Suara riak air di muara sungai Pemangkat malam itu terasa sunyi, seolah menyembunyikan ketegangan yang kian mencekam. Di bawah temaram sinar bulan, Mei Lan duduk di teras sebuah gubuk kecil dekat wilayah pertahanan Sominis. Tangannya yang halus dengan telaten merajut selembar kain pelindung dada. Sesekali matanya menatap ke arah benteng kayu jati milik Kongsi Sin-Ta-Kiu yang berdiri kokoh di kejauhan. Di dalam benteng itulah, sang kekasih hati, A-Siong, sedang berjaga menyandang senapan sundutnya.
Mei Lan hanyalah seorang gadis anak petani lada setempat. Pertemuannya dengan A-Siong setahun lalu di pasar barter emas Pemangkat telah mengubah hidupnya. A-Siong adalah pemuda idealis, salah satu anggota milisi kongsi yang bersumpah untuk mempertahankan tanah otonom mereka dari cengkeraman kekuasaan mana pun. Namun, cinta mereka kini harus mekar di bawah bayang-bayang moncong meriam yang mengerikan.
Langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian. Mei Lan menoleh dan mendapati A-Siong berjalan mendekat dengan wajah yang diselimuti peluh dan kecemasan.
"Mei Lan, besok pagi engkau harus mengungsi ke pedalaman yang lebih jauh bersama ibumu," bisik A-Siong sambil menggenggam kedua tangan gadis itu. Suaranya bergetar, menahan beban berat yang menggelayuti dadanya.
"Mengapa begitu cepat, A-Siong? Apakah mereka sudah dekat?" tanya Mei Lan dengan mata berkaca-kaca.
A-Siong mengangguk pelan. "Mata-mata kongsi memberi kabar bahwa armada besar Kompeni Belanda telah merapat di pesisir. Mereka dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi bernama Overste Zorg. Sultan telah meminta bantuan mereka untuk menghancurkan pertahanan kita. Esok hari, Sominis akan menjadi lautan api."
Mei Lan memeluk A-Siong dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu. "Aku tidak ingin kehilanganmu, A-Siong. Emas-emas di dalam perut bumi itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatanmu. Mari kita pergi bersama, mengubur masa lalu, dan hidup tenang di hulu sungai."
A-Siong terdiam sejenak. Dibelainya rambut hitam panjang Mei Lan dengan penuh kasih. "Andai saja itu mudah, Mei Lan. Namun, sumpah kongsi telah diucapkan di atas altar. Jika kami menyerah sekarang, masa depan anak-cucu kita akan diinjak-injak oleh bangsa kulit putih itu. Aku bertempur bukan hanya demi emas, melainkan demi rumah yang akan kita bangun bersama suatu hari nanti. Tunggulah aku di bukit seberang."
------------------------------
Keesokan paginya, tahun 1851, ramalan A-Siong menjadi kenyataan pahit. Langit Sominis Pemangkat berubah menjadi abu-abu pekat. Dari atas bukit tempat pengungsiannya, Mei Lan hanya bisa memandang dengan hati yang hancur saat mendengar rentetan dentuman meriam pasukan Hindia Belanda yang membakar wilayah lembah. Blam! Blam!
Di garis depan pertempuran, Overste Zorg memimpin pasukannya dengan angkuh, memuntahkan bola-bola besi panas untuk meruntuhkan dinding benteng Sin-Ta-Kiu. A-Siong dan kawan-kawannya membalas dengan nekat. Di tengah desingan peluru, A-Siong terus membidikkan senapannya, bayangan senyuman Mei Lan menjadi satu-satunya kekuatannya untuk tetap bertahan di tengah hujan timah panas.
Hingga sebuah momen penentu terjadi. Saat benteng luar mulai roboh, Overste Zorg memacu kudanya terlalu dekat ke parit pertahanan musuh. Keberanian yang jemawa itu menjadi bumerang. Seorang penembak jitu kongsi berhasil membidik dada sang komandan Belanda. Dor! Overste Zorg tertembak dan tewas seketika, jatuh terhempas ke atas tanah berlumpur Sominis.
Kematian pucuk pimpinan Belanda itu mendatangkan kekacauan hebat di barisan musuh. Serangan kolonial mendadak surut, dan pasukan kompeni terpaksa mundur secara teratur membawa jasad kaku sang perwira yang nantinya dimakamkan di atas bukit Pexieungan.
------------------------------
Ketika senja mulai turun dan asap pertempuran perlahan memudar, Mei Lan nekat berlari turun dari bukit pengungsian menuju sisa-sisa benteng yang hancur. Kakinya melompati puing-puing kayu yang masih membara dan parit-parit yang digenangi air keruh. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi doa-doa keselamatan untuk kekasihnya.
"A-Siong! A-Siong!" teriaknya dengan suara parau di antara tumpukan korban yang bergelimpangan.
Di sudut barikade tanah yang runtuh, ia melihat sesosok pemuda sedang terduduk lemas sambil mendekap lengan kirinya yang terluka parah. Baju kain kelamnya telah robek dan berlumuran darah. Itu A-Siong.
Mei Lan langsung berlutut dan memeluk pemuda itu sembari menangis histeris. A-Siong membuka matanya yang lelah, tersenyum getir melihat gadisnya berada di sana. "Aku masih hidup, Mei Lan... Aku memegang janjiku kepadamu."
Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Mei Lan segera merobek kain rajutan pelindung dada yang dibawanya untuk membalut luka A-Siong. Walaupun hari itu pertahanan kongsi berhasil memukul mundur pasukan Belanda untuk sementara waktu, mereka tahu ini barulah awal dari badai yang lebih besar. Beberapa tahun ke depan, kompeni pasti akan kembali membawa pasukan yang lebih masif.
Namun malam itu, di bawah bayang-bayang makam Overste Zorg yang baru digali di bukit seberang, dua anak manusia itu duduk berdekatan di atas puing benteng. Cinta mereka telah teruji oleh api peperangan, membuktikan bahwa di atas tanah Kalimantan yang diperebutkan karena emasnya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh peluru meriam penjajah: sebuah kesetiaan yang tulus di tengah gemuruh perjuangan.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar