Selasa, 15 September 2026

Cerpen Bui Nasi - Hendra Bahari Singkawang

 Asap tebal sisa pembakaran ladang masih membumbung tipis di atas tanah hitam Kalimantan yang hangat. Di tepi hutan Sepauk yang rimbun, Bui Nasi berdiri menyapu peluh di dahinya. Mengolah tanah kering tanpa kepastian hasil adalah pekerjaan yang menguras tenaga. Hasil panen beberapa musim terakhir selalu gagal; tanah seolah enggan menumbuhkan apa pun untuk ia dan saudara-saudaranya.

Malam itu, giliran Bui Nasi yang menjaga pondok di tengah ladang. Ketika rembulan mencapai puncak langit, angin mendadak bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan tua. Suara langkah berat menggetarkan tanah. Dari kegelapan hutan, muncul sesosok makhluk tinggi besar dengan mata menyala seperti bara api.

Tanpa bicara, makhluk itu menerjang. Bui Nasi yang sigap melompat menghindari sabetan tangan raksasa tersebut. Pergulatan sengit tak terelakkan. Keduanya saling kunci dan banting di atas tanah berlumpur. Setiap kali Bui Nasi hampir melepaskan pukulan mematikan, ia merasakan getaran aneh—aliran darah makhluk ini terasa tidak asing baginya.

"Tahan tanganmu, Bui Nasi!" gertak suara berat itu, bergema memenuhi gulita malam.

Bui Nasi menahan napasnya, dadanya naik turun. "Siapa kau? Mengapa kau tahu namaku dan merusak ladang kami?"

Makhluk itu perlahan mengendurkan cengkeramannya, lalu duduk bersila. "Aku Puyang Gana. Kakak tertuamu yang tak sempat melihat dunia manusia karena wafat saat dilahirkan. Kini, akulah yang menjaga bumi dan tanah yang kau pijak ini."

Tergagap, Bui Nasi menurunkan lengannya. Rasa iba dan kehangatan persaudaraan seketika menggantikan amarahnya. "Jika kau saudara kami, mengapa tanah ini menolak memberi kami makan?"

Puyang Gana tersenyum tipis. "Bumi tidak menolakmu, adikku. Kalian hanya mengambil tanpa menyapa, menanam tanpa memahami cara berteman dengan tanah."

Sepanjang sisa malam, di bawah pendar rembulan, Puyang Gana mengajarkan rahasia alam kepada Bui Nasi. Ia mengajari cara membaca tanda-tangan musim, cara menghormati roh penjaga bumi sebelum benih disebar, hingga teknik mengolah tanah agar benih putih kelak tumbuh menjadi bulir-bulir emas yang melimpah.

Ketika fajar menyingsing, Puyang Gana perlahan menghilang bersama kabut pagi, meninggalkan sejumput benih ajaib di telapak tangan Bui Nasi.

Bui Nasi pulang dan membagikan ilmu serta benih tersebut kepada saudara-saudaranya. Musim demi musim berlalu, ladang mereka tak lagi gersang. Menguningnya bulir-bulir padi di Sepauk menjadi saksi bagaimana kesabaran dan penghormatan pada alam sanggup memberi kehidupan bagi seluruh warga desa. Dan Bui Nasi, sang penjaga tradisi, terus merawat warisan itu sepanjang hidupnya.

Tidak ada komentar:

Mite Rahasia Pohon Asam Janggi dan Penjaga Taino

Alkisah pada awal mula zaman, tatkala bumi Taino masih muda, Pohon Asam Janggi belum berdiri di tengah pusaran air laut lepas. Pada masa itu...