Malam yang sunyi selalu menjadi waktu terbaik bagi Pak Hendra untuk menumpahkan segala harapannya. Di hadapan nyala lilin yang temaram, ia tak henti-hentinya berdoa agar Sang Pencipta mengaruniai keluarganya seorang buah hati. Doa-doa yang dipanjatkan penuh rasa sabar itu akhirnya terwujud. Waktu berlalu, hingga gema tangis bayi memecah keheningan malam. Seorang anak laki-laki yang sehat telah lahir, dan dengan penuh rasa syukur, mereka memberinya nama Sabiru.
Sabiru tumbuh menjadi bocah yang cerdas. Saat usianya menginjak lima tahun, Pak Hendra dan istrinya sepakat untuk mengirim Sabiru menimba ilmu dan belajar mengaji kepada para guru terbaik. Sepuluh tahun lamanya Sabiru berada di perantauan hingga di usianya yang ke-15, ia kembali pulang ke rumah sebagai pemuda yang santun. Kebahagiaan keluarga itu semakin lengkap ketika Sabiru dijodohkan dan menikah dengan Stefanie, seorang wanita berparas cantik dari keluarga berada.
Kehidupan baru sebagai suami istri pun dimulai. Suatu hari, Sabiru dan Stefanie sepakat untuk memelihara seekor burung jantan di rumah mereka. Namun, selang beberapa hari, Pak Hendra memperhatikan ada yang aneh dengan burung tersebut. Unggas kecil itu selalu tertunduk murung di dalam sangkarnya.
"Pa, aku lihat burung jantan kita terlihat murung. Mungkin dia perlu teman," ujar istri Pak Hendra lembut saat menghampirinya.
Pak Hendra tersenyum dan mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu nanti Papa akan menambah satu ekor lagi."
Tanpa menunda waktu, Pak Hendra langsung bergegas menuju pasar. Di antara riuk pikuk para pedagang, ia memilih seekor burung betina yang tampak lincah, tak lupa membeli sebuah sangkar baru yang lebih nyaman.
Sesampainya di rumah, Pak Hendra perlahan memasukkan kedua burung itu ke dalam sangkar yang sama. Seketika suasana verandah rumah berubah merdu—burung jantan yang tadinya murung kini kembali berkicau riang menyambut teman barunya, layaknya keluarga mereka yang kini penuh dengan kehangatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar