Alkisah pada zaman purbakala, sebermula ada sebuah kerajaan yang amat besar lagi makmur bernama Indera khayali. Adapun negeri itu diperintah oleh seorang raja yang adil lagi bijaksana, Syah Alam namanya. Maka baginda pun teramat dikasihi oleh sekalian rakyat bala tentara, sebab baginda sentiasa memelihara syariat adat dan menjauhkan diri daripada perbuatan aniaya. Hatta, tatkala negeri di bawah naungan baginda itu aman sentosa, tiadalah kedengaran suatu pun kabar huru-hara melainkan kedamaian jua yang merata ke seluruh pelosok benua.
Maka pada suatu hari, baginda baginda Syah Alam pun menitahkan perdana menteri menghimpunkan segala orang-orang besar dan alim ulama ke balairung istana. Apabila sekaliannya telah hadir menjunjung duli, maka titah baginda dengan suara yang amat merdu, “Wahai segala tuan-tuan sekalian, ketahuilah olehmu bahwa beta ini kian hari kian uzur, sedangkan seorang anak yang akan menyambung takhta kerajaan belum jugalah dikaruniakan Allah subhanahu wa taala. Maka beta bermaksud hendak mencari seorang pemuda dari dalam negeri ini yang paling mulia budi pekertinya untuk dijadikan anak angkat, sekali gus bakal pengganti beta kelak.”
Mendengar titah baginda yang demikian itu, maka sekalian orang-orang besar dan menteri pun terdiamlah seketika, masing-masing berpikir akan hikmat titah raja itu. Tiada lama kemudian, bangunlah perdana menteri lalu menyembah dengan hormatnya, “Daulat Tuanku, Syah Alam di rimba. Adapun niat tuanku itu teramatlah mulia. Namun bagaimanakah gerangan cara kita hendak menguji hati manusia, sedang rupa boleh dilihat, tetapi hati tiada siapa yang tahu?” Maka tersenyum lah baginda lalu bertitah, “Janganlah menteri sekalian masygul. Beta akan mengadakan sebuah sayembara.”
Maka dicanangkanlah ke seluruh pelosok negeri, dari kota membawa ke desa, barang siapa yang dapat membawa sebuah persembahan yang paling berharga dan bermakna bagi kehidupan manusia, niscaya dialah yang akan diangkat menjadi putra mahkota. Hatta, setelah mendengar berita yang demikian itu, maka berbondong-bondonglah sekalian anak-anak muda, baik yang kaya maupun yang miskin, bersiap-siap membawa persembahan masing-masing menuju istana raja. Ada yang membawa intan permata yang gilang-gemilang, ada yang membawa kain sutra bertatahkan emas dari negeri asing, dan ada pula yang membawa senjata-senjata tajam yang ampuh.
Adapun di sebuah kampung yang amat terpencil di pinggir hutan, tinggallah seorang pemuda yatim piatu bernama Sang Murba. Ia seorang yang miskin harta namun kaya dengan budi perkerti. Sehari-hari pekerjaannya hanyalah mencari kayu api di hutan lalu dijualnya ke pasar dengan harga yang murah, sekadar membelikan secupak beras untuk menyambung hidupnya. Apabila Sang Murba mendengar kabar sayembara itu, maka ia pun terduduklah termenung di pondoknya yang tiris. Pikirnya dalam hati, “Apalah daya aku yang miskin ini? Tiada aku memiliki emas maupun perak, jangankan intan permata, kain yang sehelai ini pun penuh dengan tampalan.”
Maka Sang Murba pun pergilah ke dalam hutan dengan hati yang gundah-gulana. Sedang ia berjalan mencari kayu, tiba-tiba didengarnya suara erangan yang amat daif di balik semak samun. Maka dengan segera Sang Murba menghampiri tempat itu. Dilihatnya seorang tua bangka yang amat daif sedang terlentang, kakinya luka terpotong duri bertiang-tiang, dan mukanya pucat lesi laksana mayat. Maka tiadalah berpikir panjang lagi Sang Murba; segera diletakkannya kapaknya lalu dipangkunya orang tua itu. Diambilnya air dari dalam bambu lalu diminumkannya, dan dibalutnya luka pada kaki orang tua itu dengan kain sarungnya yang sudah koyak-koyak.
Setelah orang tua itu siuman, maka ia pun memandang wajah Sang Murba dengan pandangan yang amat redup. Katanya dengan suara yang terputus-putus, “Wahai anakku yang berbudi, siapakah namamu dan mengapa engkau bersusah payah menolong orang tua yang tiada berguna ini?” Maka sahut Sang Murba dengan santun, “Hamba ini Sang Murba, kekasih tuan. Sudah menjadi kewajiban sesama makhluk Allah untuk tolong-menolong dalam kesusahan.” Maka orang tua itu pun tersenyum lalu mengeluarkan sebiji benih pohon yang amat kecil dan hitam warnanya dari dalam saku bajunya.
“Ambillah benih ini, wahai Sang Murba,” kata orang tua itu. “Ini bukanlah benih sembarangan, melainkan Benih Pohon Mustika Lambang Budi. Bawa dan persembahkanlah kepada Syah Alam di istana. Pohon ini tidak akan tumbuh oleh emas dan perak, melainkan ia hanya akan subur jika disiram dengan air mata keikhlasan dan ketulusan hati.” Setelah berkata demikian, maka dengan sekonyong-konyong orang tua itu pun hilanglah dari pandangan mata, lenyap laksana asap ditiup angin. Maka tercenganglah Sang Murba seketika, tahu lah ia bahwa orang tua itu bukanlah manusia biasa melainkan khidir atau wali yang menyamar.
Maka pada hari yang telah ditetapkan, berhimpunlah ratusan pemuda di hadapan balairung istana Raja Indera Khayali. Maka baginda Syah Alam pun bersemayam di atas takhta kerajaan dengan segala kebesaran. Satu per satu pemuda maju mempersembahkan hadiah mereka. Ada yang membawa mahkota emas bertatahkan ratna mutu manikam, ada yang membawa gading gajah yang diukir indah, dan ada pula yang membawa mangkok sakti yang kononnya tiada pernah kering airnya. Baginda raja hanya melihat sekalian persembahan itu dengan wajah yang hambar, tiada sedikit pun baginda kelihatan takjub.
Maka tibalah giliran Sang Murba maju ke hadapan duli baginda. Apabila orang melihat pakaian Sang Murba yang compang-camping dan hanya membawa sebiji benih hitam di dalam tempurung kelapa, maka sekalian orang di dalam istana itu pun tertawa terbahak-bahak, riuh-rendah bunyinya. Ada yang berkata, “Hai orang miskin, tiadakah engkau tahu malu membawa benda yang buruk itu ke hadapan raja yang mulia?” Namun Sang Murba tetap tenang, lalu ia berlutut dan menyembah dengan khidmatnya.
“Daulat Tuanku,” sembah Sang Murba. “Adapun hamba yang daif ini tiada memiliki harta duniawi untuk dipersembahkan. Hamba hanya membawa sebiji benih hitam ini, yang dinamakan Benih Pohon Mustika Lambang Budi. Jikalau tuanku izinkan, hamba hendak menanamnya di halaman istana ini.” Maka baginda raja pun tertarik hatinya melihat ketenangan dan kesopanan pemuda itu, lalu titah baginda, “Baiklah, wahai muda yang bijak. Tanamlah benihmu itu, dan biarlah kita sekalian melihat apakah keajaiban yang ada padanya.”
Maka Sang Murba pun menggali tanah di tengah halaman istana lalu menanam benih itu. Setelah selesai, ia pun berlutut di hadapan tanaman itu seraya berdoa dengan hati yang teramat tulus demi kesejahteraan raja dan seluruh rakyat. Demi terkenang akan nasib dirinya yang yatim piatu serta penderitaan orang-orang miskin di luar sana, maka menitislah air mata Sang Murba jatuh ke atas tanah tempat benih itu ditanam.
Hatta, dengan takdir Allah yang Mahakuasa, maka berlaku lah suatu mukjizat yang amat besar. Dari dalam tanah itu tumbuhlah tunas yang hijau, lalu membesar dengan amat cepatnya laksana kilat. Dalam beberapa ketika sahaja, ia telah menjadi sebuah pohon yang amat rindang, daunnya hijau laksana zamrud, dan bunganya mengeluarkan bau yang teramat harum hingga semerbak ke seluruh negeri. Yang paling menakjubkan, buah pohon itu berbentuk laksana lampu yang mengeluarkan cahaya yang terang-benderang, menerangi seluruh halaman istana yang tadinya agak redup.
Maka sekalian orang yang hadir di situ pun ternganga keheranan, tiada dapat berkata-kata lagi, dan segala tawa ejekan yang tadi kedengaran terus lenyap seketika itu juga. Maka baginda Syah Alam pun turun dari takhtanya lalu menghampiri pohon tersebut dengan rasa takjub yang amat sangat. Titah baginda, “Wahai sekalian rakyatku! Ketahuilah olehmu sekalian bahwa harta kekayaan yang dibawa oleh pemuda-pemuda lain itu adalah harta yang boleh susut dan hilang, serta boleh mendatangkan sifat tamak dan ria. Namun, apa yang dibawa oleh pemuda miskin ini adalah lambang kesuburan budi perkerti dan keikhlasan hati yang tiada tolok bandingnya.”
Maka baginda raja pun memegang tangan Sang Murba lalu mengangkatnya berdiri. “Maka pada hari ini, dengan disaksikan oleh segala menteri dan rakyat sekalian, beta mengumumkan bahwa Sang Murba inilah yang menjadi putra mahkota dan waris tunggal kerajaan Indera Khayali,” titah baginda dengan megahnya. Maka sekalian orang pun bersoraklah mendengarkan keputusan raja itu, “Daulat Tuanku! Selamatlah Putra Mahkota!”
Maka sejak hari itu, Sang Murba pun tinggallah di dalam istana belajar ilmu pemerintahan dan agama daripada sekalian ulama dan bijak pandai. Walau sudah menjadi orang besar, tiada pernah ia melupakan asal-usulnya yang miskin. Ia sentiasa mengasihi fakir miskin dan menolong orang dalam kesusahan. Apabila Syah Alam mangkat beberapa tahun kemudian, maka Sang Murba pun naiklah takhta menggantikan baginda dengan gelar Sultan Murba Syah. Kerajaan Indera Khayali pun kekal makmur, aman, dan sentosa, terlindung daripada segala marabahaya atas berkat keadilan dan keluhuran budi rajanya yang amat bijaksana. Tamatlah alkisah hikayat.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar