Burung Merak
Di tepi pagi yang masih basah oleh embun,
seekor merak membuka rahasia warnanya—
biru yang dalam seperti langit yang belum selesai,
hijau yang berkilau seperti harapan yang tak pernah padam.
Ia tidak sekadar berjalan,
ia merayakan langkahnya sendiri,
setiap helai bulu adalah cerita
tentang keberanian menjadi indah di dunia yang bising.
Namun manusia sering lupa,
keindahan bukan untuk dipenjara,
bukan untuk dipetik lalu dipamerkan,
melainkan untuk dihormati—diam-diam, dari jauh.
Burung merak itu pun tahu,
bahwa keanggunan sejati
tidak lahir dari sorot mata yang kagum,
tetapi dari kebebasan yang utuh.
Dan ketika ia menutup sayapnya,
dunia tetap berwarna—
karena sekali saja kita melihatnya,
kita belajar: indah tak harus dimiliki.