Di balik dinding-dinding kayu istana Kota Lama, cinta Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu tumbuh bagaikan bungsu cempaka yang mekar di tengah riaknya Sungai Sambas. Pernikahan mereka bukan sekadar persatuan dua putra-putri bangsawan besar, melainkan pengikat dua takdir: Raden Sulaiman, putra Raja Tengah dari Berunai, dan Mas Ayu Bungsu, putri manis kesayangan almarhum Ratu Sepudak. Dalam tatapan mata mereka, ada kehangatan ikhlas yang menenangkan jiwa, tempat keduanya saling bersandar di tengah hiruk-pikuk kekuasaan istana.
Namun, di istana yang tampak tenang itu, asmara mereka senantiasa dibayangi oleh jelaga dengki. Pangeran Aria Mangkurat, saudara dari Raja Ratu Anom Kesuma Yuda, menatap Raden Sulaiman dengan tatapan penuh kebencian. Hatinya terbakar setiap kali menyaksikan betapa rakyat jelata dan para menteri begitu mengagumi Raden Sulaiman. Bagi Aria Mangkurat, senyum Raden Sulaiman adalah ancaman, dan kebahagiaan pemuda itu bersama Mas Ayu Bungsu adalah duri di dalam dagingnya.
Tragedi mulai merayap tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda berlayar menuju Negeri Johor untuk mengantar upeti. Sepeninggal sang raja, Aria Mangkurat menyebarkan desas-desus beracun di sudut-sudut istana. Ia menuduh Raden Sulaiman tengah merencanakan kudeta berdarah untuk merebut takhta.
"Kanda, benarkah rumor jahat itu sengaja ditiupkan oleh Pangeran Aria Mangkurat?" bisik Mas Ayu Bungsu pada suatu malam, merapatkan tubuhnya di dada Raden Sulaiman sembari menggenggam jemari suaminya.
Raden Sulaiman mengelus lembut rambut istrinya, menatap redup lilin yang bergetar ditiup angin malam. "Biarlah fitnah itu terbang bersama angin, Dinda. Hati Kanda murni, hanya ada kedamaian untuk negeri ini dan kasih sayang untukmu."
Puncaknya terjadi tatkala se pucuk surat bertorehkan meterai kerajaan tiba dari lautan. Ratu Anom mengabarkan bahwa ia akan berlabuh di Kuala Muara Sungai Sambas Besar tepat pada saat bulan purnama raya. Ia memerintahkan penyambutan agung disiapkan.
Dengan penuh keikhlasan, Raden Sulaiman bekerja siang dan malam bersama sahabat setianya, Kiyai Setia Bakti, menghias perahu dan menyiapkan pesta penyambutan. Namun, Pangeran Aria Mangkurat hanya berdiri di kejauhan dengan wajah dingin melipat tangan, enggan menyentuh persiapan itu sedikit pun.
Malam purnama raya pun tiba. Cahaya perak memantul di permukaan air tatkala ratusan layar putih milik armada Ratu Anom membentang megah di muara. Sorak-sorai gembira dan dentum genderang bergema di udara saat Raden Sulaiman memimpin penyambutan. Pesta di istana berlangsung gilang-gemilang, tetapi kegembiraan itu berumur pendek.
Melihat betapa diagungkannya Raden Sulaiman dalam pesta itu, amarah dan dengki Aria Mangkurat tak lagi tertahan. Di tengah riuhnya musik, ia mencabut kerisnya dan menghujamkannya ke dada Kiyai Setia Bakti. Orang kepercayaan Raden Sulaiman itu roboh bersimbah darah di pelataran istana.
Suasana pesta seketika berubah menjadi jeritan horor. Mas Ayu Bungsu menggenggam erat lengan suaminya, merinding menyaksikan kekejaman saudaranya sendiri. Namun, tragedi sesungguhnya membakar hati Raden Sulaiman tatkala Ratu Anom Kesuma Yuda justru enggan menghukum Aria Mangkurat. Keadilan telah mati di Kota Lama.
"Kita harus pergi, Dinda," bisik Raden Sulaiman malam itu, menatap mata Mas Ayu Bungsu yang berlinang air mata. "Istana ini bukan lagi rumah bagi cinta kita, melainkan sarang api yang siap membakar rakyatnya sendiri dalam perang saudara."
Demi menyelamatkan asmara mereka dan menghindarkan rakyat dari tumpahan darah, Raden Sulaiman dan Mas Ayu Bungsu memilih melangkah keluar dari Kota Lama. Berdua, mereka melintasi belantara pekat menuju daerah Bandir untuk membangun kehidupan baru di Kota Bangun. Di sana, di antara duka kehilangan tanah kelahiran dan luka oleh kejahatan saudara, cinta mereka tetap bertahan—menjadi pilar bagi harapan yang kelak melahirkan zaman baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar