Selasa, 15 September 2026

ROMAN TAKDIR DI ATAS TANAH HARAPAN

Bagian I: Dua Bintang di Pangkuan Saudagar

Pada awal abad ke-20, ketika kapal-kapal dagang berbendera Hindia Belanda masih ramai lalu lalang di pelabuhan pesisir, lahirlah Bahari dan Kinah. Bahari lahir dari keluarga Loson Namvo, seorang saudagar rempah kaya raya yang menguasai gudang-gudang penyimpanan di kota. Sementara Kinah, yang lahir hanya berselisih beberapa bulan, adalah putri Usup Nyabukng, pedagang dan Bendahara Kongsi terkemuka saat itu.

Sejak kedua bayi itu berada di dalam buaian, kedua orang tua mereka yang bersahabat erat telah mengikat janin ikrar. "Agar tanah, gudang, dan usaha kita tak jatuh ke tangan orang asing, kelak bila mereka dewasa, Bahari dan Kinah harus kita satukan," ujar Loson Namvo diiringi anggukan setuju Usup Nyabukng. Bahari kecil tumbuh sebagai anak laki-laki yang tegap dan gemar bertualang, sedangkan Kinah menjelma menjadi gadis yang lembut, pandai merajut, serta berbakti.

Bagian II: Badai Pendudukan Jepang dan Janji yang Tertunda

Memasuki pertengahan dekade 1940-an, bala tentara Jepang masuk menggantikan Belanda. Kehidupan yang semula tenang berubah mencekam. Bahari muda yang beranjak dewasa dipaksa masuk dalam pelatihan Seinedan dan Laskar Rakyat oleh tentara pendudukan. Keberanian dan kecerdasannya membuat Bahari terpilih menjadi salah satu pemuda yang akan dikirim ke pangkalan militer utama di Hiroshima, Jepang, untuk menjalani pendidikan militer tingkat lanjut.

Sebelum keberangkatannya yang penuh ketidakpastian, kedua orang tua mereka mempercepat pernikahan. Di bawah ancaman Perang Dunia II, Bahari dan Kinah resmi dinikahkan dalam pesta sederhana. Namun, belum sempat mereka mengecap manisnya mahligai rumah tangga, Bahari dipanggil ke markas tentara Jepang.

Kinah melepas suaminya di pelabuhan dengan air mata yang ditahan. Namun, takdir menentukan jalan lain. Kapal yang hendak membawa Bahari batal berlayar ke Hiroshima setelah kabar menggemparkan mengetuk dunia: Hiroshima dan Nagasaki hancur dihantam bom atom sekutu. Jepang menyerah kalah, dan Bahari selamat dari maut sebelum sempat menginjakkan kaki di Jepang.

Bagian III: Derap Langkah dan Peluru

Pasca-Kemerdekaan Indonesia, Bahari tidak kembali ke dunia perdagangan milik ayahnya. Panggilan jiwa membuatnya mendaftarkan diri menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia. Di rumah, Kinah dengan sabar merawat putra pertama mereka yang lahir di tengah riuk-pikuk revolusi, seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ramli.

Tugas negara tak pernah membiarkan Bahari berlama-lama mendekap anak dan istrinya. Pada pertengahan tahun 1960-an, ketika gejolak politik memuncak pasca-peristiwa G30S, Bahari dikirim ke medan penumpasan sisa-sisa kekuatan PKI. Belum usai tugas itu, tugas yang lebih berat dan panjang menantinya di pedalaman Kalimantan Barat: penumpasan gerakan gerilya PGRS/Paraku (Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara).

Berbulan-bulan Bahari terpisah oleh lautan dan rimba dari keluarga kecilnya. Surat-surat yang dikirimkannya sering kali terlambat berbulan-bulan, hingga Kinah kerap dicekat rasa cemas yang teramat sangat setiap kali mendengar berita tentang prajurit yang gugur di hutan pedalaman.

Bagian IV: Menembus Belantara demi Cinta

Ramli telah belajar berjalan ketika Kinah mengambil keputusan ternekat dalam hidupnya. Bagi Kinah, membiarkan suaminya berjuang sendirian di tengah kecamuk perang sambil menanti kabar ganjil di rumah adalah siksaan yang lebih kejam daripada peluru lawan.

"Aku tidak bisa terus menunggu di sini sementara Bahari bertarung dengan nyawanya di belantara," tegas Kinah kepada Loson Namvo dan Usup Nyabukng. Dengan menggendong Ramli kecil dan membawa perbekalan seadanya, Kinah menyusul suaminya ke daerah pos perbatasan di Kalimantan Barat.

Perjalanan itu dipenuhi penderitaan. Kinah harus naik kapal kayu mengarungi gelombang, menembus pos-pos pemeriksaan militer, hingga menelusuri jalan setapak berlumpur di pedalaman hutan. Ketika Kinah akhirnya tiba di pos barak militer dengan pakaian berdebu dan napas terengah, Bahari yang baru saja kembali dari patroli rimba terpaku. Tentara yang dikenal tangguh di medan perang itu runtuh dan berlutut, meneteskan air mata mendekap Kinah dan Ramli di tengah riuhnya barak militer.

Bagian V: Akhir Perjalanan Seorang Prajurit

Kinah menetap di asrama tentara di dekat medan tugas, mendampingi Bahari melewati tahun-tahun berat penumpasan PGRS/Paraku hingga situasi perbatasan kembali kondusif. Kehadiran Kinah dan Ramli menjadi benteng kedamaian di tengah dentuman senjata dan dinginnya malam rimba.

Tahun demi tahun berganti. Setelah pensiun dari dinas militer dengan pangkat dan kehormatan, Bahari memboyong Kinah dan Ramli kembali ke kampung halaman. Harta peninggalan Loson Namvo dan Usup Nyabukng yang dulu disatukan lewat pernikahan tak pernah membuat Bahari lupa diri; ia dan Kinah memilih hidup dalam kesederhanaan, mendidik Ramli hingga menjadi insan yang berguna bagi bangsa.

Di usia senjanya, ketika rambut mereka telah memutih sepenuhnya, Bahari dan Kinah sering duduk bersama di teras rumah. Bahari memegang erat jemari Kinah yang telah berkerut—jemari yang dulu berani menembus belantara perang demi dirinya.

Hingga pada suatu sore yang tenang, Kinah mengembuskan napas terakhirnya dalam pangkuan Bahari dengan senyum damai. Tak berapa lama kemudian, Bahari yang tak pernah ingin terpisah dari kekasih jiwanya, menyusul sang istri menghadap Sang Pencipta. Cinta yang dahulu dimulai dari perjodohan harta para saudagar, kini abadi sebagai kisah kesetiaan yang menembus batas-batas sejarah dan peperangan.

Tidak ada komentar:

Hikayat Sang Tukang Barayopm dan Jemari Pemikat Rimba

Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah l...