Rabu, 23 September 2026

HIKAYAT RIYA SINIR DAN DARA HITAM

Syahdan, maka tersebutlah kisah di tanah Kerajaan Landak pada zaman dahulu kala. Alkisah, pada kira-kira tahun seribu tiga ratus tujuh puluh Masehi, tersebutlah cerita berkenaan Kaleder dan Anteber di bumi Pontianak. Syahdan, beroleh anaklah Riya Jambi seorang putra bernama Riya Sinir, yang juga digelari orang Bujang Nyangko. Adapun Riya Sinir itu seorang pemuda yang gagah perkasa, tangkas bermain gasing, lagi amat disayangi oleh ayahandanya.

Maka pada suatu hari, bertitahlah ibunda Riya Sinir meminta anaknya mencari kulit salai burung enggang guna dijadikan penawar dan perhiasan. Maka Riya Sinir pun masuklah ke dalam rimba belantara dengan membawa sumpitnya. Hatta, terpandanglah ia akan seekor burung enggang yang sedang bertengger di dahan pohon. Diberikannya tiupan sumpit dengan cermat, maka kena lah burung itu. Namun burung enggang itu terbang melayang dan jatuh tepat di dada seorang anak gadis di Tembawang Selipat.

Maka Riya Sinir pun mendapatkan gadis itu hendak mengambil kembali burung hasil buruannya. Namun, gadis kecil nan elok parasnya itu merawat burung yang terluka dengan penuh kasih. Bermulalah perbantahan antara keduanya, tetapi Riya Sinir akhirnya luluh oleh kelembutan dan tutur kata manis sang gadis. Tatkala Riya Sinir berterus terang akan maksud ibundanya, maka dengan ridha dan ikhlas hati, gadis itu menyerahkan burung enggang peliharaan tersebut.

Maka terharulah hati Riya Sinir melihat kerelaan sang gadis. Terbitlah rasa cinta dan kasih yang teramat dalam di dalam sanubari sang pemuda. Diberanikannyalah dirinya untuk mengikat janji sehidup semati. Maka gadis kecil itu pun tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Hatta, menurut adat istiadat setempat, gadis itu mengeluarkan sebuah cincin rotan lalu dicobakannya ke jari manis Riya Sinir. Seraya memegang tangan Riya Sinir dengan lembut, berkata lah gadis itu:

 "Jikalau kiranya cincinku ini cocok pada jari manismu, tentu engkaulah yang sudah dijodohkan Dewata bagiku."

Ajaibnya, cincin rotan itu terpasang dengan amat pas di jari manis Riya Sinir. Maka sah dan resmilah ikatan kasih di antara keduanya. Bertanyakan Riya Sinir akan nama sang kekasih, maka sahutnya dialah Dara Hitam.

Maka Riya Sinir pun bermohon diri pulang ke rumahnya dengan hati yang penuh riang gembira, membawa burung enggang beserta cincin pengikat janji. Manakala Dara Hitam tetap bersemayam di Tembawang Selipat, di tepi Sungai Tenganap, dengan setia menanti saat dan ketetapan masa untuk dipersunting oleh Riya Sinir.


Tidak ada komentar:

Hikayat Ngariboa Karumah

Maka tersebutlah pula suatu riwayat pada zaman dahulu kala, tatkala belantara tanah Kalimantan masih diselimuti kabut purba dan hukum para k...