Sabtu, 30 Agustus 2025

Hikayat Nek Bararotn ( cerita Rakyat dari Singkawang Kalimantan Barat)

 

Hikayat Nek Bararotn

Alkisah, pada zaman dahulu kala di kaki Bukit Satime, hiduplah sebuah kampung bernama Kampung Pameok. Dinamakan demikian karena penduduknya mempunyai kebiasaan unik: setiap kali berjumpa, mereka akan bersiul atau meok sebagai tanda salam, baik kepada kerabat maupun orang asing yang baru datang. Walaupun kecil, tidak lebih dari sepuluh kepala keluarga, kampung itu terkenal dengan ketaatan warganya pada adat dan ajaran leluhur. Mereka hidup sebagai peladang, menanam padi yang dianggap sebagai tanaman suci pemberian Jubato, agar manusia tidak hidup dalam kesusahan.

Pada suatu hari, seorang ibu hendak pergi ke ladang untuk menengok tanaman padinya. Namun ia bimbang karena anak perempuannya yang berusia sembilan tahun tengah sakit. Dengan hati berat ia berpesan, “Nak, jangan keluar rumah. Tunggulah ibu pulang. Ibu akan bawakan buah tepo rungkanang untukmu.” Anak itu menangis, tetapi akhirnya ditinggalkan juga, sementara ibunya pergi ditemani seekor anjing setia.

Sepeninggal ibunya, si anak terus memanggil-manggil, “Ibu, jangan tinggalkan saya!” Suaranya menggema hingga membangunkan Nek Bararotn, makhluk halus penghuni hutan di puncak bukit. Tergerak oleh suara itu, ia datang mendekat. Dengan kesaktiannya, ia membalik mata si anak hingga tampaklah dirinya sebagai sosok sang ibu. Maka si anak pun memeluknya erat, tanpa tahu bahwa yang dipeluk bukanlah ibunya, melainkan siluman tua jelmaan akar dan sulur kayu.

Nek Bararotn menuntun anak itu menuju puncak gunung dengan janji mencari buah tepo rungkanang. Sementara itu, hati sang ibu di ladang semakin gelisah. Ia mendapati seekor burung membawa sobekan kain merah yang menyerupai pakaian anaknya. Cemas bukan kepalang, ia bergegas pulang bersama anjingnya. Betapa terkejutnya ia ketika rumah kosong, anaknya telah hilang. Ia pun menyusuri jejak kecil yang menuntunnya menuju Gunung Satime.

Di puncak bukit, anak itu mulai melihat wujud asli Nek Bararotn yang menakutkan. Ia menangis dan berlari, namun siluman tua itu mengejarnya. Pada saat itulah sang ibu tiba. Dengan air mata bercucuran ia memohon, “Jangan ambil anakku, Nek. Biarlah apa saja kau ambil dariku, asal jangan anakku satu-satunya.” Namun Nek Bararotn berkata keras, “Anak ini milikku sekarang!”

Dengan kesaktiannya, ia melilit tubuh si anak dengan sulur dan akar. Nafas sang anak hampir putus, sementara sang ibu hanya bisa bersujud dan berdoa kepada Jubato. Katanya, “Wahai Jubato, Engkau Maha Kuasa atas segala makhluk. Lembutkanlah hati siluman ini, selamatkanlah anakku.”

Doa itu didengar. Hati Nek Bararotn luluh. Ia melepaskan sulur-sulurnya dan mengembalikan anak itu yang hampir lemas. Ia bahkan memberikan penawar: air merah yang menetes dari akarnya, yang jika diminumkan dapat memulihkan jiwa. “Bawalah anakmu pulang,” ujar Nek Bararotn, “jangan pernah meninggalkannya sendirian. Jika suatu saat kalian membutuhkan pertolongan, datanglah kepadaku. Aku akan membantu.”

Sang ibu berterima kasih dengan penuh syukur. Ia membawa pulang anaknya, berjanji tidak akan meninggalkannya lagi. Sejak hari itu, mereka hidup dengan penuh kasih sayang. Sesekali mereka kembali ke puncak bukit untuk mengambil air dari akar Nek Bararotn, yang ternyata mujarab menyembuhkan penyakit orang kampung.

Demikianlah, kisah Nek Bararotn menjadi pengingat bagi semua: janganlah orang tua meninggalkan anaknya sendirian, dan jangan pula meremehkan doa, sebab doa seorang ibu mampu melembutkan hati makhluk yang paling keras sekalipun.

Hikayat Nek Kelok Pamane Kampouk Pasi (Cerita Rakyat Singkawang, Kalimantan Barat)

 

Hikayat Nek Kelok Pamane Kampouk Pasi

Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri bernama Kampouk Pasi, hiduplah seorang lelaki bijak yang dikenal dengan nama Nek Kelok. Nama itu diberikan oleh ibunya karena pada saat ia lahir, alisnya tampak berkelok indah. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi seorang yang rajin, giat bekerja, dan penuh kasih sayang terhadap sesama.

Nek Kelok bukanlah orang biasa, ia dikenal sebagai seorang Pamane, tabib yang mampu mengobati segala macam penyakit. Tidak hanya penyakit badan, bahkan penyakit yang dianggap datang dari gangguan roh halus. Banyak sudah orang yang disembuhkannya, dan banyak pula nyawa yang selamat berkat pertolongannya. Namun ia tidak pernah meminta imbalan berupa harta atau emas, melainkan hanya sebatang jarum atau paku, sebagai tanda penolak bala agar penyakit tidak kembali pada orang yang diobatinya.

Pada suatu pagi yang cerah, Nek Kelok dan istrinya duduk di halaman rumah yang luas. Mereka menatap rimbunnya tanaman obat yang ditanam dengan penuh ketelitian: karinapat, kaimabo, angae jaranang, dan berbagai tumbuhan langka lainnya. Sang istri bertanya tentang manfaatnya, dan Nek Kelok dengan sabar menjelaskan khasiat setiap daun, akar, hingga bunga yang bisa menyembuhkan. Suasana pagi itu dipenuhi kicau burung dan semilir angin, tanda kebahagiaan mereka hidup sederhana namun penuh arti.

Tatkala mereka sedang berbincang, datanglah seorang pria dari kampung sebelah. Dengan wajah cemas ia memohon pertolongan, sebab anak lelakinya sakit keras hampir dua pekan lamanya. Dengan hati tulus, Nek Kelok menyanggupi. Ia membawa tas ramuan, berangkat bersama pria itu melewati bukit dan rawa, hingga tibalah di kampung yang masih diselimuti nuansa keramat.

Di rumah yang dituju, tampak seorang anak laki-laki terbaring lemah di atas alas anyaman. Tubuhnya pucat, lidahnya pahit, dan ia hampir tak mampu bergerak. Orangtuanya menangis, memohon kesembuhan. Nek Kelok pun duduk di sisi anak itu, menyiapkan dupa dan sesajian, lalu berdoa dalam bahasa leluhur. Suasana menjadi mencekam; angin bertiup kencang, ayam berkokok, anjing melolong, seolah-olah dunia gaib tengah hadir.

Tampaklah sesosok roh berwajah pucat dengan kuku tajam berdiri di hadapan Nek Kelok. Roh itu mengaku menyiksa sang anak karena tempat tinggalnya diusik oleh orang dewasa yang membuka lahan tanpa izin. Dengan tenang namun tegas, Nek Kelok berbicara:

“Wahai roh, janganlah engkau menyiksa anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Jika engkau marah, bicaralah kepada orang tuanya. Manusia dan roh harus hidup berdampingan di bumi ini.”

Perdebatan panjang terjadi, namun akhirnya roh itu luluh. Ia berkata bahwa bangsa manusia tidak boleh merusak hutan, sungai, dan bukit tempat mereka bersemayam. Setelah itu, roh pun pergi, dan seketika anak tersebut bangun sembari berkata, “Ibu, aku lapar.”

Tangisan berubah menjadi sukacita. Ibunya segera memberi makan, ayahnya berucap syukur, dan seluruh kampung memuliakan jasa Nek Kelok. Sejak saat itu, masyarakat Kampouk Pasi memahami bahwa manusia harus menjaga keseimbangan alam, menghormati makhluk yang tak kasatmata, serta selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


Hikayat Dek Bukùk dan Kucing Hitam (cerita dari Singkawang, Kalimantan Barat)

 

Hikayat Dek Bukùk dan Kucing Hitam

Tersebutlah sebuah kisah di Bantang Pakunam, daerah yang dikelilingi hutan lebat dan sungai yang jernih. Di kampung itu hiduplah seorang pemuda bernama Dek Bukùk. Ia adalah seorang yang tabah meski hidupnya penuh dengan kesedihan. Beberapa bulan sebelumnya, ibunya telah meninggal dunia, dan kini ia harus kembali menerima kabar duka. Ayahnya, Dek Sakti, sakit keras dan tak lama kemudian berpulang ke hadapan Sang Pencipta.

Dek Bukùk sangat terpukul. Ia merasa benar-benar sebatang kara. Dengan air mata yang belum kering, ia bersama para tetua kampung mempersiapkan pemakaman ayahnya. Jenazah Dek Sakti dimandikan, dikafani, dan disemayamkan di rumah sebelum diantarkan ke liang lahat. Penduduk kampung datang silih berganti, memberi doa dan penghiburan kepada Dek Bukùk yang sedang berduka.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat jenazah ayahnya diletakkan di ruang tengah, seekor kucing hitam tiba-tiba melompat melewati tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Seketika suasana menjadi mencekam. Orang-orang terdiam, wajah mereka pucat pasi. Konon, di kampung itu dipercaya, apabila kucing hitam melompati jenazah, maka jenazah akan bangkit kembali.

Dan benar saja, tak lama kemudian, tubuh Dek Sakti bergerak. Matanya terbuka, tangannya terangkat, dan ia bangun dalam keadaan yang menyeramkan. Orang-orang berteriak panik, ada yang lari keluar rumah, ada pula yang jatuh pingsan. Dek Bukùk sendiri gemetar, antara percaya dan tidak. Sosok ayahnya kini berdiri di hadapannya, namun wajahnya pucat dan matanya kosong.

Tetua kampung yang arif segera mengingatkan, “Itu bukan lagi roh manusia. Itu hanyalah tubuh yang digerakkan oleh gangguan makhluk gaib.” Mereka pun membaca doa dengan suara lantang, memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Perlahan, tubuh yang bangkit itu melemah, hingga akhirnya jatuh kembali dan tidak bergerak.

Kejadian itu meninggalkan rasa takut mendalam di hati penduduk kampung. Namun, para tetua menasihati Dek Bukùk agar tidak larut dalam kesedihan dan ketakutan. Mereka berkata, “Kematian adalah takdir. Jangan biarkan rasa duka menjadikanmu lemah. Doakanlah orang tuamu agar tenang di alam sana, dan jangan takut dengan bayang-bayang kegelapan.”

Sejak saat itu, masyarakat Bantang Pakunam selalu berhati-hati menjaga jenazah. Mereka memastikan agar tidak ada kucing, terutama kucing hitam, yang masuk ke dalam rumah duka. Sementara itu, Dek Bukùk belajar untuk ikhlas. Ia sadar bahwa yang meninggal tidak akan kembali, dan ia harus melanjutkan hidup dengan penuh keberanian.

Hikayat ini mengajarkan bahwa duka harus diterima dengan tabah, bahwa keyakinan dan doa lebih kuat daripada rasa takut, dan bahwa manusia sejati tidak boleh dikendalikan oleh takhayul, melainkan oleh iman dan akhlak yang baik.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...