Rabu, 21 Oktober 2026

Cerpen: Bandit Tak Boleh Menang

Malam di Petamburan terasa lebih dingin dari biasanya. Di ruang perawatan RS PELNI, bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung menjadi satu-satunya suara yang membelah keheningan. Di atas ranjang, Kamaruddin berbaring lemah. Tubuh yang dahulu selalu berdiri tegak di depan kamera televisi, menunjuk-nunjuk ketidakadilan tanpa gentar, kini tampak rapuh dikikis penyakit dan rutinitas cuci darah yang melelahkan.

Namun, di balik matanya yang terpejam, ingatan Kamaruddin melayang jauh ke masa lalu.

Ia teringat aroma tanah basah Siborongborong tahun 1992, saat ia melangkah meninggalkan kampung halaman dengan tas lusuh dan mimpi besar. Ia teringat dinginnya beton di bawah kolong jembatan Jakarta yang pernah menjadi tempatnya berteduh dari kerasnya ibu kota. Dari menjadi customer service restoran hingga sales keliling yang menyusuri lorong-lorong kota di bawah terik matahari, tak ada penderitaan yang tak pernah ia cicipi. Semua itu ia jalani demi satu cita-cita: memakai toga hitam dan menyuarakan kebenaran.

Tahun 2000, impian itu terwujud saat ia menggenggam ijazah hukum dari Universitas Kristen Indonesia. Namun, ujian sejati baru dimulai bertahun-tahun kemudian.

Bayangan tahun 2016 mendadak melintas tajam dalam benaknya. Hari itu, ia sedang beradu argumen di sebuah rapat pembelaan untuk Rachmawati Soekarnoputri. Ponselnya berdering. Suara di ujung telepon membawa kabar yang meremukkan dadanya: istri dan anaknya dibakar hidup-hidup di dalam mobil, hanya empat ratus meter dari rumah mereka.

Dunia seolah berhenti berputar saat itu. Rasa sakitnya melebihi puluhan jarum medis yang belakangan menyiksa tubuhnya. Namun, dari abu duka yang pekat itu, Kamaruddin tidak hancur. Dari puing-puing tragedi itu, jiwanya justru ditempa menjadi baja. Sejak hari kelam itu, rasa takut mati sepenuhnya dari dalam dirinya.

"Bandit yang harus takut sama kita. Jangan kita yang takut sama bandit!" bisiknya lirih dalam hati, mengulang kalimat mantra yang memandu setiap langkah hidupnya.

Langkah yang membawanya menembus ancaman pembunuhan senilai Rp11 miliar saat membongkar korupsi Wisma Atlet. Langkah yang membawanya berdiri sendirian di tahun 2022, menantang tembok raksasa kekuasaan saat membela almarhum Brigadir J. Ketika semua orang berbisik takut dan tunduk pada skenario palsu, Kamaruddin berteriak menyuarakan fakta hingga kebenaran terang benderang.

Kini, jarum jam menunjukkan pukul 02.47 WIB pada Senin dini hari, 19 Oktober 2026.

Napas Kamaruddin perlahan menyenang. Rasa sakit yang bertahun-tahun mengerogoti tubuhnya perlahan menguap. Ia tahu, tugasnya telah usai. Ia tak pernah mundur selangkah pun dari pertarungan membela kaum yang tertindas.

Dengan senyum tipis yang mengukir kedamaian di wajah tegasnya, pejuang hukum itu akhirnya mengembuskan napas terakhir. Jubah perjuangannya kini telah dilepas, meninggalkan warisan abadi tentang arti keberanian yang sesungguhnya di bumi Nusantara.

Tidak ada komentar:

Cerpen: Bandit Tak Boleh Menang

Malam di Petamburan terasa lebih dingin dari biasanya. Di ruang perawatan RS PELNI, bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung menjadi ...