Manusia mengenalku sebagai Dentha, sang mandor gaib. Di dunia yang tak kasat mata ini, tugas-tugas pengusiran selalu jatuh ke tanganku. Saban kali para cukong manusia ingin mendirikan mal atau gedung bertingkat, akulah yang disewa untuk mensterilkan lahan dari hantu-hantu lama. Di tangan kananku, tergenggam sebuah tongkat kayu hitam pekat yang menjadi sumber seluruh kekuatanku. Bersama sepuluh anak buah kepercayaanku, aku adalah penguasa mutlak di wilayah proyek ini. Aku tak pernah gagal, tak pernah ragu, sampai malam itu—malam ketika aku bertemu dengannya.
Dia adalah Laras, roh wanita penjaga pohon jati tua yang tumbuh di pojok lahan. Berbeda dengan roh lain yang menyerangku dengan benci, Laras hanya berdiri diam di bawah rembulan, menatapku dengan sepasang mata redup yang menyimpan kesedihan teramat dalam.
"Pergilah, Laras. Tempat ini sudah dibeli manusia. Sebulan lagi beton-beton akan menancap di tanahmu," ujarku dingin, meski ada debar aneh yang mendadak menyusup ke dalam dadaku yang biasanya sekeras batu.
Laras tersenyum getir, melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun pada tongkat hitamku. "Lalu ke mana aku harus pergi, Dentha? Kota ini sudah penuh. Di mana-mana hanya ada kaca dan baja. Jika aku pergi, aku hanya akan menjadi hantu gelandangan tanpa rumah."
Melihat gundah di wajahnya, egoku runtuh. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, aku melakukan kerja ekstra yang menguras energiku. Aku menyiapkan sebuah tempat baru untuknya, sebuah sudut hutan terpencil yang belum terjamah manusia, jauh di luar kota.
"Aku sudah menyiapkan tempat untukmu di sana, Laras. Pergilah demi aku," bisikku malam itu, menggenggam jemarinya yang sedingin es.
Laras menatapku lekat-lekat. "Aku tidak peduli dengan tempat indah itu, Dentha. Aku hanya ingin bersamamu. Berjanjilah, setelah tugasmu di sini selesai, kau akan menyusulku ke hutan itu."
"Aku berjanji," jawabku mantap. Janji itulah yang menjadi asmara rahasia di antara kami, sebuah harapan manis di tengah gersangnya dunia proyek.
Namun, cinta di dunia gaib sering kali berakhir tragis. Beberapa roh tua sekutu Laras menolak keras untuk pindah. Mereka merasa dikhianati dan memilih bersembunyi di celah-celah bumi, menyusun rencana perlawanan.
Memasuki bulan kedua, saat bangunan manusia mulai meninggi, roh-roh itu mulai memprotes. Mereka merusak mesin ekskavator, memutus kabel baja, dan membuat para pekerja manusia jatuh sakit. Proyek kacau balau. Pemilik modal manusia menuntut hasil lewat ritual sajen di tengah malam. Aku terdesak oleh sumpah kontrak.
"Cari pengacau-pengacau itu! Hancurkan siapa saja yang menolak pergi!" perintahku pada anak buahku dengan amarah yang meluap. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat agar bisa segera menyusul Laras.
Pertempuran hebat di dimensi gaib pecah malam itu. Jeritan roh-roh yang tercabik bergema di udara malam. Aku merangsek maju membawa tongkat hitamku, menumbangkan setiap perlawanan. Hingga di sebuah sudut pondasi yang gelap, langkahku terhenti.
Laras berdiri di sana. Ia tidak pergi ke hutan yang kujanjikan. Di tangannya, ada sebilah pusaka bumi berenergi pekat. Wajahnya yang dulu lembut kini dipenuhi kekecewaan yang teramat runtuh.
"Kau membohongiku, Dentha," isaknya, air mata darah mengalir di pipinya. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau menghancurkan kaumku. Kau mengusir mereka demi menjadi budak keserakahan manusia!"
"Laras, tidak! Aku melakukan ini agar kita bisa segera pergi bersama!" teriakku, mencoba mendekat.
"Sudah terlambat, Dentha! Asmara kita adalah sebuah kesalahan!"
Laras menerjangku dengan sisa seluruh kekuatannya. Bukan untuk membunuhku, melainkan untuk menghancurkan sumber kutukan yang membelenggu hidupku. Ia menghantamkan seluruh inti energinya langsung ke arah tongkat hitam di genggamanku.
KRAAAK!
Tongkat kekuasaanku retak dan hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu, seluruh kekuatan gaibku menguap tak bersisa. Aku ambruk, dadaku terasa hampa dan sesak. Namun yang lebih menyakitkan adalah melihat tubuh Laras yang perlahan memudar, menjadi abu spiritual yang terbawa angin malam karena telah mengorbankan seluruh eksistensinya untuk menghancurkan tongkatku.
"Laras!!!" jeritanku melengking membelah malam, namun terlambat. Dia telah tiada, menyisakan kehampaan yang abadi. Anak-anak buahku yang melihatku kehilangan kekuatan langsung lari kocar-kacir meninggalkanku.
Kini, mal megah itu telah berdiri dengan kokoh. Di malam hari, lampu-lampunya berkilauan memikat hati manusia. Namun di basement terdalam yang gelap dan pengap, aku duduk bersandar pada tiang beton.
Aku kini hanyalah roh cacat yang lemah dan tak berdaya. Aku kehilangan segalanya—kekuatanku, harga diriku, dan wanita yang kucintai. Aku menjadi hantu gelandangan di atas tanah yang dulu kubersihkan dengan tanganku sendiri. Di tengah kebisingan langkah kaki manusia di atas sana, aku hanya bisa meratapi nasib, memeluk bayang-bayang janji asmara kami yang telah hancur terkubur di bawah dinginnya semen dan beton proyek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar