siapa menghormati hasil bumi, memelihara adab paribaso, dan memegang teguh larangan leluhur, niscaya rezekinya tiada akan pernah putus dan kehidupannya akan senantiasa diberkati oleh Sang Maha Pencipta.

Tamatlah hikayat.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...