Alkisah, pada zaman purbakala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diliputi kabut tebal dan bisikan para karuhun bergema di antara dedaunan pohon belian, berdiri suatu desa adat yang tenteram di tepi Sungai Sekayam. Tersebutlah perkampungan itu dipimpin oleh seorang Kepala Adat yang maha bijaksana, Petinggi Jaya namanya. Maka sekalian rakyat di sana hidup aman sentosa berdampingan dengan alam, memegang teguh adat dan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang demi memelihara keseimbangan kosmos.
Di antara sekalian hukum yang dijunjung tinggi oleh para tetua, ada satu aturan yang amat dipantangkan, dinamai Liur Bari. Bahwasanya hukum tersebut menggariskan tata krama dan kesopanan pergaulan, terkhusus perlakuan kaum laki-laki terhadap kaum wanita. Barang siapa yang bersengaja menyinggung perasaan wanita dengan bersiul, berdeham, atau melempar godaan kala mereka lalu-lalang, niscaya dianggap telah menodai kesopanan umum serta wajib menanggung sanksi adat.
Syahdan, di desa tersebut hiduplah seorang pemuda bernama Bungai. Ada pun Bungai itu molek parasnya, gagah perawakannya, lagi mahir berburu di dalam hutan. Syahdan, di balik ketampanannya itu, tersembunyi sifat yang angkuh serta suka memandang remeh petuah orang-orang tua. Sehari-hari pekerjaan Bungai hanyalah berkumpul bersama kawan-kawannya di sebuah pondok bambu di tepi jalan desa, bersenda gurau hingga jauh malam.
Hatta pada suatu petang, tatkala sang surya mulai gelincir ke barat dan memancarkan warna keemasan di dada langit, beberapa wanita desa berjalan melintasi pondok tempat Bungai dan kawan-kawannya bersemayam. Para wanita itu baru saja kembali dari ladang sambil menjunjung bakul berisi hasil panen. Di antara mereka, berjalanlah seorang perawan bernama Kumang, anak gadis yang amat halus budi pekertinya lagi elok parasnya.
Melihat rombongan wanita itu lalu, kawan-kawan Bungai pun segera menundukkan pandangan tanda hormat. Akan tetapi, Bungai yang hendak menunjuk-nunjukkan kehebatannya di hadapan kawan-kawannya justru berdiri tegap di hadapan pondok. Dengan senyum yang culas, Bungai bersiul nyaring serta berpura-pura batuk yang disengajakan demi memancing perhatian Kumang.
Maka gema siulan dan batuk buatan itu memecah kesunyian jalan setapak. Langkah Kumang dan kawan-kawannya pun terhenti seketika. Muka Kumang menjadi merah padam—bukan lantaran malu yang membawa sukacita, melainkan karena rasa tersinggung dan duka yang amat sangat di hadapan khalayak ramai. Tanpa terucap sepatah kata pun, Kumang mempercepat langkahnya menuju kediaman Kepala Adat dengan air mata yang bertakung di pelupuk mata.
Maka pada malam harinya, perihal kelakuan Bungai itu pun sampailah ke telinga Petinggi Jaya. Sang Kepala Adat segera menghimpunkan para tetua kampung lalu memukul gong adat sebagai pertanda adanya pelanggaran norma. Suara gong bergema tiga kali membelah malam, menandakan persidangan adat bakal digelar di rumah panjang tatkala fajar menyingsing.
Keesokan harinya, sekelian warga desa berhimpun di balai adat. Bungai berdiri di tengah-tengah balai dengan sikap yang dibuat-buat tenang, jua matanya tidak dapat menyembunyikan gundah di dalam dada. Petinggi Jaya duduk di tampuk pimpinan, dilingkungi oleh para tetua yang bermuka serius.
"Wahai Bungai," ujar Petinggi Jaya dengan suara bergema memecah kesunyian balai. "Engkau dipanggil ke balai ini atas tuduhan melanggar kesopanan adat terhadap kaum wanita. Adakah benar engkau dengan sengaja bersiul dan menggoda Kumang serta kawan-kawannya tatkala mereka melintas di hadapan pondokmu?"
Maka Bungai pun menjawab dengan nada mempermudah, "Ampun Tuanku Petinggi Adat, hamba sekadar bersenda gurau dan bersiul kecil. Tiada niat hamba hendak melukai atau merampas hak siapa pun. Haruskah perkara sepele seperti siulan dipersoalkan sedemikian rupa?"
Mendengar sembah Bungai yang demikian, Petinggi Jaya pun mengelus janggut putihnya seraya menggelengkan kepala.
"Dengarlah olehmu wahai pemuda," kata Petinggi Jaya dengan penuh kearifan. "Lidahmu boleh menganggap siulan itu perkara yang kerdil, tetapi angin yang membawanya telah merusak ketenangan hati seorang wanita. Hukum adat kita tiada hanya menjaga harta dan nyawa, melainkan jua memelihara kehormatan dan martabat setiap jiwa di tanah ini. Bahwasanya apa yang kau lakukan itu adalah pelanggaran Liur Bari."
Lalu Petinggi Jaya membacakan putusan adat mengikut tradisi para karuhun:
"Atas pelanggaran Liur Bari yang kau perbuat, engkau diwajibkan membayar denda adat kepada masyarakat dan pihak yang tersinggung. Adat menuntutmu menyerahkan sebuah tempayan, sebuah lagor, dan sebuah pinggan kasar."
Tercenganglah Bungai mendengar putusan tersebut. Tempayan dan lagor merupakan harta adat yang amat bernilai dan sukar didapati. Namun, oleh sebab keputusan adat itu sifatnya mutlak, maka keluarga Bungai pun bekerja keras menyerahkan sekalian denda adat tersebut ke balai desa demi memulihkan keharmonisan yang telah tercedera.
Sejak hari itu, insaflah Bungai bahwasanya setiap tutur kata dan perbuatan, sekecil apa pun ia, membawa akibat yang nyata bagi sesama. Ia pun belajar menjaga lidah dan prasangkanya, serta senantiasa memuliakan setiap wanita di desa itu.
Maka kisah perbuatan Bungai dan denda Liur Bari itu terus dituturkan dari zaman ke zaman oleh para tetua. Hikayat ini menjadi iktibar bagi sekalian anak cucu agar sentiasa memelihara batas-batas kesopanan, menghargai martabat wanita, serta memelihara tata hidup bermasyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar