Senin, 21 September 2026

Cerpen: Mandor Gaib dan Tangisan dari Tanah Proyek

Malam itu, dinginnya angin mengembus aroma tanah basah dan besi berkarat di area proyek pembangunan mal mewah setinggi dua puluh lantai. Di tengah kegelapan, berdiri sesosok makhluk tinggi besar yang dikenal sebagai Dentha. Wajahnya legam, matanya memancarkan redup cahaya kekuningan, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah tongkat kayu hitam yang memancarkan aura magis pekat—sumber seluruh kekuatannya.

Di sekelilingnya, sepuluh anak buah kepercayaannya berdiri siaga, menjaga perbatasan lahan agar tidak ada penyusup spiritual yang kembali. Proyek harus steril. Itu adalah sumpah dan kontrak gaib yang ia sepakati dengan pemilik modal manusia.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan semen, muncul sesosok wanita tua bertubuh ringkih dengan pakaian compang-camping. Ia adalah salah satu penghuni lama lahan itu, roh yang telah menetap di sana sejak tempat itu masih berupa hutan jati ratusan tahun lalu.

"Tolong, Tuan Dentha... hamba mohon jangan usir kami lagi," ratap roh tua itu sambil bersimpuh di kaki Dentha. Suaranya bergetar penuh keputusasaan.

Dentha menatapnya dingin. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah, memicu gelombang kejut tak kasat mata yang membuat roh tua itu terjungkal. "Lahan ini sudah dibeli. Manusia akan membangun gedung di sini, dan tugasku adalah memastikan kalian semua pergi. Tempat ini bukan lagi milik kalian!"

"Tapi kami tidak punya tempat tujuan!" jerit roh tua itu, air mata darah menetes di pipinya yang pucat. "Semua lahan di kota ini sudah penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tempat lain juga sudah memiliki penghuni tetap. Jika kami pergi, kami akan menjadi hantu gelandangan yang hancur perlahan-lahan di jalanan!"

Dentha terdiam sesaat. Jauh di dalam lubuk hatinya yang kelam, ia merasakan secuil iba. Pengusiran dengan kekerasan sebulan terakhir ini telah memakan banyak korban di pihak penghuni lama.

"Aku tahu," ucap Dentha, suaranya berat mengelegar, namun nadanya melunak. "Karena itulah aku telah menyiapkan tempat baru untuk kalian. Jauh di luar wilayah kota ini, sebuah hutan tua yang belum tersentuh besi-besi manusia. Pergilah ke sana demi keselamatan kalian sendiri."

"Hutan itu terlalu jauh, Tuan... perjalanan ke sana akan memusnahkan energi kami yang sudah lemah akibat pertempuran ini," sahut roh tua itu sambil terisak.

"Itu satu-satunya pilihan kalian. Pergi dengan damai, atau anak buahku yang akan menghancurkan kalian tanpa sisa," ancam Dentha, meski hatinya terasa berat. Menyiapkan tempat baru sebenarnya menguras energinya secara ekstra, namun ia lebih memilih jalur itu daripada harus memusnahkan mereka semua.

Melihat tidak ada pilihan lain, roh tua itu bangkit dengan tubuh gemetar. "Baik, kami akan pergi... Kami mengalah pada keserakahan manusia dan kekejaman tugasmu."

Keesokan harinya, proses pembangunan fisik oleh para pekerja manusia pun dimulai. Alat-alat berat meraung-raung, mengeruk tanah dalam-dalam. Dentha memandang dari dimensi gaib, meyakini tugasnya telah selesai dan lahan tersebut telah sepenuhnya steril dari gangguan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di bawah kepemimpinan roh tua yang menyimpan dendam terdalam karena diusir dari tanah kelahirannya, beberapa roh penghuni lama menolak untuk pergi ke hutan jauh yang dijanjikan. Mereka memilih bersembunyi di celah-celah terdalam bumi, bersiap melakukan perlawanan terakhir demi mempertahankan harga diri mereka.

Memasuki bulan kedua pembangunan, keanehan mulai terjadi.

"Brakkk!"

Tiba-tiba mesin ekskavator yang sedang mengeruk tanah mendadak mati total. Kabel baja pada mesin derek putus tanpa sebab, menjatuhkan balok beton besar yang hampir merenggut nyawa pekerja. Tidak hanya itu, satu per satu pekerja manusia mulai jatuh sakit secara misterius dengan demam tinggi dan igauan mengerikan.

"Ada yang tidak beres dengan lahan ini," bisik salah seorang mandor manusia dengan wajah pucat.

Melihat kekacauan itu, Dentha murka. Ia tahu ini adalah wujud protes dari sisa-sisa penghuni lama yang membangkang. Malamnya, ia mengumpulkan seluruh anak buahnya.

"Cari mereka! Hancurkan siapa saja yang masih berani menginjakkan kaki di lahan ini!" perintah Dentha, matanya menyala merah, dipenuhi amarah yang dipicu oleh rasa bersalah karena gagal menjaga sterilisasi proyek.

Pertempuran hebat di dimensi gaib pun pecah di tengah malam yang buta. Anak-anak buah Dentha merangsek maju, menyerang sisa-sisa penghuni lama dengan kejam. Suara lolongan pilu dan jeritan roh yang tercabik-cabik bergema di udara, meski tak satu pun manusia mampu mendengarnya.

Dentha maju ke garis depan, mengayunkan tongkat saktinya untuk menumbangkan roh-roh yang melawan. Hingga akhirnya, ia berhadapan kembali dengan roh wanita tua yang tempo hari memohon kepadanya. Di tangan roh tua itu, terdapat sebuah jimat kuno berisi energi bumi yang pekat.

"Kau mengkhianati belas kasihanku!" bentak Dentha.

"Kau yang mengkhianati tanah ini, Dentha!" balas roh tua itu dengan tatapan penuh kebencian. "Kau menjadi budak manusia demi memusnahkan bangsa kita sendiri!"

Tanpa ragu, roh tua itu menerjang Dentha, meledakkan seluruh sisa energinya langsung ke arah tongkat kekuasaan Dentha. Ledakan spiritual yang dahsyat pun terjadi.

"KRAAAK!"

Tongkat hitam di tangan Dentha retak, lalu hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan hancurnya tongkat tersebut, seluruh kekuatan besar Dentha menguap seketika. Tubuhnya melemah drastis, dadanya terasa hampa. Di hadapannya, roh wanita tua itu perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam setelah mengorbankan seluruh eksistensinya.

Anak-anak buah Dentha yang melihat pemimpin mereka kehilangan kekuatan langsung mundur ketakutan, meninggalkan lahan yang kini dipenuhi aura kematian dan keputusasaan.

Kini, bangunan mal mewah itu telah berdiri kokoh dan megah di dunia manusia. Namun di balik dinding-dinding betonnya yang berkilau, di sudut-sudut gelap yang tak pernah tersorot lampu, bersemayam sebuah kisah tragis.

Dentha, sang mandor gaib yang dulunya perkasa, kini hanyalah sosok roh yang lemah, cacat, dan tak berdaya. Ia kehilangan segalanya—tongkatnya, kekuatannya, dan harga dirinya. Ia kini terperangkap selamanya di basement gedung tersebut, menjadi gelandangan di atas tanah yang dulu ia bersihkan dengan darah bangsanya sendiri, meratapi nasibnya yang tragis sembari mendengarkan tawa riang manusia yang menari di atas penderitaan makhluk-makhluk yang terusir.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...