Bismillah wal-hamdulillah. Ini suatu hikayat tatkala menceritakan kisah pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri bernama Bumi Salako yang makmur dan tenteram. Maka pada masa itu, tersebutlah seorang tetua negeri nan bijaksana lagi arif budinya, dinamai Datu Pengulu. Adapan Datu Pengulu itu teramat arif dalam segala hukum adat dan rahasia leluhur, serta amat dikasihi oleh sekalian anak cucu dan penduduk negeri.
Hatta, tatkala tiba masa duduk sambayang—yaitu hari terakhir dalam pusingan tahun perladangan, sebelum terbitnya fajar Hari Ngabayotn—berkumpullah sekalian warga kampung di balai besar. Di luar balai, malam makin larut, tetapi keriuhan belum jua surut. Dari ceruk-ceruk dapur rumah warga, terdengar suara lesung dan alu bersahut-sahutan. Kaum perempuan sibuk nutuk—menumbuk beras pulut yang telah direndam selama satu dua jam dalam prosesi ngaranapmi' atau macoh baras demi melunakkan biji beras untuk dijadikan tepung.
Maka pada saat itu, seorang pemuda bernama Meno duduk menghadap Datu Pengulu. Meno memegang selembar daun minyak dengan jemari yang gemetar, hendak belajar membungkus bontokng.
Meno pun bertatap muka lalu berkata dengan santunnya, "Ya Datu yang hamba junjung, mengapakah membungkus bontokng ini teramat sukar dan sarat dengan aturan? Mengapa daunnya tidak boleh dibalik, dan mengapa nasi ini mesti diperam di dalam bambu pokokng bersama putukng? Hamba khawatir jikalau lipatan hamba miring, niscaya celakalah hamba."
Datu Pengulu tersenyum mengelus janggutnya yang putih. Maka berkatalah beliau dengan suara nan empuk lagi merdu, "Dengar olehmu, wahai Meno. Segala bekas dan helai daun dalam adat kita bukan sekadar makanan pembasuh dahaga, melainkan persembahan suci bagi Jubato dan para leluhur. Hendaklah engkau tahu bahwasanya adat ini dipelihara melalui petuah zamani. Dengarkanlah olehmu kisah berbingkai tentang asal-muasal ketelitian membungkus epet Jubato ini."
Maka Datu Pengulu pun mulailah bercerita, membuka bingkai cerita yang pertama.
[Cerita Berbingkai I: Kisah Kamang Lada dan Rahasia Epet Jubato]
"Syahdan pada zaman dahulu kala," ujar Datu Pengulu, "tersebutlah seorang pemburu gagah perkasa bernama Kamang Lada. Pada suatu ketika, tatkala musim panen telah usai, Kamang Lada hendak menggelar ritual kesyukuran. Namun, karena sifatnya yang terburu-buru dan memandang remeh perkara sepele, Kamang Lada mengambil daun minyak sembarangan untuk membungkus beras bontokng.
Ia tidak mengindahkan bagian atas atau bawah daun. Dilipatnya beras sunguh itu pada permukaan atas daun yang telah terdedah debu dan najis unggas hutan. Syahdan, ia jua membungkusnya secara asal-asalan, seolah-olah ia sedang membuat epet biasa atau epet kapur tempat kapur sirih dan terasi.
Maka tatkala bontokng itu dimasak di atas arahotn—panggangan dari kayu bulat sebesar lengan anak-anak—terjadilah suatu keajaiban yang mengerikan. Seketika asap hitam membumbung, dan tatkala bungkusan itu dibuka, tulang daun pada nasi bontokng itu tercetak miring dan melenceng jauh dari tengahnya.
Pada malam harinya, Kamang Lada bermimpi didatangi oleh utusan Jubato. Sang utusan berkata dengan nada murka, 'Wahai Kamang Lada, engkau telah memberi persembahan yang tercemar kotoran bumi kepada Pencipta! Engkau melipat epet Jubato seolah-olah persembahan suci itu tiada bernilai lebih dari epet manusia. Kerana cetakan tulang daun pada nasimu miring, maka rezeki dan nasib Patahunanmu pada tahun yang akan datang jua akan miring, melenceng, dan penuh dengan kesukaran!'
Terkejutlah Kamang Lada dari tidurnya. Sejak hari itu, berbulan-bulan lamanya hasil perladangannya merosot, buruannya menjauh, dan nasibnya diliputi kesusahan. Maka sadarlah ia akan kelalaiannya. Kamang Lada lalu bertapa dan memohon ampun, seraya bersumpah bahwasanya setiap membungkus bontokng untuk persembahan, manusia harus memakai lembaran daun bagian bawah yang menghadap ke tanah, kerana bagian itulah yang paling bersih dari kotoran debu dan hewan. Manusia wajib memberikan yang paling bersih dan paling baik kepada Jubato.
Tak hanya itu, Kamang Lada jua diajarkan untuk merangkai putukng—yaitu bontokng yang di-epet bersusun tiga atau tujuh sekaligus. Sudut atas bungkusan bontokng dan putukng mesti dipotong sedikit agar air dapat meresap masuk tatkala direndam dalam pokokng bambu buluh besar sebelum dipanggang, menjadikan nasinya lembut dan sempurna."
Tatkala Datu Pengulu menghentikan ceritanya sejenak, Meno terpaku mendengar petuah tersebut. Dipandangnya lembaran daun di tangannya dengan rasa hormat yang amat sangat. Dengan hati-hati, diusapnya bagian bawah daun yang menghadap ke tanah, lalu ditaruhnya sejemput beras sunguh tepat di tengah-tengahnya, memastikan agar tulang daun kelak tercetak lurus dan sempurna.
Meno kemudian bertanya pula, "Datu yang bijak, di halaman balai hamba melihat kaum laki-laki sedang menebang kayu bulat sebesar lengan untuk membuat arahotn. Mereka jua menyiapkan bambu soekng untuk memasak poe'. Mengapakah poe' untuk ritual ini rasanya murni sekali, tiada boleh diberi santan, garam, atau dibalut daun pisang seperti lemang biasa?"
Datu Pengulu tersenyum lagi, lalu menyulut pelita minyak di sampingnya. "Pertanyaanmu amat bagus, Meno. Ketahuilah bahwasanya kemurnian poe' adalah lambang ketulusan hati. Ada pun kisah di balik kesucian poe' ini berasal dari tuturan para nenek moyang kita."
Maka Datu Pengulu pun melanjutkan kisahnya, membuka bingkai cerita yang kedua.
[Cerita Berbingkai II: Pertapaan Putri Ratna dan Kemurnian Poe']
"Alkisah," kata Datu Pengulu, "pada zaman dahulu kala tatkala manusia pertama mulai menghuni kawasan Austronesia, timbul perselisihan di antara para peladang. Ada sebagian orang yang hendak memasak beras pulut dengan mencampurkan santan kelapa, garam, bawang putih, serta melapisinya dengan daun pisang muda. Makanan itu mereka namai lemang atau lamang, yang rasanya gurih dan lezat dipandang mata.
Maka mereka hendak membawa lemang bersantan itu ke atas altar persembahan Ngabayotn. Namun, seorang putri alim bernama Putri Ratna mendapat petunjuk dalam pertapaannya. Dalam penglihatannya, Jubato menyukai segala sesuatu yang murni dan bersahaja, tanpa rekaan atau penyedap buatan manusia.
Putri Ratna berkata kepada kaumnya, 'Lemang yang dimasak memakai santan dan bumbu penyedap itu adalah penganan biasa bagi rekreasi dan pesta perkawinan manusia Austronesia. Namun untuk persembahan sakral suci kepada alam dan Sang Pencipta, kita tidak boleh menggunakan santan, tidak boleh menggunakan garam atau bawang, dan tidak boleh disarungi daun pisang! Penganan suci itu haruslah poe', yaitu beras pulut murni yang dimasak secara alami di dalam soekng bambu. Hanya dengan begitu, aroma wangi dan rasa asli dari kayu dan bambu bumi dapat membumbung murni ke udara.'
Kaum peladang yang degil awalnya menolak petuah Putri Ratna dan tetap menyajikan lemang bersantan saat ritual. Maka seketika itu jua, tatkala api panggangan dinyalakan, bambu-bambu lemang itu pecah berderak-derak dan mengeluarkan bau hangus yang menusuk hidung. Sebaliknya, ketika Putri Ratna memanggang poe' di atas tungku arahotn dari kayu bulat pada pukul tiga hingga lima pagi, wewangian nan harum dan alami tercium memenuhi seluruh penjuru negeri.
Sejak peristiwa itu, ditetapkanlah hukum adat yang tak boleh diubah: poe' murni dalam bambu soekng, bontokng yang terbungkus rapi, dan tumpi' atau kue cucur yang digoreng oleh kaum perempuan di kuali kecil bernama japon menggunakan adonan gula merah, adalah tiga penganan wajib yang menjadi sesajen utama dalam agama tradisional suku Dayak Salako. Ketiganya dimasak serentak pada waktu fajar sebelum terbitnya matahari."
Meno mengangguk-angguk khidmat. Kini pahamlah ia bahwasanya setiap ramuan dan perlakuan pada makanan adat memiliki nilai kedalaman spiritual yang tak boleh diremehkan.
Hari makin mendekati fajar. Keheningan malam mulai terpecah oleh desir angin pagi dan sahutan unggas. Dari sudut halaman balai, terlihat beberapa lelaki mahir sedang bersiap menyembelih seekor babi enyekng nangko'—babi Dayak berwarna hitam yang telah dikebiri, yang ukurannya hanya sebesar buah nangka dengan berat sekitar dua puluh hingga tiga puluh kilogram.
Meno memandangi persiapan kurban itu lalu berbisik perlahan, "Datu, matahari sebentar lagi terbit. Pukul empat pagi ini babi nangka akan disembelih, dan tatkala fajar menyingsing, ayam jantan jua akan disembelih oleh kaum lelaki. Mengapakah darahnya mesti ditampung dalam mangkuk terpisah, dan mengapa hati dari hewan-hewan kurban itu dilarang keras untuk dikeluarkan dari dada?"
Datu Pengulu memandang ke arah halaman, tempat bara api dari arahotn masih menyala kemerahan. Matanya menatap tajam penuh kearifan.
"Sebab darah dan hati adalah inti dari kehidupan, wahai Meno," jawab Datu Pengulu dengan nada penuh takzim. "Dengarkanlah bingkai kisah terakhir ini, agar lengkaplah pengetahuanmu tentang Hari Ngabayotn."
[Cerita Berbingkai III: Rahasia Kookng Buis dan Darah Kehidupan]
"Syahdan," Datu Pengulu melanjutkan, "pada masa purbakala ketika penyakit dan kegagalan panen melanda negeri, para tetua berkumpul di bawah pohon hayat. Mereka memohon petunjuk agar malapetaka dijauhkan dari pemukiman.
Maka turunlah petunjuk bahwasanya untuk mengikat kembali hubungan antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta, diperlukan materi persembahan yang suci, yaitu darah dan kookng buis. Darah hewan kurban—baik dari enyekng nangko' yang kaya daging dan sedikit lemak maupun dari ayam pagi—harus ditampung dengan penuh hormat dalam mangkuk yang bersih. Darah itu menjadi syarah utama dalam upacara ritual Ngabayotn. Tanpa adanya darah kurban, ritual dianggap hampa dan tidak dapat dilaksanakan sama sekali.
Namun, syarat yang paling sakral terletak pada hati hewan kurban tersebut. Para leluhur menegaskan bahwa setelah hewan disembelih, hati binatang itu tidak boleh dikeluarkan atau dipotong dari tubuhnya. Hati tersebut harus dibiarkan tetap berada di dalam rongga dada hewan kurban.
Mengapa demikian? Karena hati yang bersatu di dalam dada melambangkan kookng buis—yaitu inti paling dalam dari persembahan ritual, sekaligus simbol dan sumber rezeki bagi seluruh anggota keluarga. Menjaga hati tetap utuh di dalam dada adalah lambang dari menjaga keutuhan jiwa, ketenteraman rumah tangga, dan keberlanjutan rezeki pada tahun perladangan yang baru."
Selesailah Datu Pengulu menyampaikan ketiga bingkai ceritanya. Tepat pada saat itu, gema alu dan lesung batutuk mulai mereda. Bau wangi poe' yang dipanggang di atas arahotn serta harum kue tumpi' yang digoreng dalam kuali japon menyeruak ke udara, berpadu dengan dinginnya angin subuh.
Meno berdiri dari duduknya. Di tangannya, bungkusan bontokng telah siap dengan ikatan yang sempurna, bagian bawah daun terpelihara bersih, dan lipatan tulang daun tepat berada di tengah-tengah. Tiada lagi keraguan dalam hatinya.
Di luar balai, penyembelihan enyekng nangko' dimulai dengan tenang dan khidmat. Mangkuk-mangkuk penampung darah telah disiapkan, dan ufuk timur mulai memerah menyambut terbitnya matahari pagi—menandakan dimulainya puncak upacara Hari Ngabayotn.
Meno memandang Datu Pengulu seraya meletakkan persembahannya di atas takhta ritual. Ia tahu, selama adat paribaso, ketelitian epet Jubato, kemurnian poe', dan kesucian kookng buis terus dijaga oleh keturunannya, niscaya keharmonisan dan keberkahan akan senantiasa menaungi bumi suku Dayak Salako dari zaman berzaman.
Demikianlah hikayat Hari Ngabayotn tamat disalin dengan sempurnanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar