Alkisah pada zaman purbakala, ada sebuah kerajaan yang amat besar lagi makmur bernama Negeri Pasir Luhur. Adapun negeri itu diperintah oleh seorang raja yang amat masyhur adil dan bijaksana, Sultan budiman namanya. Maka baginda pun teramat dikasihi oleh sekalian rakyat bala tentara, sebab baginda sentiasa memelihara adat dan menyebarkan ilmu kebajikan ke seluruh pelosok benua. Hatta, tatkala negeri di bawah naungan baginda itu aman sentosa, baginda telah dikaruniai dua orang putra mahkota. Yang tua bernama Syahran, telah genap umurnya masuk masa baligh, sedangkan yang muda bernama Malik, masih teramat kecil lagi jenaka usianya.
Maka pada suatu hari, tatkala baginda Sultan sedang bersemayam di atas takhta kebesaran di balairung istana, datanglah perdana menteri bersama kedua putra baginda itu menghadap duli. Maka sekonyong-konnyong kedua putra itu kelihatan sedang berselisih paham hingga menimbulkan riuh di hadapan baginda. Melihatkan tingkah laku yang tiada beradat itu, maka Sultan budiman pun tidaklah melontarkan kata-kata murka yang keras, melainkan baginda segera mengubah air muka baginda menjadi amat masam, laksana awan gelap mendung yang melindungi cahaya matahari. Baginda pun berdiam diri seraya memandang kedua putranya dengan pandangan yang penuh ketidaksetujuan.
Maka tatkala Syahran, putra yang tua yang telah memiliki pola pikir yang baik dan sudah baligh itu, menyadari akan perubahan wajah ayahandanya, maka dengan seketika itu juga gemetarlah sekujur tubuhnya. Ia tahu sejati bahwa wajah masam dari orang tua adalah sebuah hukuman yang teramat berat bagi hatinya. Maka dengan sendirinya, timbullah rasa insaf di dalam dada Syahran. Ia pun segera berlutut, menundukkan kepala seraya menyembah dengan khidmatnya untuk mengoreksi diri dari kesalahan yang tiada disukai oleh baginda raja.
Namun, lain pula halnya dengan Malik, putra yang masih sangat kecil itu. Apabila ia melihat wajah masam ayahandanya, ia tiada mengerti akan pertanda itu. Ia malah menyangka ayahandanya sedang sakit atau bermain-main dengannya, lalu ia pun kembali berlari-lari dan tertawa-tawa di dalam balairung tanpa rasa bersalah sedikit pun. Maka melihat keadaan yang demikian, segeralah Sultan budiman meredakan wajah masamnya lalu memanggil kedua-duanya duduk rapat ke paha baginda.
Maka titah baginda dengan suara yang amat lemah lembut, “Wahai anakku Syahran dan Malik, dengarkanlah olehmu akan hikmat pengajaran ini. Adapun apabila seorang anak melakukan suatu kesalahan, maka menjadi kewajiban bagi orang tua atau guru untuk menunjukkan sikap ketidaksetujuan. Setidaknya, perlihatkanlah wajah yang masam sebagai pertanda bahwa kita sangat tidak menyukai tindakan yang salah itu. Bagi anak yang telah berakal, wajah yang masam itu seumpama hukuman yang batin, yang akan menggerakkan hatinya untuk memperbaiki diri.”
Baginda Sultan berhenti seketika, lalu mengusap rambut Malik yang masih kecil itu seraya menyambung titahnya, “Namun demikian, wahai menteri dan sekalian bijak pandai, ketahuilah olehmu bahwa jenis hukuman memperlihatkan wajah masam atau mendiamkan anak ini, barangkali hanya efektif diterapkan kepada anak yang sudah baligh dan baik pola pikirnya laksana Syahran. Adapun untuk anak-anak yang usianya masih sangat kecil, semisal si Malik ini, hukuman semacam itu belum tentu efektif, bahkan boleh jadi mereka salah mengira akan maksud kita.”
Maka perdana menteri pun tampil ke hadapan lalu menyembah dengan hormatnya, “Daulat Tuanku, Syah Alam di rimba. Teramatlah tinggi hikmat yang tuanku sampaikan. Namun, bagaimanakah gerangan cara kami sebagai pendidik hendak menerapkan hukuman yang benar kepada anak-anak di dalam negeri ini?”
Maka tersenyum lah baginda Sultan lalu bertitah, “Wahai menteri, sebelum engkau menerapkan jenis hukuman apa pun, pelajari dan pahamilah dahulu situasi atau keadaan si anak itu. Dengan memahami keadaan dan peringkat usia mereka, niscaya engkau akan memiliki pandangan yang jernih, apakah hukuman semacam itu tepat digunakan atau tidak. Janganlah sekali-kali menghukum tanpa ilmu, sebab hukuman itu musti bersifat edukatif, yaitu mendidik dan membawa kebaikan, bukannya mendatangkan dendam.”
Maka baginda Sultan pun menghadiahkan sebuah kitab yang berisi panduan tata cara mendidik anak kepada sekalian guru dan orang tua di seluruh Negeri Pasir Luhur. Hatta, setelah mendengar dan mengamalkan titah nasihat baginda yang teramat mulia itu, maka sekalian rakyat pun menjadi semakin bijaksana dalam mengasuh anak-anak mereka. Tiada lagi kedengaran anak-anak yang tersalah duga akan maksud baik orang tuanya. Maka kedua putra baginda pun tumbuh menjadi insan yang teramat mulia budi pekertinya, dan kerajaan Pasir Luhur pun kekal aman, makmur, dan sentosa turun-temurun atas berkat ilmu pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan kearifan. Tamatlah alkisah hikayat.
------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar