Selasa, 23 September 2025

Hikayat Nêk Nyaronk ngan Batu Baimik dari Singkawang, Kalimantan Barat

 

Hikayat Nêk Nyaronk ngan Batu Baimik

Syahdan, di tanah Sakawokng—yang kini dikenal dengan nama Singkawang—terdapat sebuah kisah lama yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak Salako. Negeri itu kaya dengan budaya dan cerita rakyat, dan salah satu kisah yang paling masyhur adalah Kisah Nêk Nyaronk ngan Batu Baimik.

Diceritakan, pada zaman dahulu kala, hiduplah dua orang Pangkalima Dayak Salako yang masyhur akan kesaktian dan keilmuannya. Mereka bernama Nêk Nyaronk dan Nêk Usun. Kedua pendekar ini telah lama menyimpan rasa ingin menguji kekuatan masing-masing, sebab mereka sama-sama mendambakan gelar sebagai penguasa dunia persilatan di kampung Sakawokng.

Pada suatu hari, mereka berjumpa di tengah hutan. Tatapan mata beradu, muka berpaling, dan hati dipenuhi dendam lama. Ketika itu, kaki Nêk Usun tersandung batu. Sakit yang ia rasakan membuat ia menuduh Nêk Nyaronk telah menendangnya dengan sengaja.

“Kaulah yang menyakiti aku! Sudah lama engkau dendam padaku. Sekarang kau menantangku?” ujar Nêk Usun.

Nêk Nyaronk menolak tuduhan itu. “Tidak, aku tidak melakukannya. Jangan sembarangan menuduh aku!” Namun Nêk Usun tetap tidak percaya. Maka pertarungan pun tak terelakkan.

Kedua pendekar sakti itu mulai melafalkan mantra. Mulut mereka bergetar, bumi berguncang, pohon-pohon bergoyang, langit mendung dan angin bertiup kencang. Sungguh pertempuran gaib yang dahsyat, hingga tidak ada yang terlihat kalah maupun mengalah.

Akhirnya mereka sepakat untuk bertaruh. Nêk Usun menantang: siapa yang mampu memindahkan batu besar dari Gunung Satime, dialah pemenangnya. Nêk Nyaronk yang percaya pada kesaktiannya segera menerima tantangan itu.

Maka ia pun memusatkan tenaga, memanggil sahabat gaibnya, dan mengarahkan tangannya ke arah batu besar di Gunung Satime. Gunung itu bergetar, batu besar terbelah dua, lalu salah satu pecahannya terangkat ke udara. Batu itu melayang-layang, menghantam gunung lain hingga puncaknya roboh, menebar serpihan ke segala penjuru. Pohon-pohon tumbang, batu hancur jadi pasir.

Namun ketika hampir berhasil, Nêk Usun yang khawatir akan kalah, berbuat curang. Ia menggulingkan sebuah batu kecil ke arah kaki Nêk Nyaronk. Batu itu menghantam jari kakinya, membuat aliran tenaga gaibnya terputus. Seketika Nêk Nyaronk terjatuh, dan batu besar yang melayang menimpa tubuhnya. Tertimbunlah Nêk Nyaronk di bawah batu besar itu. Dari dalam tanah, ia masih sempat berteriak: “Engkau curang, Usun! Suatu saat kau akan mendapat balasannya!”

Mendengar jeritan itu, bumi kembali berguncang, namun Nêk Usun justru tertawa terbahak-bahak. Ia meluapkan kegembiraannya, mengerahkan kesaktiannya ke segala arah. Namun karena terlalu sombong, ia melontarkan ajian ke sebuah gunung. Gunung itu runtuh, tanah longsor menimpa dirinya, hingga ia pun terkubur ke dalam perut bumi.

Sejak saat itu, batu besar yang menimpa jasad Nêk Nyaronk tampak angker. Batu itu sebesar kapal, dengan permukaan berkerut menyerupai buah baimik (belimbing). Penduduk Dayak Salako menamainya Batu Baimik, dan kampung tempat batu itu berada disebut Nyarongkop atau Nyarumkop, artinya Nêk Nyaronk yang mati tersungkur.

Adapun nama Nêk Usun diabadikan pula sebagai nama sebuah daerah di sekitar tempat kejadian itu. Maka demikianlah kisah tragis dua pendekar sakti, yang karena dendam dan kesombongan, akhirnya sama-sama binasa.

Hikayat ini menjadi pelajaran bagi anak negeri: bahwa kesaktian tanpa kerendahan hati hanya akan membawa petaka, dan dendam yang dipelihara akan menjerumuskan ke jurang kehancuran.

Hikayat Beras Kuning

 

Hikayat Beras Kuning 

Alkisah di sebuah negeri di tepian hutan Kalimantan Barat, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Duog. Ia bukan orang kaya, bukan pula bangsawan. Ia hanya seorang guru yang hidup dari rezeki secukupnya. Namun, Duog memiliki hati luas bagai samudera.

Dalam kasihnya, ia menampung seorang anak muda bernama Juhok, yang dahulu berasal dari panti asuhan. Juhok diperlakukan layaknya anak kandung. Dengan segala keterbatasan, Duog rela bangun dini hari, menyiapkan santapan, mengantar, dan menjemput Juhok agar dapat bekerja di sebuah hotel di Singkawang. Bahkan isi celengan kecilnya habis demi membeli bensin.

Namun kasih yang berlebih kadang menjelma luka. Juhok mulai berubah hati. Ia enggan dinasihati, lebih suka bergaul dengan kawan barunya, Gumok, seorang sahabat dari tempat kerjanya. Kata-kata kasar pun kerap keluar dari mulutnya.

Pada suatu malam, ketika hujan rintik membasahi bumi, Juhok datang ke rumah Duog hanya untuk mengembalikan barang pinjaman. Saat dipanggil penuh rindu, ia menolak singgah. Terjadilah perselisihan: perebutan kunci motor, kata-kata pedas, dan tangisan pilu.

Dalam kepedihan itu, Duog mengambil beras kuning—lambang doa dan penolak bala dalam adat. Ia menaburkannya ke udara, ke tanah, bahkan ke atas kepala Juhok, dengan harapan roh jahat pergi dan semangat kebaikan kembali. Tetapi Juhok justru semakin murka, bahkan mengancam melempar batu.

Melihat kegaduhan itu, tetangga mereka bernama Tatamo keluar menenangkan. Juhok pun akhirnya pergi bersama Gumok menuju Singkawang, meninggalkan Duog yang hancur hatinya.

Air mata Duog bercucuran, menyesali kasih sayang yang tak dihargai. Ia teringat pesan orang bijak:
“Tidak semua yang kau rawat akan menjadi bunga, ada pula yang berubah menjadi duri.”

Sejak malam itu, Duog bersumpah tidak lagi mudah menampung anak yang hanya menjadikan belas kasih sebagai batu loncatan. Namun, meski luka, ia tetap berdoa agar suatu saat Juhok menemukan jalan kebaikan.

Maka kisah itu dikenang orang dengan nama “Tragedi Beras Kuning”, sebuah pelajaran dari bumi Kalimantan Barat tentang kasih, pengorbanan, dan kekecewaan. Hingga kini, siapa pun yang mendengar kisah ini diajarkan untuk menimbang kasih dengan bijak, agar cinta tidak berubah menjadi pedih, dan pengorbanan tidak menjadi sia-sia.

Senin, 22 September 2025

LAPORAN SEJARAH PERANG MANDOR DI KALIMANTAN BARAT OLEH HENDRA BAHARI SINGKAWANG

 LAPORAN SEJARAH PERANG MANDOR DI KALIMANTAN BARAT

 Perang Mandor merupakan salah satu tragedi besar yang terjadi di Kalimantan Barat pada masa pendudukan Jepang. Perang ini bukan sekadar pertempuran bersenjata, tetapi juga merupakan pembantaian sistematis terhadap tokoh-tokoh lokal dan masyarakat sipil oleh tentara Jepang. Peristiwa yang terjadi antara tahun 1943 hingga 1944 ini mencerminkan kekejaman kolonialisme militer Jepang serta perjuangan rakyat Kalimantan Barat dalam mempertahankan harga diri dan hak hidup mereka.

Setelah menduduki Kalimantan Barat pada tahun 1942, tentara Jepang mulai menerapkan sistem pemerintahan militer yang keras. Para pemimpin lokal, baik dari kalangan bangsawan Melayu, Tionghoa, Dayak, maupun tokoh agama, merasa keberatan dengan berbagai tindakan sewenang-wenang seperti kerja paksa (romusha), perampasan hasil bumi, dan pelarangan budaya lokal.

Situasi ini memicu munculnya gerakan bawah tanah dan perlawanan diam-diam dari masyarakat. Jepang yang mencurigai adanya pemberontakan, kemudian melancarkan penangkapan besar-besaran terhadap siapa pun yang dianggap sebagai ancaman. Inilah yang menjadi awal dari tragedi Mandor.

Antara tahun 1943 hingga pertengahan 1944, tentara Jepang menangkap dan membunuh ribuan orang di wilayah Mandor dan sekitarnya. Korban terdiri atas raja-raja Melayu, tokoh Tionghoa, guru, ulama, hingga rakyat biasa. Mereka dieksekusi secara massal di sebuah hutan yang kemudian dikenal sebagai Kuburan Massal Mandor.

Diperkirakan sekitar 21.000 orang menjadi korban kekejaman ini. Para korban tidak hanya dibunuh, tetapi juga mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Peristiwa ini menciptakan trauma mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat dan menjadi simbol penderitaan akibat kekuasaan militer fasis Jepang.

Meskipun menghadapi tekanan berat, beberapa kelompok masyarakat tetap melakukan perlawanan secara diam-diam. Ada yang memberikan perlindungan kepada keluarga korban, ada pula yang menyelundupkan informasi keluar dari wilayah Kalimantan. Namun, keterbatasan senjata dan jaringan membuat perlawanan tidak mampu menghentikan kekejaman Jepang saat itu.

Minggu, 21 September 2025

Hikayat Nek Jasimin dan Antu Aik, Cerita dari Singkawang

 Hikayat Nek Jasimin dan Antu Aik

Alkisah, pada zaman dahulu kala di bantang Sakawokng, tepatnya di sebuah kampung bernama Sombang, hiduplah seorang dukun sakti bernama Nek Jasimin. Ia dikenal oleh masyarakat karena kemampuannya menyembuhkan orang yang terkena guna-guna, serta bayi yang diganggu oleh makhluk halus. Nek Jasimin juga kerap dipercaya menjadi panyaek dalam upacara besar basam-sam atau ritual pengusiran roh jahat.

Setiap kali ritual dilaksanakan, Nek Jasimin selalu pergi ke Gunung Cikale untuk mempersembahkan sesajen berupa daging dan darah ayam. Ia mengenakan kain merah dan ikat kepala merah sebagai tanda penghormatan. Banyak orang menaruh hormat kepadanya, sebab ia dianggap sebagai penjaga keselamatan kampung.

Pada masa itu, di wilayah Sambas berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana bernama Raja Surya Kesuma. Sang Raja memiliki seorang putri rupawan bernama Putri Cahaya Bulan. Putri ini kerap sakit-sakitan, terutama setiap bulan purnama. Para tabib kerajaan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, sehingga Raja meminta bantuan kepada Nek Jasimin.

Dengan penuh percaya diri, Nek Jasimin mendatangi istana. Ia membacakan mantera, memberikan ramuan, dan melakukan ritual khusus. Ajaibnya, Putri Cahaya Bulan perlahan pulih dari penyakitnya. Sang Raja pun berterima kasih dan memberikan hadiah berlimpah kepada Nek Jasimin. Sejak saat itu, nama Nek Jasimin semakin terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.

Namun, waktu berlalu, kesaktian Nek Jasimin justru membuatnya lupa diri. Ia mulai bersekutu dengan makhluk halus yang disebut Antu Aik, roh gaib penunggu sungai dan hutan. Antu Aik memberinya kekuatan luar biasa, tetapi juga merusak jiwanya. Nek Jasimin menjadi sering berbicara sendiri, bahkan bercakap-cakap dengan pohon dan bayangan. Warga pun mulai menganggapnya aneh, tetapi tetap takut karena kesaktiannya.

Suatu hari, Putri Cahaya Bulan kembali sakit keras. Raja kembali memanggil Nek Jasimin. Namun, kali ini ilmu yang dipakai Nek Jasimin tidak lagi berasal dari doa-doa suci, melainkan dari bantuan Antu Aik. Saat ia sedang melakukan ritual di istana, angin kencang bertiup, suara-suara gaib terdengar, dan Putri justru menjerit ketakutan. Sang Raja murka, menyadari bahwa Nek Jasimin telah menyalahi jalan yang benar.

“Wahai Nek Jasimin,” titah Raja Surya Kesuma dengan marah, “ilmu yang engkau pakai telah ternoda. Engkau tidak lagi menjadi penolong, melainkan sahabat makhluk gaib yang menyesatkan.”

Mendengar titah itu, Nek Jasimin berlari meninggalkan istana. Ia menuju rumahnya di bukit dengan jalan setapak yang menanjak. Namun, langkahnya goyah. Ia terjatuh, terguling hingga ke bawah bukit, dan meninggal dunia seketika. Konon, pada saat tubuhnya terbentur tanah, terdengar suara tawa Antu Aik yang menyeramkan, seakan menjemput roh Nek Jasimin.

Setelah kepergiannya, orang-orang berkata bahwa ilmu gaibnya turun kepada sang istri. Namun, masyarakat tetap waspada, sebab mereka percaya Antu Aik masih mengintai. Raja Surya Kesuma kemudian memerintahkan rakyat agar selalu berpegang pada kebenaran, tidak tergoda oleh jalan gaib yang menyesatkan. Putri Cahaya Bulan akhirnya sembuh setelah para pendeta kerajaan mendoakan dengan doa suci, bukan lagi dengan ilmu gaib.

Hikayat ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari makhluk halus, melainkan dari kesucian hati dan doa yang benar. Barang siapa tergoda oleh ilmu hitam, niscaya akan menemui kehancuran seperti Nek Jasimin.

Hikayat Tragedi Mandor di Tanah Kalimantan Barat

 

Hikayat Tragedi Mandor di Tanah Kalimantan Barat

Hatta, maka tersebutlah suatu kisah di tanah Kalimantan Barat, pada zaman tatkala bala tentara Dai Nippon datang menyerang pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua. Syahdan, negeri itu pun jatuh ke bawah kuasa mereka. Maka diperintahnya rakyat dengan hukum yang zalim lagi bengis, tiada memberi ampun kepada orang banyak.

Adapun segala raja Melayu, orang Tionghoa, Dayak, serta alim ulama, merasa dukacita hatinya, sebab hasil bumi dirampas, kerja paksa dituntut, dan adat istiadat tiada lagi diberi tempat. Maka bangkitlah bisikan perlawanan dalam hati rakyat, meski hanyalah dalam diam, umpama api kecil dalam sekam.

Hatta, tentara Nippon pun curiga akan adanya muslihat rakyat, maka ditangkapnyalah segala tokoh dan orang kebanyakan. Tiada dipandang apakah ia raja, guru, pedagang, atau rakyat jelata, semuanya diseret ke hutan Mandor. Maka disiksanya dengan azab yang kejam, lalu dibunuh beramai-ramai, sehingga tanah Mandor basah oleh darah para syuhada.

Maka tersebutlah bilangan orang yang menjadi korban mencapai dua puluh satu ribu jiwa, tiada terhitung banyaknya. Semua kembali ke hadirat Ilahi dalam kesyahidan, meninggalkan duka yang tiada terkira. Kuburan massal pun menjadi saksi bisu akan kezalimannya bangsa penjajah itu.

Adapun rakyat yang masih hidup, meski dalam kesempitan, tetap menolong sesama, melindungi keluarga korban, bahkan menyampaikan kabar ke luar negeri. Maka meskipun senjata tiada ada, tekad hati mereka teguh tiada tergoyahkan.

Syahdan, setelah tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, tatkala bala Nippon menyerah kalah, rakyat Kalimantan pun kembali ke Mandor, menggali kuburan massal itu. Maka ditetapkannya tanggal dua puluh delapan bulan Jun setiap tahun menjadi Hari Berkabung Daerah, tanda kasih kepada segala arwah yang telah syahid.

Hatta, kemudian dibangunkanlah Taman Makam Juang Mandor, tempat orang berziarah dan mengambil pengajaran. Adapun hikayat ini menjadi tamsil ibarat, bahwa kezalimannya penjajah tiada membawa kekekalan, melainkan menumbuhkan semangat rakyat untuk menegakkan kemerdekaan, keadilan, dan kedamaian.

Maka hendaklah segala anak cucu negeri ini mengambil iktibar, supaya jangan sekali-kali lupa akan darah yang tertumpah di bumi Mandor. Demikianlah hikayat yang empunya cerita.

Senin, 15 September 2025

Cerita Rakyat Singkawang "Kisah Dindou dan Lidah"

Kisah Dindou dan Lidah

Di sebuah kampung di Singkawang yang damai, hiduplah lima sahabat: Dindou, Anak Puitin, Bong Cu Lie, Dak Olot, dan Phang Kim Lin. Mereka berasal dari latar belakang berbeda: ada yang Dayak Salako, ada yang Tionghoa perantau, ada pula yang keturunan Melayu. Meski beragam, mereka sering bermain bersama di tepian sungai dan ikut membantu orang tua di ladang maupun pasar.

Namun, ada satu kebiasaan buruk yang dimiliki Dindou. Ia senang menghina orang lain. Jika Anak Puitin membawa hasil hutan sedikit, ia mengejek, “Ah, kamu lemah, hanya itu saja?” Ketika Bong Cu Lie salah menyusun barang di pasar, ia berkata keras, “Kamu bodoh sekali!” Bahkan Dak Olot dan Phang Kim Lin tak luput dari ucapannya.

Awalnya, teman-temannya diam saja. Tetapi lama-kelamaan mereka merasa sakit hati. Bong Cu Lie bahkan tidak mau lagi ikut bermain, Anak Puitin lebih sering menyendiri di hutan, sementara Dak Olot dan Phang Kim Lin mulai menjaga jarak.

Suatu hari, kampung mereka mengadakan upacara adat Gawai. Semua pemuda diminta membantu. Dindou, yang selalu ingin tampil lebih, mulai menghina cara kerja orang lain. Saat itu, tetua adat yang bijaksana mendengarnya. Ia lalu berkata,
“Dindou, lidah itu ibarat parang. Bila salah digunakan, ia melukai bukan hanya orang lain, tapi juga dirimu sendiri. Ingatlah ajaran leluhur dan agama: jangan suka menghina jika tidak ingin dicela. Apa yang kau lempar dengan mulutmu, suatu saat akan kembali kepadamu.”

Dindou menertawakan nasihat itu. Tetapi tak lama kemudian, ia sendiri melakukan kesalahan: ia menjatuhkan guci berisi minuman tuak yang sangat penting untuk upacara. Orang-orang yang dulu ia hina kini balik mengejeknya.
“Dindou ceroboh! Dindou tidak berguna!” kata mereka.

Saat itulah Dindou merasakan pedihnya dihina. Dadanya sesak, wajahnya merah. Ia pun menangis dan menyadari bahwa ucapannya selama ini telah melukai banyak hati.

Dengan rendah hati, ia meminta maaf kepada Anak Puitin, Bong Cu Lie, Dak Olot, dan Phang Kim Lin. Teman-temannya memaafkan, asalkan ia berjanji memperbaiki sikap. Sejak saat itu, Dindou belajar berbicara dengan lembut, memuji kerja orang lain, dan berhati-hati menjaga lidah.

Kisah ini lalu menjadi pengingat bagi masyarakat: “Jangan suka menghina kalau tidak ingin dihina. Jagalah mulut, karena kata-kata bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai.”

Narasumber: Nek Kumpek. 

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala

HENDRA BAHARI SINGKAWANG: Hikayat Mungkar Lala :   Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maring...