Matahari tahun 1850 menggantung rendah di atas langit Kota Sambas, memantulkan cahaya kemerahan pada aliran sungai yang membelah pusat kesultanan. Di pedalaman yang kaya akan urat-urat emas, suasana justru sedang mendidih. Sebuah maklumat rahasia telah menyebar ke barak-barak tambang. Tiga kekuatan raksasa yang biasanya saling bersaing—Tai-Kong Kongsi, Sin-Ta-Kiu Kongsi, dan Mang-Ki-Tiu Kongsi—kini duduk bersama di satu meja penyerahan sumpah.
Bukan lagi sekadar urusan tapal batas parit galian, kali ini ambisi mereka jauh lebih besar: mereka hendak menguasai Kerajaan Sambas sepenuhnya.
"Kita sudah terlalu lama memeras keringat di lubang lumpur ini hanya untuk menyerahkan sekantong demi sekantong upeti kepada istana!" seru seorang pembesar dari Mang-Ki-Tiu Kongsi sambil menggebrak meja.
Dalih utama yang mereka pakai untuk memicu pembangkangan ini adalah penolakan mutlak atas pembayaran upeti atau cukai emas kepada pihak Kesultanan Sambas. Padahal, Sultan telah berkali-kali melayangkan peringatan keras ke wilayah pedalaman. Namun, kepala-kepala kongsi itu memilih membutakan mata dan menulikan telinga. Di dalam benak mereka, ada dua anggapan yang telah menjadi harga mati: Pertama, mereka sudah merasa tidak terikat lagi oleh perjanjian apa pun dengan Kerajaan Sambas atau Sultan. Kedua, mereka merasa sudah tidak lagi berada di bawah perintah atau kekuasaan siapa pun jua di muka bumi ini. Mereka adalah para penguasa merdeka yang berdiri di atas tumpukan emas.
Mendengar laporan tentang pembangkangan yang kian menjadi-jadi, murkalah Sultan Sambas. Istana tidak bisa lagi menoleransi durhaka yang mengancam kedaulatan negeri. Sultan segera menitahkan seluruh prajurit kesultanan untuk bergerak lambat namun mematikan. Perintah yang keluar dari lisan baginda teramat tegas: hancurkan tempat-tempat pertambangan emas serta pusat-pusat perkongsian Cina tanpa sisa.
Dalam waktu singkat, ekspedisi militer kesultanan bergerak menyisir pedalaman. Pertempuran sengit meletus beruntun di berbagai titik strategis. Wilayah Pemangkat, Sominis, Soeawi, Bengkayang, Larah, Montrado, dan Buduk seketika berubah menjadi lautan api. Namun, orang-orang perkongsian rupanya telah mencium pergerakan ini jauh-jauh hari. Mereka telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk. Mereka membangun benteng-benteng tanah yang diperkuat pagar kayu jati, mengumpulkan ribuan pucuk senapan sundut, dan melatih para buruh tambang menjadi milisi yang haus darah. Pertempuran hebat antara prajurit-prajurit Sultan melawan gabungan perkongsian Cina akhirnya pecah di pinggiran Kota Sambas, yang menjadi pusat sasaran utama pemberontakan.
------------------------------
Melihat kekuatan gabungan tiga kongsi yang teramat masif dan persenjataan mereka yang kuat, jalannya peperangan mulai berbalik menekan istana. Prajurit kesultanan menderita kerugian yang tidak sedikit. Menghadapi situasi yang kian genting, Sultan Sambas segera mengumpulkan para Pangeran bersama stafnya dalam sebuah sidang darurat di balairung istana. Diskusi berjalan dengan urat leher tegang hingga larut malam. Akhirnya, sebuah keputusan pahit dan terpaksa diambil: Sultan memutuskan meminta bantuan militer kepada pihak Belanda.
Bantuan yang dinantikan oleh Sultan tidak serta-merta datang. Batavia membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pasukan ekspedisi mereka. Baru pada tahun 1851, armada kapal perang Belanda merapat di pesisir, membawa barisan serdadu berseragam biru di bawah pimpinan Overste Zorg.
Kedatangan pasukan Belanda langsung membawa babak baru yang penuh darah. Overste Zorg, seorang perwira eropa yang terkenal ambisius, langsung menyusun strategi pembalasan. Target utama pertamanya adalah meruntuhkan benteng pusat pertahanan milik Sin-Ta-Kiu Kongsi yang berdiri kokoh di wilayah Sominis Pemangkat.
"Hancurkan dinding kayu itu dengan artileri! Jangan biarkan mereka menembak dari balik celah!" teriak Overste Zorg dari atas kudanya, mengacungkan pedang ke arah benteng musuh.
Namun, milisi Sin-Ta-Kiu mempertahankan benteng mereka dengan nekat. Di tengah riuh rendah desingan peluru dan dentuman meriam, sebuah peluru dari senapan sundut penambang meluncur deras membelah kepulan asap. Peluru itu mengenai dada sang komandan Belanda. Overste Zorg tewas seketika di medan laga, roboh bersimbah darah di tanah Sominis. Kematian sang perwira tinggi mengejutkan pasukan kolonial. Jasadnya yang kaku segera dievakuasi dari tengah pertempuran dan kemudian dimakamkan di atas bukit Penibungan Pemangkat dengan penghormatan militer yang suram.
------------------------------
Kematian Overste Zorg tidak menghentikan bara peperangan. Sebaliknya, hal itu justru membuat Batavia kian murka. Tiga tahun berlalu dalam ketegangan yang menggantung. Memasuki tahun 1854, api pemberontakan bukannya padam, melainkan makin meluas di seluruh daerah pedalaman Borneo Barat. Pihak perkongsian Cina bahkan mendapat suntikan moral dan bantuan material yang besar dari kalangan bangsa Cina di luar perkongsian, membuat pasokan logistik dan senjata mereka seolah tidak ada habisnya.
Menghadapi jaringan perlawanan yang kian menggurita ini, Belanda tidak lagi bermain-main. Mereka mengirimkan laci pasukan berskala penuh ke wilayah Sambas, kali ini di bawah komando seorang jenderal lapangan yang bertangan besi, Resimen Militer Andressen.
Andressen menerapkan taktik bumi hangus dan pengepungan total. Ia tidak hanya menyerang benteng, tetapi juga memutus seluruh urat nadi pasokan makanan menuju pusat-pusat tambang. Jalur sungai diblokade oleh kapal-kapal perang, sementara jalur darat dijaga ketat oleh pos-pos patroli infanteri Belanda. Kelaparan dan penyakit mulai menggerogoti pertahanan dalam kongsi dari dalam.
Baru dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1856, taktik brutal Andressen membuahkan hasil akhir. Seluruh kekuatan serta pertahanan gabungan kongsi-kongsi pertambangan emas yang dahulunya begitu perkasa dapat direbut dan dihancurkan total oleh Kompeni Belanda. Kota Montrado, yang menjadi jantung pertahanan terakhir sekaligus simbol perlawanan perkongsian, berhasil dikuasai dan diduduki sepenuhnya oleh moncong-moncong meriam Belanda. Pihak perkongsian yang telah kehabisan peluru, kelaparan, dan kehilangan para pemimpin terbaiknya akhirnya menyerah kalah serta takluk tanpa syarat kepada Kompeni Belanda.
------------------------------
Selesainya peristiwa berdarah ini membawa perubahan geopolitik yang drastis di tanah Sambas. Berdasarkan kesepakatan pasca-perang, oleh Sultan, orang-orang Cina yang berdiam dalam daerah kekuasaan dan hukum Kerajaan Sambas secara resmi diserahkan pengawasannya kepada pihak Belanda.
Penyerahan wewenang ini menjadi babak baru yang penuh ketidakpastian. Dengan ikut campurnya Belanda secara mendalam di daerah Kalimantan Barat, hal ini sudah tentu menimbulkan perasaan tidak senang dan kekhawatiran yang amat sangat bagi kongsi-kongsi kecil lainnya yang tersisa di luar lingkaran pemberontakan. Mereka dilingkupi kecemasan yang pekat, karena menduga kuat bahwa kongsi-kongsi mereka akan dilenyapkan sama sekali oleh kekuatan kolonial Belanda yang terkenal serakah. Di balik kedai-kedai kopi yang senyap dan parit-parit tambang yang keruh, sisa-sisa penambang itu mulai berbisik-bisik, mencari-cari alasan dan pembenaran agar timbul kembali pertentangan baru di masa depan demi menjaga sejumput kemerdekaan yang tersisa di tanah Borneo.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar