Namaku Nyayan. Aku lahir di bawah rimbunnya pohon-pohon pahlawan di pedalaman Larah. Bagi sukuku, hutan ini bukan sekadar kumpulan pohon dan tanah basah. Hutan ini adalah napas kami, tempat nenek moyang kami meniti jejak, dan tempat roh-roh penjaga bersemayam dalam kesunyian. Namun, semenjak kilau kuning dari perut bumi mulai menggoda hati manusia-manusia dari luar, kedamaian di tanah kami perlahan-lahan menguap bagai embun pagi yang tersengat terik matahari.
Aku masih ingat cerita tetua adat kami tentang tahun 1770. Waktu itu aku belum lahir, namun kisah tentang dua Kepala Suku kami yang dibunuh oleh orang-orang perkongsian Cina di Montrado selalu dinyanyikan dalam ratapan malam. Kematian mereka menyulut api kemarahan. Kami menuntut balas, dan perang besar sempat mengotori kesucian hutan kami dengan darah.
Namun, keputusan Sultan Sambas setelahnya justru memojokkan kami. Demi upeti emas yang mengalir setiap bulan ke istana pesisir, orang-orang perkongsian itu diberikan kebebasan penuh untuk mengatur daerah mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka bertindak bagai raja-raja baru. Parit-parit raksasa digali, sungai-sungai dijebol demi mencari emas, dan ladang-ladang perburuan kami kian menyusut. Kami, anak-anak kandung tanah ini, perlahan-lahan terdesak, terpaksa mundur semakin jauh ke hulu sungai dan pedalaman yang sunyi.
------------------------------
Tahun 1854 tiba, dan hutan kami kembali bergemuruh oleh suara yang asing. Bukan suara badai, melainkan suara dentuman besi yang memuntahkan api. Manusia berkulit putih yang mereka sebut Kompeni Belanda datang dari arah pesisir dengan seragam biru gelap mereka. Mereka membawa meriam-meriam besar, bergerak menuju Montrado untuk merebut tanah emas dari tangan kongsi Cina.
"Nyayan, jangan dekat-dekat ke hilir sungai hari ini. Hutan sedang marah," bisik ibuku sambil memeluk adikku erat-hari itu di dalam rumah panggung kami.
Namun, rasa ingin tahu anak muda mengalahkan rasa takutku. Dengan menggenggam mandau warisan ayahku yang terselip di pinggang, aku merayap di antara rimbunnya semak belukar di tepi rawa. Dari balik daun-daun pakis yang besar, aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Dua kekuatan dari luar tanah kami sedang saling menjagal.
Pasukan kongsi Cina, dengan baju kelam dan caping mereka, bergerak lincah di antara akar-akar pohon bakau. Mereka menembakkan senapan sundut dari atas pohon, menyergap pasukan Belanda yang berjalan beriringan. Di sisi lain, serdadu Belanda membalas dengan dentuman meriam yang dahsyat. Blam! Blam!
Setiap kali meriam itu berbunyi, jantungku serasa copot. Pohon-pohon raksasa yang telah berusia ratusan tahun tumbang seketika, hancur berkeping-keping. Tanah tempat kami berpijak bergetar hebat. Burung-burung enggang terbang ketakutan, meninggalkan sarang mereka yang rusak. Hutan yang dahulunya penuh dengan suara alam, kini dipenuhi oleh jeritan kesakitan manusia dan bau busuk asap mesiu.
Beberapa kali, orang-orang perkongsian meminta bantuan kami untuk menunjukkan jalan rahasia di dalam hutan guna menyergap Belanda. Di waktu lain, mata-mata Belanda mencoba menyuap kami dengan manik-manik dan kain beludru demi informasi tentang benteng kongsi. Namun, bagi kami, kedua pihak itu sama saja. Mereka bertempur bukan untuk menjaga kesucian tanah ini, melainkan untuk memperebutkan kuasa atas emas yang tertanam di bawah kaki kami. Kami terhimpit di tengah pertarungan dua raksasa serakah.
------------------------------
Tahun 1855, perang itu akhirnya mereda. Montrado jatuh ke tangan Belanda. Otoritas kongsi dihancurkan, dan bendera Belanda berkibar angkuh di atas tanah-tanah bekas galian.
Suatu sore, aku berjalan menyusuri bekas medan pertempuran di dekat Sungai Duri. Suasananya teramat memilukan. Sungai yang dahulu jernih tempat kami mencari ikan kini berubah keruh, berwarna cokelat pekat karena lumpur sisa galian tambang yang telanjur rusak oleh perang. Di tepian sungai, aku melihat sisa-sisa barikade kayu yang terbakar dan beberapa caping yang hanyut terbawa arus.
Belanda kini menjadi penguasa baru di pesisir dan pedalaman. Mereka menerapkan aturan-aturan baru, menghitung setiap kepala, dan membatasi gerak-gerik kami. Orang-orang Cina perkongsian yang dahulu jemawa kini berjalan menunduk, dipaksa membayar upeti tiga gulden dan banting setir menjadi petani lada atau buruh demi bertahan hidup di bawah telapak kaki kompeni.
Aku berdiri di atas sebuah bukit batu, menatap bentangan hutan Larah dan Montrado yang kini tak lagi sama. Banyak bagian hutan yang telah botak dan menyisakan lubang-lubang menganga berisi air hujan yang beracun. Perang emas ini telah usai, namun kemenangan dan kekalahan di antara mereka hanya menyisakan satu kepastian bagi sukuku: kami kehilangan kedamaian rumah kami. Dengan mandau yang masih setia di pinggang, aku berbalik dan berjalan melangkah lebih jauh ke dalam jantung belantara yang tersisa, menjaga tradisi kami tetap hidup di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keserakahan meriam dan kilau emas.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar