Sebermula maka tersebutlah perkataan peri rukun kebiasaan dan tatanan kaum Dayak yang turun-temurun dipeliharakan sekalian manusia hingga pada masa hari ini. Adapun adat dan agama itu asalnya daripada titah serta kemauan Ene’ Panitah yang maha sakti. Alkisah maka adalah seorang perempuan bernama Ene’ Duniang, konon ia itu berpura-pura menjadi istri kepada Ene’ Panitah, akan tetapi syahdan sebenarnya mereka itu tiada pernah bersetubuh dan tiada bercampur layaknya laki-istri.
Hatta, maka Ene’ Duniang pun memohonkan suatu hajat kepada Yang-Yang si Jubata, sembahnya, "Wahai Tuanku Sang Jubata, jikalau ada rahim-Mu, karuniakanlah apalah kiranya hamba ini seorang anak laki-laki."
Maka dengan takdir Yang Maha Kuasa, seketika itu juga menjelmalah seorang anak laki-laki tampan, lalu dinamai akan dia Baruakng Kulup. Setelah Baruakng Kulup itu meningkat besar, maka ia pun rindu hendak bermain-main ke dunia bumi. Maka turunlah ia ke bumi, lalu berteman dengan Ene’ Umang-Umang dan Ne’ si Bulit-Bulit. Maka mereka pun bermainlah bersuka-sukaan, bertaruh main gading, panca, dan menyumpit. Maka dalam segala permainan itu, senantiasa kalahlah Ne’ si Bulit-Bulit sekalian adiknya oleh Baruakng Kulup, sebab makanan mereka itu hanyalah kulat (jamur) semata-mata, tiada memiliki kekuatan tubuh.
Kalakian, pada suatu hari Baruakng Kulup turun kembali ke bumi. Demi ia menjejakkan kaki, tatkala itu ada sebutir tanaman yang melekat pada tulang keringnya. Maka tatkala dilihat oleh Ne’ Umang-Umang akan butir itu, lalu diambil dan dimakannya. Seketika itu juga, maka dirasanya tubuhnya menjadi amat segar dan kuat tak terperi. Maka dengan berkat memakan butir itu, pada sekali bertanding, kalahlah Baruakng Kulup ditewaskan oleh Ne’ Umang-Umang.
Maka Baruakng Kulup pun heran seraya bertanya, "Geriangan apa yang membuatkan engkau boleh menang atas diriku ini?"
Maka sahut Ne’ Umang-Umang, "Bahwa aku telah memakan benda yang berkilau di tulang keringmu itu. Apakah gerangan namanya?"
Maka kata Baruakng Kulup, "Itulah yang dinamakan padi."
Maka kata Ne’ Umang-Umang, "Wahai sahabatku, sembunyikanlah sedikit padi itu dan bawakan bagi kami, karena kami sekalian belum pernah melihat benda yang seelok itu."
Maka Baruakng Kulup pun kembali ke kayangan, lalu menyembunyikan sebutir padi pada ujung cawatnya. Tetapi demi dilihat oleh ayahnya, maka padi itu direbut kembali. Maka Baruakng Kulup pun berdiri termangu-mangu. Atas muslihat Ne’ Umang-Umang, maka pada kali yang lain, Baruakng Kulup pun menyembunyikan padi itu di dalam kemaluannya, lalu dibawanya turun ke bumi dan diserahkan kepada manusia. Pesannya, "Tanamlah olehmu akan padi ini di dekat dapur, dan bertekunlah bersembunyi agar jangan kelihatan oleh ayahku."
Maka ditanamlah padi itu oleh manusia. Bermula dari bulan keenam, ketujuh, hingga bulan kedelapan, maka padi itu pun merumpunlah dan mengeluarkan kuncup tangkai yang elok, lalu berbunga dan masaklah ia. Akan tetapi, Ene’ Panitah mendapati hal itu lalu murka ia karena anaknya telah memberikan padi kepada manusia yang bebal dan suka memboroskan makanan.
Maka Ene’ Panitah pun memasang suatu perangkap tombak lompat hendak membunuh Baruakng Kulup. Tetap dengan belas kasih ibunya, ditolaknya seonggok bangkai babi betina tua ke perangkap itu, sehingga tombak itu mengenai babi, dan loloslah Baruakng Kulup melarikan diri.
Sebelum pergi, berpesanlah ibunya, "Wahai anakku, jika engkau menempuh jalan yang lurus, niscaya engkau tiba di alam Subayan (alam arwah). Tetapi jika engkau mengambil jalan ke kiri, niscaya engkau menuju ke negeri manusia."
Maka sebab tiada hati-hati, berjalannyalah Baruakng Kulup pada jalan yang lurus, lalu sampailah ia ke alam Subayan. Di sana ia terpikat dan menikah dengan seorang anak dara arwah bernama Ne’ si Putih. Maka setelah genap sembilan bulan sepuluh hari, melahirkanlah Ne’ si Putih akan satu bakul penuh berisi burung-burung. Maka heranlah Baruakng Kulup melihat anaknya berupa unggas. Lalu ia menghadap ayahnya di kayangan.
Maka titah ayahnya, "Tusukkanlah sebatang bambu aur di serambi luar, lalu lepaskan burung-burung itu satu per satu dan berikan nama."
Maka dilepaskannyalah burung itu seekor demi seekor; yang pertama dinamainya burung Keto’, kemudian Kohoat, Caruit, Buria’, Biang, Jantek, Rooh, Anst, Jiji, Dugal, Tongo’, dan Adain. Maka burung-burung itulah yang dititahkan menjadi petunjuk (peramal) bagi manusia tatkala hendak berladang padi. Sesudah itu, atas titah ayahnya, dicabutnyalah sehelai rambut putih di kepala Ne’ si Putih, maka seketika itu juga bercerailah mereka.
Hatta, maka Baruakng Kulup pun diperintahkan turun ke bumi manusia dan menikah dengan seorang perempuan bumi bernama Jamani, lalu beroleh seorang anak laki-laki dinamai Kuling Langit. Sebelum Baruakng Kulup kembali ke kayangan, ia berpesan kepada Jamani, "Jikalau anak kita hendak bermain dan memakan buah langsat, perhatikanlah olehmu akan suara abang-abangnya (burung peramal) itu. Jika mereka melarang, jangan sekali-kali dilanggar, karena mereka itu kakak kandungnya sendiri."
Alkisah pada suatu hari, Kuling Langit sangat ingin memakan buah langsat. Maka ia pun turun ke halaman hendak memanjat pohon. Tiba-tiba burung Keto’ dan Jantek terbang melintas seraya berbunyi memberikan pertanda buruk sampai tiga kali berturut-turut. Namun Kuling Langit tiada mengindahkan petunjuk abangnya itu. Maka ia pun bersikap tegar hati lalu memanjat pohon buah-buahan tersebut. Demi ia sampai di atas, belum pun sempat memakan buah itu, maka tiba-tiba terjatuhlah ia—debuk!—lalu terhempas di atas batu-batuan dan mati seketika itu juga.
Maka menangislah sekalian burung-burung itu melihat adiknya tewas. Maka dengan kekuatan sayapnya, dibawanyalah jasad Kuling Langit naik ke kayangan menghadap sang kakek. Maka oleh Ene’ Panitah, dibangkitkanlah kembali Kuling Langit dari kematian, lalu hidup abadi ia di kayangan dan tiada lagi kembali kepada manusia.
Arkian, maka Ene’ Panitah pun menitahkan Baruakng Kulup turun kembali ke bumi manusia, titahnya, "Pergilah engkau hai Baruakng Kulup, ajarkanlah kepada sekalian manusia akan bahasa dan ketentuan-ketentuan burung peramal itu."
Maka sebab itulah, hingga pada masa hari ini, sekalian orang-orang Dayak amat memeliharakan tata cara mendengar isyarat bahasa burung-burung tersebut apabila hendak membuka ladang dan menanam padi, menurut segala ajaran kuno yang ditinggalkan oleh Baruakng Kulup.
Maka tamatlah Hikayat Baruakng Kulup.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar