Syahdan, maka tersebutlah sebuah penceritaan kuno dari bumi Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi rimba raya nan kelam lagi legam. Tatkala malam menaburkan tirai hitamnya dan kabut dingin merayap dari perbukitan, alam fana dan alam gaib seolah-olah melebur menjadi satu. Di bawah naungan bayang-bayang pepohonan ulin nan menjulang tinggi, hiduplah insan-insan yang memegang kearifan kuno—mereka yang berhadapan langsung dengan intrik roh-roh halus dan penyakit gaib.
Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini adalah seorang Pamabore Besar—seorang Tukang Babore yang dikaruniai penglihatan melintasi batas kasat mata. Orang-orang di bantang menyapa hamba dengan gelaran Sang Pamaiotn. Hamba tidak hanya mengobati sakit raga yang biasa, melainkan bertarung nyawa mengusir pengaruh jahat, mengembalikan jiwa yang tersesat, serta memanggil keberadaan para Jubato dan roh pahiangan tatkala kegelapan malam mencekam jiwa.
Sebermula, alkisah pada suatu malam selasa yang kelam, tidak ada hembusan angin, dan lolongan anjing hutan menyayat hati dari kejauhan. Di dalam serambi rumah panggung hamba, suasana amat hening hingga detak jantung pun bergaung nyaring. Tiba-tiba, dari kegelapan lorong bantang, terdengar derap langkah kaki yang terburu-buru. Pintu rumah hamba diketuk dengan keras tiga kali.
Tatkala pintu dibuka, berdirilah seorang utusan keluarga nan pucat lesu wajahnya—seorang yang digelar pangoop (yakni utusan penjemput). Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menyerahkan mangkuk adat penjemputan (diaap).
"Ampunkan hamba, wahai Sang Pamabore Besar!" teriak pangoop itu dengan napas yang tersekat-sekat. "Anak gadis tetua kampung kami telah dirasuki oleh kekuatan hitam yang mahadahsyat! Matanya membalik putih, badannya kaku bagaikan kayu ulin, dan dari kerongkongannya keluar suara raungan binatang yang tidak kami kenali. Hamba mohon dengan amat sangat, sudilah kiranya Sang Pamabore melangkah ke rumah kami!"
Hamba menatap mata pangoop itu dengan dalam, lalu memeriksa kelengkapan adat di dalam mangkuk tersebut. Ketahuilah olehmu, bahwasanya seorang dukun atau pamaiotn tiada akan pernah menginjakkan kaki ke rumah pesakit tatkala adat penjemputannya salah atau kurang walau secelak. Setelah dipastikan segalanya benar, hamba menyandarkan azimat, lalu mengangguk pelan.
"Malam ini adalah dunianya para Jubato patokng dan Jubato maam," ujar hamba dengan suara berat bergema. "Siapkan alat musik dau, tiga buah gong, suben, serta tumo’! Kita akan menggelar upacara ritual baiotn sebelum malam mencapai puncaknya!"
Maka melangkah pulalah hamba membelah kegelapan malam. Bayang-bayang hitam berkelebat di antara pepohonan rimba, seolah-olah mata-mata gaib sedang memperhatikan setiap jejak langkah hamba. Tatkala hamba menaiki tangga rumah panggung pesakit, bau kemenyan yang pekat membumbung tinggi, membaur dengan bau amis yang menusuk hidung.
Di serambi rumah yang luas, terbaringlah gadis itu di atas tikar gagadokng. Pergelangan tangannya diikat dengan tali rotan kerana ia terus mengamuk. Matanya mendelik ke atas, tidak ada bagian hitam yang terlihat, dan urat-urat lehernya menonjol kebiruan. Tatkala hamba mendekat, gadis itu tertawa menyeringai dengan suara melengking yang sanggup membekukan darah siapa saja yang mendengarnya.
"Siapkan peralatan ritual!" perintah hamba tegas kepada para penabuh gema.
Seketika itu jua, tabuhan instrumen pengiring dimulakan. Dau diketuk berirama rapat, tiga gong dengan suara beda nada menggelegar membelah dinding malam, diikuti dentuman suben yang berat dan pukulan tumo’ yang konstan. Suara musik sakral itu bergema bagaikan guruh yang memecahkan angkasa, menggetarkan papan-papan lantai rumah panggung.
Hamba mulai menari, menggerakkan tubuh mengelilingi gadis itu sesuai irama baiotn. Hamba memegang bara’an—semangkuk bara api yang merah menyala—lalu menaburkan irisan kemenyan putih ke atasnya. Uap asap putih yang tebal memancar membumbung tinggi, menyebarkan aroma harum magis nan pekat. Hamba membaca mantera kuno bahasa-ibu Dayak Salako, memanggil kehadiran roh leluhur (pahiangan) untuk menjadi mentor dan pelindung dalam pertarungan ini.
Asap kemenyan itu hamba sau’-kan—yakni dilingkarkan mengelilingi raga gadis yang sakit itu sebanyak tiga putaran penuh. Seketika itu jua, tatkala asap tebal menyelimuti tubuhnya, jeritan gadis itu semakin melengking dahsyat! Udara di sekeliling kami terasa mendadak dingin bagaikan es, dan cahaya lampu pelita meredup menjadi kemerahan.
Dari balik asap kemenyan yang membumbung, hamba melihat penampakan sesosok bayangan hitam mahabesar dengan mata merah menyala, bergelayut di atas dada gadis itu. Itulah makhluk halus penghuni rawa kelam yang telah mengisap sumangat (jiwa) sang gadis.
"Wahai roh jahat!" teriak hamba seraya menghentakkan kaki ke lantai papan. "Engkau berhadapan dengan kekuatan Jubato dan naungan pahiangan!"
Hamba mengulurkan tangan, lalu melakukan ritual barase’ atau intrance—yakni memasukkan kesadaran hamba ke dalam batas alam gaib. Pandangan hamba berubah menjadi merah pekat. Di alam roh itu, pertarungan tak kasat mata terjadi dengan amat sengit. Hamba melafalkan doa-doa penawar racun dan mantra pengusir, mengibaskan asap kemenyan bagaikan pedang cahaya yang menebas bayangan kelam tersebut.
Jeritan dan gerungan mahluk itu menggema di dalam telinga hamba. Tubuh gadis itu terangkat sedikit dari atas lantai, lalu terhempas kembali dengan keras. Namun hamba tidak gentar walau sekelumit pun. Irama dau dan dentuman suben dipercepat, menambah kekuatan getaran magis di dalam ruangan. Hamba mengambil segelas air putih, lalu memanterakannya hingga menjadi air tawar yang sakral.
Dengan memohon bantuan Jubato, hamba memercikkan air tawar itu ke ubun-ubun sang gadis sebanyak tiga kali, lalu memasukkan beberapa titik air ke dalam mulutnya. Seketika itu jua, makhluk hitam gaib itu melengking teramat sangat, lalu terlempar keluar dari raga sang gadis dan melesat lenyap membelah kegelapan malam!
Gadis itu mendengus napas panjang, lalu matanya kembali normal. Ia terkulai lemas, memuntahkan cairan hitam pekat ke atas kain, menandakan racun dan ilmu jahat telah tawar dari tubuhnya.
Pertarungan gaib itu berlangsung berjam-jam, memakan waktu hingga tiga malam berturut-turut. Malam memang lah dunianya para roh dan Jubato. Namun tatkala waktu telah meniti menuju pukul empat pagi, suasana alam mulai berubah. Dari jauh, suara ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan di sudut-sudut bantang.
"Tataplah ke luar," bisik hamba kepada penabuh musik. "Fajar akan terbit. Para Jubato, pahiangan, dan roh-roh petang harus segera kembali ke persemayaman mereka."
Hamba segera mengakhiri ritual badukun dan baiotn tersebut. Hamba mengambil batang taman—yakni sebatang pisang Jeranang yang belum berbuah yang telah disediakan sebagai wadah menampung sisa-sisa roh yang hadir dalam upacara. Dengan dipandu oleh utusan keluarga, batang taman itu dibawa dan dibuang jauh-jauh ke dalam hutan rimba dan semak belukar di ujung kampung (bantang). Pembuangan ini menjadi penanda bahwa sekalian roh telah dikembalikan ke alamnya, dan ikatan gaib telah diputuskan.
Maka tatkala sang suria mulai memancarkan sinar pertamanya di ufuk timur, hamba memerintahkan keluarga pesakit untuk melaksanakan ritual boo’ (nyepi) keluarga selama tiga hari berturut-turut. Selama masa nyepi ini, tiada seorang pun boleh keluar atau masuk ke rumah tersebut, guna memulihkan ketenteraman raga dan jiwa yang baru sahaja lepas dari cengkeraman mahluk halus. Setelah masa tiga hari itu genap, barulah diadakan upacara ritual basaru’ sumangat—yakni kenduri selamatan untuk memanggil kembali seluruh jiwa yang sempat terbang agar melekat kukuh pada raga sang gadis.
Maka selesailah tugas hamba sebagai seorang Pamabore Besar. Hamba melangkah pulang ke rumah panggung hamba dengan tubuh yang lelah, namun jiwa yang tenang. Di sepanjang jalan, hamba melihat beberapa warga biasa—para pamabore kecil—sedang membantu tetangga mereka yang terkena penyakit ringan atau keracunan buah jengkol (kejangingan), mengobatinya dengan serbuk kunyit, coretan kapur (baconteng), atau semburan sirih (basambur). Ada pula perempuan terampil yang lahir terbalik (sunsokng) sedang berjalan ke tepi ladang padi guna mengusir hama ampango (walang sengit) dengan mengibaskan ranting pohon ansamat dan mengasapi ladang dengan serai Belanda (parabun).
Maka ketahuilah olehmu wahai pembaca, bahwasanya di dalam kehidupan suku Dayak Salako, batas antara alam nyata dan alam gaib adalah setipis benang merah. Dan hamba, Sang Pamabore, akan senantiasa berdiri sebagai penjaga gerbang di antara kedua dunia itu, memegang bara api kemenyan dan mantra leluhur demi keselamatan anak cucu Bantang Salako.
Maka tamatlah hikayat Pamabore ini dengan segala kerahasiaan dan keagungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar