Hendra Bahari Singkawang (Hendrasius, S.Pd) adalah seniman dan guru asal Singkawang, Kalimantan Barat. Ia merupakan keturunan Loson Van Nampo, Tarukun binti Ratu, Raden Syarief Usupm bin Nyabukng, dan Marta Kasehan. Sejak 2004, ia aktif di bidang seni dan pendidikan, serta penyiaran radio (2014–2025). Sebagai putra Dayak Salako Garantukng Sakawokng yang berbahasa Badameo, ia berkomitmen melestarikan budaya, seni, bahasa, dan sastra Salako.
Senin, 20 April 2026
Puisi "Sepi Seperti Pisau"
Sepi Seperti Pisau
Sepi ini
tidak datang sebagai tamu,
ia tumbuh diam-diam
di antara kata yang tak jadi diucapkan.
Ia tajam—
menyayat tanpa suara,
membelah pikiran
yang terlalu lama dipendam.
Di sudut malam
aku duduk bersamanya,
menghitung luka
yang bahkan tak berdarah.
Orang-orang lewat
dengan wajah penuh ramai,
tapi aku tahu
tidak semua kebisingan mengusir sepi.
Dan pisau itu—
adalah pikiranku sendiri,
yang terlalu dalam
menyimpan apa yang tak pernah selesai.
Puisi "Burung Merak"
Burung Merak
Di tepi pagi yang masih basah oleh embun,
seekor merak membuka rahasia warnanya—
biru yang dalam seperti langit yang belum selesai,
hijau yang berkilau seperti harapan yang tak pernah padam.
Ia tidak sekadar berjalan,
ia merayakan langkahnya sendiri,
setiap helai bulu adalah cerita
tentang keberanian menjadi indah di dunia yang bising.
Namun manusia sering lupa,
keindahan bukan untuk dipenjara,
bukan untuk dipetik lalu dipamerkan,
melainkan untuk dihormati—diam-diam, dari jauh.
Burung merak itu pun tahu,
bahwa keanggunan sejati
tidak lahir dari sorot mata yang kagum,
tetapi dari kebebasan yang utuh.
Dan ketika ia menutup sayapnya,
dunia tetap berwarna—
karena sekali saja kita melihatnya,
kita belajar: indah tak harus dimiliki.
Puisi "Sajak Matahari"
Sajak Matahari
Matahari bangkit tanpa ragu,
mendorong gelap keluar dari dada bumi—
tanpa pidato, tanpa janji,
hanya cahaya yang tak bisa berdusta.
Di jalan-jalan yang penuh wajah lelah,
ia mengetuk jendela kesadaran:
“Bangunlah—
hidup bukan untuk bersembunyi.”
Namun manusia sering memilih bayangan,
berteduh dalam ketakutan yang dibuatnya sendiri,
seolah terang adalah ancaman,
dan kebenaran terlalu menyilaukan.
Padahal matahari tak pernah memilih siapa yang disinari,
ia adil dalam diamnya,
menghangatkan yang berani berdiri,
dan membakar mereka yang menolak melihat.
Jika hari ini kau masih menunduk,
cobalah sekali menatap terang itu—
mungkin kau akan tahu,
bahwa hidup bukan soal selamat dari cahaya,
tetapi berani menjadi bagian darinya.
Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang
Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...
-
Hikayat Mungkar Lala Sebermula, adalah sebuah kampung di tepi sungai nan bernama Maringa. Adapun kampung itu sangatlah makmur, tanahnya ...
-
Hikayat Menuju Tajok Rancang Sebermula, pada zaman purbakala tersebutlah sebuah negeri besar di pedalaman hutan Kalimantan, diperintah...
-
Hikayat Beras Kuning Alkisah di sebuah negeri di tepian hutan Kalimantan Barat, hiduplah seorang lelaki sederhana bernama Duog. Ia bu...