Pagi itu, suasana kamar Victorinus Andi masih diselimuti hening. Jarum jam dinding kamarnya terus berputar tanpa kompromi, sementara ia masih bergelut dengan rasa malas di atas kasur. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, Andi terperanjat melihat waktu yang tertera di ponselnya. Sial, ia terlambat bangun! Akibatnya, jadwal mandinya pun menjadi sangat mepet.
Bagi Andi, tidak mandi sebelum ke sekolah bukanlah pilihan. Jika ia nekat berangkat tanpa membasuh diri, badannya pasti akan terasa lengket dan tidak nyaman sepanjang hari selama mengikuti pelajaran Bahasa Singkawang bersama Pak Hendra. Dengan gerakan kilat, ia menyambar handuk dan menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu singkat. Usai mandi, ia bergegas mengenakan seragam putih abu-abu kebanggaannya sebagai siswa kelas XI B, lalu memasukkan beberapa buku pelajaran yang sesuai dengan jadwal hari Selasa itu ke dalam tas.
"Andi berangkat dulu, Mak!" serunya berpamitan seraya mencium tangan ibunya di dapur.
Andi segera menuju halaman rumah, mengeluarkan sepeda motor bebeknya, dan memanaskan mesinnya sejenak. Tugas pertamanya pagi ini adalah menjadi sopir pribadi bagi sang adik. Ia memacu motornya membelah jalanan Singkawang yang mulai ramai, menuju ke SD 56 Singkawang untuk mengantarkan adiknya tepat waktu. Setelah memastikan sang adik masuk ke gerbang sekolah dengan aman, Andi mengembuskan napas lega. Namun, perjuangannya belum selesai. Ia masih harus menjemput sahabat karibnya, Yakobus.
Sesampainya di depan rumah Yakobus, Andi mengernyitkan dahi. Suasana rumah itu sepi. Benar saja, saat Andi mengetuk pintu dan masuk, ia mendapati Yakobus baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah kuyup.
"Astaga, Yakobus! Jam berapa ini? Bisa-bisa kita dihukum Pak Hendra!" gerutu Andi kesal.
Yakobus hanya menyeringai bersalah. Sembari Andi menunggu dengan cemas di ruang tamu, Yakobus bergerak dengan gerakan yang super lambat. Dengan santai ia mengemas barang-barangnya—memasukkan buku, pulpen, hingga memakai kemeja seragamnya. Setelah semua siap, mereka berdua sempat terdiam sejenak di teras rumah untuk mengatur napas. Andi melirik jam tangan kirinya. Angka digital menunjukkan pukul 07.15 WIB. Mereka sudah resmi terlambat. Tanpa membuang waktu lagi, Yakobus segera naik ke jok belakang motor Andi, dan mereka pun melesat pergi.
Saat motor mereka tiba di persimpangan jalan menuju sekolah, tiba-tiba Yakobus menepuk pundak Andi dengan keras. "Ndi, berhenti dulu di warung itu sebentar! Aku butuh tisu!" setengah berteriak menembus angin.
Andi langsung menarik tuas rem dan menepikan motornya di depan sebuah warung kelontong kecil. Sebenarnya ia ingin memprotes, namun melihat wajah Yakobus yang pucat dengan hidung yang memerah, Andi mengurungkan niatnya. Sejak semalam, cuaca Singkawang memang kurang bersahabat, membuat tubuh mereka berdua terasa kurang sehat dan terserang flu berat. Jangankan Yakobus, Andi sendiri pun sudah tidak tahan ingin bersin sejak tadi. Mengapa mereka membeli tisu? Jawabannya jelas, karena mereka sedang sakit dan tidak ingin hidung mereka meler di dalam kelas nanti.
Setelah membeli sebungkus tisu dan bergantian membersihkan hidung, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Lima menit kemudian, motor Andi akhirnya memasuki gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Pak Satpam yang berjaga di depan langsung menghadang mereka dengan wajah ketat.
"Dari mana saja kalian? Sudah jam berapa ini?" tanya Pak Satpam tegas.
Dengan langkah gontai, Andi dan Yakobus menuntun motor mereka menuju parkiran, lalu berjalan menghadap ke ruang guru piket. Beruntung bagi mereka, Pak Hendra, guru mata pelajaran pertama mereka, sedang berada di sana. Melihat kedua muridnya datang dengan wajah pucat dan memegang tisu di tangan, kemarahan di wajah Pak Hendra perlahan melunak.
"Kalian terlambat karena bangun kesiangan atau karena sakit?" tanya Pak Hendra seraya memperhatikan lembar kertas alasan keterlambatan yang buru-buru ditulis oleh Andi.
"Dua-duanya, Pak," jawab Andi jujur sambil menunduk. "Saya terlambat mandi karena kesiangan, harus mengantar adik ke SD 56 dulu, lalu menjemput Yakobus yang juga terlambat. Ditambah lagi, di persimpangan jalan tadi kami harus singgah membeli tisu karena kondisi kami sedang sakit flu, Pak."
Pak Hendra menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Beliau mengambil kertas laporan keterlambatan yang ditulis Andi, lalu menandatanganinya. "Baiklah, kejujuran kalian saya hargai. Kali ini saya izinkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran Bahasa Singkawang. Tapi ingat, lain kali jika sakit, lebih baik minta izin istirahat di rumah, atau pasang alarm lebih awal agar tidak terburu-buru di jalan. Masuklah ke kelas!"
Andi dan Yakobus langsung membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Pak!" ucap mereka serempak.
Sambil berjalan menuju ruang kelas XI B, Andi menyenggol lengan Yakobus dengan sisa tawanya. Meskipun pagi itu diawali dengan kekacauan dan keterlambatan yang dramatis, setidaknya sebungkus tisu di persimpangan jalan tadi telah menyelamatkan hidung mereka—dan juga nasib mereka dari hukuman berdiri di lapangan upacara.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar