Syahdan maka tersebutlah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah negeri yang dilindungi rimba belantara nan pekat lagi diliputi kabut tebal pada malam hari. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah hamba-hamba pilihan yang dikaruniai hikmat serta pandangan melintasi tirai gaib, yang digelar orang sebagai Pamabore. Adapun dalam kalangan para pamabore itu, terdapatlah sebuah keahlian magis nan amat tinggi lagi langka, yakni ilmu putiko—sebuah kemampuan sakral untuk meramal, menyingkap pekatnya tabir rahasia, serta menatap peristiwa jauh melalui ritual mandang.
Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Aki Pandang, seorang Pamabore yang telah mengabadikan usianya untuk menjadi mata gaib bagi warga bantang. Hamba tiada hanya mengobati sakit raga dan menawari bisa racun, melainkan dikaruniai penglihatan putiko guna menuntun jiwa-jiwa yang tersesat di dalam kegelapan.
Sebermula maka pada suatu senja tatkala sang suria mulai tenggelam di balik perbukitan dan burung-burung malam mulai memperdengarkan kepakan sayapnya, datanglah berlarat-larat seorang peladang muda dengan wajah nan pucat pasi bagaikan kain kafan. Lelaki itu bertekut di hadapan hamba seraya menggenggam jemari hamba dengan erat.
"Ampunkan hamba, wahai Aki Pamabore!" ratap peladang itu dengan suara gemetar. "Saudara kandung hamba telah lenyap di dalam rimba sejak tiga hari yang lalu tatkala berburu. Tiada jejak yang tertinggal melainkan parangnya yang berdarah. Bukan itu sahaja, harta benda berupa simpanan emas dan azimat pusaka di rumah kami jua raib digondol maling pada malam yang sama! Hamba mohon dengan amat sangat, gunakanlah ilmu putiko milik Aki untuk menyingkap rahasia kelam ini!"
Melihatkan penderitaan peladang itu, maka hamba pun menarik napas panjang. Hamba mengangguk perlahan seraya bersabda, "Ketahuilah olehmu, wahai anak muda, bahwasanya ilmu putiko dan mandang bukanlah perkara permainan atau ilusi mata fana. Ia adalah anugerah gaib yang menembus batas waktu dan ruang. Hanya mereka yang dirahmati kemampuan ini yang sanggup melihat apa yang tersembunyi di balik cermin gaib."
Maka hamba pun mulai menyiapkan peralatan ritual mandang. Hamba mengambil sebuah piring putih bersih yang diisi dengan air jernih daripada mata air pegunungan, lalu meletakkan sebuah cermin tua berbingkai kayu hitam tepat di bawah naungan cahaya pelita minyak jarak. Hamba menyalakan bara’an—mangkuk berisi bara api merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih nan tebal membumbung tinggi, menyebarkan bau harum sakral nan menusuk kalbu.
Hamba mulai memanterakan asap bara’an itu, melafalkan doa-doa rahasia ilmu putiko yang diwariskan oleh leluhur. Asap kemenyan yang mengepul tebal diputar mengelilingi piring dan cermin tua tersebut. Seketika itu jua, udara di dalam ruangan terasa mendadak dingin bagaikan es, dan bayang-bayang di dinding seolah-olah bergoyang-goyang menari mengelilingi kami.
Hamba mendudukkan diri dengan tegak, lalu menundukkan pandangan, menatap lurus-lurus ke permukaan cermin gaib yang diletakkan di atas air putih tersebut. Hamba memusatkan seluruh daya kesadaran gaib (intrance). Maka pada saat itulah, hal yang mahadahsyat pun terjadi.
Permukaan cermin tua itu mendadak bergoyang bagaikan riak air, lalu berubah pekat menjadi sehitam jelaga. Bayangan fana di sekeliling hamba lenyap seketika. Di dalam pantulan cermin gaib itu, muncul uap kebiruan nan berkilau, lalu pelan-pelan membentuk sebuah gambaran peristiwa yang amat jelas—sebuah penglihatan yang hanya sanggup disaksikan oleh mata hamba selaku tukang pandang!
"Mata gaib hamba telah terbuka..." bisik hamba dengan suara bertukar menjadi berat lagi bergaung.
Di dalam cermin itu, hamba melihat kegelapan hutan rimba di hujung bantang. Hamba menatap sesosok lelaki—yakni saudara peladang yang hilang—terbaring lemas di dasar jurang akibat diterkam oleh binatang buas, namun jiwanya masih bertahan. Di sebelah gambaran itu, cermin gaib bertukar memperlihatkan rahasia kedua: hamba menatap wajah sang pencuri harta benda! Rupa wajah sang maling tampak jelas di dalam cermin—seorang lelaki asing dari luar bantang yang menyembunyikan emas dan pusaka di balik beronggok batu besar di tepi sungai bawah!
Peladang muda yang duduk di samping hamba mencoba memicingkan matanya, memandang ke arah cermin tersebut. Namun baginya, cermin itu hanyalah kepingan kaca biasa yang memantulkan kegelapan malam, kerana wujud dan wajah di dalamnya hanya diperuntukkan bagi hamba selaku tukang pandang!
"Wahai anak muda," bersabda hamba seraya mengangkat pandangan dari cermin gaib. "Dengarkanlah petunjuk daripada ilmu putiko ini. Saudaramu masih bernapas di dalam jurang dekat pohon ulin kembar di barat bantang. Segeralah bawa obor dan tali untuk menyelamatkannya! Adapun harta pusakamu yang digondol maling, ia disembunyikan di bawah celah batu sungai oleh seorang lelaki berparut di pipinya. Pergilah ke sana sebelum sang malam berganti fajar!"
Mendengarkan ramalan dan petunjuk putiko yang amat terperinci itu, peladang muda itu pun sujud menyembah dengan rasa takjub lagi gemetar. Ia segera memanggil beberapa warga bantang untuk bergerak menuju lokasi yang ditunjukkan oleh penglihatan cermin gaib hamba.
Maka tatkala fajar menyingsing di ufuk timur, bersorak-sorailah warga di hujung bantang. Saudara peladang itu berhasil diselamatkan dari dasar jurang dalam keadaan bernyawa, dan seluruh harta pusaka yang raib berhasil ditemukan kembali tepat di lokasi batu sungai sebagaimana yang tampak di dalam cermin pandang hamba.
Demikianlah keagungan ilmu putiko dan kemampuan mandang milik Sang Pamabore di bumi Dayak Salako. Ia bukanlah sekadar ramalan biasa, melainkan cahaya penuntun gaib di tengah pekatnya rahasia kehidupan manusia. Selagi asap kemenyan masih membumbung di atas bara'an dan air tawar masih mengalir, mata gaib Sang Pamabore akan senantiasa menjaga kebenaran di negeri Bantang Salako.
Maka tamatlah hikayat ini dengan segala kesempurnaan dan kegaibannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar