Aroma dupa di altarku kalah tajam oleh bau mesiu yang ditinggalkan perang. Dari balik jendela kayu tempat tinggalku di pasar Montrado, aku kerap mencuri pandang ke arah jalan raya yang sedang diperlebar oleh orang-orang kampung. Di sana, di antara debu dan derap langkah serdadu Belanda, aku pertama kali melihatnya.
Nama pemuda itu Lian. Ia seorang pemuda Dayak dari Mempawah yang ditugaskan membimbing warga desa mengerjakan jalan menuju Pangkalan Batu. Berbeda dengan para prajurit Kompeni yang membawa senapan dengan angkuh, Lian memegang cangkul dan parangnya dengan jemari yang tenang. Saat tatapan kami pertama kali bertemu, ada kehangatan terlarang yang menyusup ke dadaku—sebuah perasaan yang tak seharusnya tumbuh di tanah yang dicengkeram ketakutan.
"Ah-Mei, menjauhlah dari jendela!" gertak Ayahku, seorang bekas pengurus kongsi yang kini hidup dalam rasa cemas. "Orang-orang kulit putih itu telah merampas tanah kita, dan orang-orang lokal itu bukan bangsa kita. Jangan biarkan mata mereka menyentuhmu."
Aku menunduk, mengusap pita merah di ujung kuncir rambutku. Ayah tak tahu bahwa setiap senja, saat api unggun dinyalakan untuk menghalau dingin hutan, Lian kerap berdiri di tepi pagar pasar, menyelundupkan ukiran kayu kecil berbentuk burung enggang ke genggamanku.
"Jika jalan ini selesai, orang-orangku akan kembali ke pedalaman," bisik Lian malam itu di balik bayangan pohon asam. Matanya yang tajam menatapku penuh janji. "Ikutlah bersamaku ke Mempawah, Ah-Mei. Di sana tak ada kongsi, tak ada serdadu, hanya ada sungai dan hutan yang tenang."
"Bagaimana bisa, Lian?" tangisku pelan. "Jika Kompeni tahu atau orang-orang kongsi melihat kita, mereka akan menganggap kita pengkhianat."
Lian menggenggam jemariku yang dingin. "Cinta kita tidak punya bangsa, Ah-Mei. Esok malam, saat pesta perayaan peraturan baru digelar di alun-alun, bertemulah denganku di tepi Sungai Raya. Kita akan lari."
Malam festival tiba. Alun-alun Thang meriah oleh gelak tawa serdadu Eropa, dentang gamelan tarian pengayau, dan riuhnya panggung wayang. Namun dadaku bergemuruh oleh hal lain. Aku berdiri di bawah rindangnya pohon rimba di tepi Sungai Raya, menanti sosok Ah-Mei dengan sebilah dayung di tangan dan sebuah perahu kecil yang sudah kusiapkan.
Sinar bulan memantul di permukaan air sungai yang tenang. Suara musik festival terdengar samar dari kejauhan, terbungkus oleh bisikan angin malam. Hati kecilku melambung setiap kali mendengar langkah kaki menepuk lumpur basah.
Namun, yang muncul dari balik kegelapan malam bukan hanya Ah-Mei.
Dua orang pria Cina berwajah keras—bekas pengawal kongsi yang melarikan diri ke hutan—berdiri di belakang Ah-Mei. Salah satu dari mereka memegang lengan Ah-Mei dengan kasar, sementara yang lain menggenggam pisau beracun yang mengilat tertimpa cahaya bulan.
"Gadis pengkhianat!" desis pria itu dalam bahasa yang samar kuyahami. "Kau ingin lari dengan anak Dayak ini sementara tanah kita dihancurkan?"
"Lian, lari!" jerit Ah-Mei, matanya sembap oleh air mata.
"Lepaskan dia!" teriakku seraya menarik mandau dari pinggangku, melangkah maju tanpa ragu.
"Lian, jangan!" tangis Ah-Mei pecah. Dalam keputusasaan yang luar biasa, Ah-Mei menghentakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri untuk berlari menuju pelukanku.
Namun, kegelapan malam dan ketakutan membuat segalanya berubah menjadi tragedi. Pengawal kongsi yang panik mendorong Ah-Mei dengan kasar. Tubuh mungilnya terhuyung jatuh ke arah tepi sungai yang curam, mendarat di atas batu tajam sebelum terseret arus Sungai Raya yang mendadak deras.
"Ah-Mei!" jeritanku membelah malam.
Tanpa berpikir panjang, aku melompat ke dalam air yang gelap dan dingin. Aku menerjang arus, meraba-raba di dalam kegelapan hingga tanganku berhasil menggapai jemarinya. Aku menarik tubuhnya ke tepi daratan, memangku kepalanya yang terkulai lemah. Pita merah di kuncir rambutnya telah basah oleh darah.
Napas Ah-Mei tersengal, amat pelan dan rapuh. Di bawah temaram cahaya bulan, wajahnya tampak begitu pucat, namun matanya yang indah masih menatapku dengan sisa kekuatan yang ada.
"Lian..." bisiknya, suaranya hampir tenggelam oleh deru air sungai. "Maafkan aku... aku tak bisa ikut ke Mempawah..."
"Tidak, Ah-Mei, bertahanlah!" tangisku menetes di pipinya. Aku memeluknya erat, menekan luka di kepalanya dengan kain rompiku. "Kita akan pergi malam ini. Aku akan membawamu melihat rumahku di tepi sungai..."
Ah-Mei tersenyum tipis, sebuah senyuman paling tulus yang pernah kulihat di tengah kejamnya tanah Montrado. Jemarinya yang gemetar terangkat perlahan, menyentuh ukiran burung enggang kayu yang masih tergantung di leherku.
"Di dunia ini... kita terpisah oleh hukum perang mereka..." paut Ah-Mei pelan, matanya mulai meredup. "Tapi carilah aku... di balik awan... tempat tak ada lagi benteng dan serdadu..."
Jemarinya perlahan terkulai lemas. Lembaran napas terakhirnya berhembus lembut menyapu dadaku. Cahaya di matanya padam, meninggalkan tubuh kaku yang kini terbaring bisu di dalam pelukanku.
Aku mengecup dahi Ah-Mei yang dingin, meratapi takdir tragis yang merenggut cinta kami sebelum sempat berkembang. Di balik rimba Montrado yang sunyi, di tepi sungai yang menjadi saksi bisu, aku memangku jasadnya hingga fajar menyingsing.
Perang di Montrado mungkin telah usai dan tatanan baru telah ditegakkan, tetapi bagiku, dunia telah berakhir malam itu—ditelan arus Sungai Raya bersama cinta suci yang tak pernah direstui zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar