Senin, 20 April 2026

Puisi "Burung Merak"

 

Burung Merak

Di tepi pagi yang masih basah oleh embun,
seekor merak membuka rahasia warnanya—
biru yang dalam seperti langit yang belum selesai,
hijau yang berkilau seperti harapan yang tak pernah padam.

Ia tidak sekadar berjalan,
ia merayakan langkahnya sendiri,
setiap helai bulu adalah cerita
tentang keberanian menjadi indah di dunia yang bising.

Namun manusia sering lupa,
keindahan bukan untuk dipenjara,
bukan untuk dipetik lalu dipamerkan,
melainkan untuk dihormati—diam-diam, dari jauh.

Burung merak itu pun tahu,
bahwa keanggunan sejati
tidak lahir dari sorot mata yang kagum,
tetapi dari kebebasan yang utuh.

Dan ketika ia menutup sayapnya,
dunia tetap berwarna—
karena sekali saja kita melihatnya,
kita belajar: indah tak harus dimiliki.

Puisi "Sajak Matahari"

 

Sajak Matahari

Matahari bangkit tanpa ragu,
mendorong gelap keluar dari dada bumi—
tanpa pidato, tanpa janji,
hanya cahaya yang tak bisa berdusta.

Di jalan-jalan yang penuh wajah lelah,
ia mengetuk jendela kesadaran:
“Bangunlah—
hidup bukan untuk bersembunyi.”

Namun manusia sering memilih bayangan,
berteduh dalam ketakutan yang dibuatnya sendiri,
seolah terang adalah ancaman,
dan kebenaran terlalu menyilaukan.

Padahal matahari tak pernah memilih siapa yang disinari,
ia adil dalam diamnya,
menghangatkan yang berani berdiri,
dan membakar mereka yang menolak melihat.

Jika hari ini kau masih menunduk,
cobalah sekali menatap terang itu—
mungkin kau akan tahu,
bahwa hidup bukan soal selamat dari cahaya,
tetapi berani menjadi bagian darinya.

Puisi "Sajak untuk Ibu"

 

Sajak untuk Ibu

Ibu,
namamu tidak pernah benar-benar selesai
aku sebut dalam diam.

Di tanganmu
lelah berubah menjadi doa,
dan luka menjadi kekuatan
yang tak pernah kau pamerkan.

Kau ajarkan aku berjalan
di atas jalan yang kadang retak,
tanpa takut jatuh,
tanpa harus selalu mengeluh.

Aku tahu—
tidak semua air matamu terlihat,
tidak semua pengorbananmu terdengar,
namun semuanya tinggal
di dalam hidupku.

Ibu,
jika suatu hari aku tampak kuat,
itu hanya bayangan
dari keteguhanmu yang tak pernah runtuh.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...