Syahdan maka tersebutlah suatu penceritaan kuno dari tanah Bantang Salako, sebuah petempatan tua yang dilingkungi belantara ulin nan megah lagi subur di bumi Kalimantan. Di dalam komunitas petempatan tersebut, hiduplah insan-insan yang dikaruniai hikmat serta keterampilan jemari nan mahatinggi. Mereka tiada hanya menggenggam alatan besi atau bertarung di alam gaib, melainkan menenun jaluran serat alam menjadi alatan nan menopang seluruh napas kehidupan warga.
Maka adapun hamba yang empunya penceritaan ini bernama Mak Seniah, seorang perempuan tua yang dikenal oleh segenap penduduk bantang sebagai Tukang Barayopm—yakni seorang pandai yang khusus menciptakan pelbagai alatan menganyam, alatan pertanian, penangkap ikan, hingga kelengkapan rumah tangga dari serat-serat rimba. Dari tangan hamba yang keriput namun lincah ini, terlahir alatan pertanian seperti teneng, antoro, uko’, konse’, dan bangkat; alatan penangkap ikan di sungai seperti bubu dan antikng; serta perabot rumah panggung seperti nyiru, sapu banar, daku’, baku, jaeje (rago’), dan lubu’ nan dianyam anggun dari daun sake’ (sejenis pandan hutan).
Sebermula, alkisah pada suatu pagi tatkala embun fajar masih bergayutan di ujung daun dan kabut tipis merayap pelan di selasar bantang, datanglah seorang gadis muda bernama Lenggang menyambangi pondok hamba. Wajahnya membayangkan kecemasan nan amat sangat seraya matanya menatap bertumpuk-tumpuk helai daun sake’ yang telah dikeringkan di sudut serambi hamba.
"Ampunkan hamba, wahai Mak Barayopm nan bijaksana," kata Lenggang seraya membongkokkan badannya dengan rasa takzim nan dalam. "Musim mengetam dan menjemur padi (ngirik) kian menghampiri. Namun, tikar gagadokng di rumah panggung hamba telah hancur dimakan usia, dan alat penangkap ikan bubu milik ayah hamba jua telah patah dilanda arus sungai. Hamba mohon dengan amat sangat, ajarkan dan bimbinglah hamba menganyam serat-serat rimba ini menjadi alatan nan kukuh!"
Hamba menghentikan gerakan tangan yang sedang meraut bilah-bilah rotan, lalu menatap Lenggang dengan senyuman yang hangat.
"Wahai anakku," bersabda hamba dengan suara yang lembut lagi merdu. "Ketahuilah olehmu, bahwasanya ilmu barayopm ini bukanlah sekadar menyilangkan sehelai serat di atas serat yang lain. Di dalam setiap belahan daun sake’ selebar tiga sentimeter yang kita pilah, dan dalam setiap pilinan rotan simpe yang kita ikat, tersirat doa keselamatan dan ketahanan raga warga Salako tatkala berhadapan dengan ganasnya alam. Mari kita mulakan karya ini sebelum fajar menepi."
Maka duduklah Lenggang di sisi hamba di atas serambi rumah panggung. Hamba mengambil belahan-belahan daun sake’ keemasan yang telah dijemur halus. Jemari tua hamba mulai menyilangkan helaian demi helaian dengan ritme nan teratur lagi cepat, membentuk pola anyaman tikar gagadokng nan tebal lagi halus. Tikar ini menjadi alas agung tempat warga duduk bermusyawarah, tempat beradu tatkala malam mencekam, hingga menjadi hamparan sakral tatkala Tukang Babore menggelar ritual pengobatan baiotn.
"Tengoklah dengan cermat, Lenggang," petunjuk hamba seraya mengarahkan jemari gadis itu. "Setiap helai daun pandan sake’ ini harus saling mengunci dengan saksama. Satu anyaman yang longgar akan membuat tikar gampang terurai tatkala dipakai mengirik padi di lapangan."
Setelah tikar gagadokng selesai dianyam dengan eloknya, hamba bimbing pula Lenggang meraut bilah-bilah bambu tua untuk merangkai bubu dan antikng—alatan penangkap ikan yang tangguh. Tatkala kerangka bambu telah dibentuk, hamba memanggil seorang lelaki pandai yang mahir dalam ilmu simpe (yakni ikatan rotan) untuk mengikatkan rautan bambu itu dengan serat rotan nan amat kuat. Serat rotan diikatkan melingkari mulut kerangka dengan simpul-simpul khusus agar tiada pecah maupun renggang tatkala dihantam derasnya arus sungai.
Maka tatkala sang suria telah mencondong ke barat, siaplah tumpukan alatan nan mahaindah di atas serambi hamba: tikar gagadokng nan tebal, nyiru tempat menampi beras, buku dan rago’ wadah hasil ladang, serta bubu dan antikng nan siap diterjunkan ke dasar sungai. Lenggang menatap sekalian karya itu dengan air mata keharuan dan rasa takjub nan tak terhingga.
"Tengoklah wahai anakku," bersabda hamba seraya mengusap jemari Lenggang nan lembut. "Di bumi Bantang Salako ini, para pandai besi Tampotn menempa parang untuk merintis rimba, para pangarabanan menyambut nyawa baru, dan para pamabore menyembuhkan penyakit raga. Namun kitalah, Sang Tukang Barayopm, nan menyulap helai-helai daun pandan sake’ dan rotan hutan menjadi alatan nan menampung rezeki, melapangi tempat beradu, serta menyatukan kehidupan sehari-hari seluruh warga bantang."
Lenggang memeluk hamba dengan takzim. "Terima kasih, Mak Barayopm. Tanpa keterampilan tanganmu, tiadalah mungkin rezeki dan kehangatan di rumah panggung kami dapat tercipta dengan sempurna."
Syahdan, pada hari-hari berikutnya, sungai dan ladang di Bantang Salako dipenuhi keriangan. Ayah Lenggang mendapat tangkapan ikan nan melimpah dari bubu anyaman tersebut, dan keluarga mereka menjemur serta mengirik padi di atas tikar gagadokng dengan penuh rasa syukur.
Hamba duduk bersila di tingkap rumah panggung, menyaksikan kebahagiaan warga dari kejauhan seraya menganyam selembar daun sake’ nan baru. Selagi jemari para wanita dan lelaki Salako masih terampil meraut rotan dan menyilangkan pandan, keindahan dan kearifan karya barayopm di bumi Salako tiada akan pernah pupus ditelan zaman.
Maka tamatlah hikayat Tukang Barayopm ini dengan segala selamat, elok, dan sempurnanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar