Minggu, 28 September 2025

Hikayat Bayu Kanangga Raya

 

Hikayat Bayu Kanangga Raya

Sebermula, adalah sebuah negeri besar di tanah rimba Kalimantan Barat, bernama Negeri Kayangan Rimba, diperintah oleh seorang raja bergelar Sri Maharaja Sakti Alam Dirgantara, terlalu adil, masyhur seantero pulau. Baginda bersemayam di istana emas, dikelilingi hulubalang dan menteri bijaksana.

Syahdan, pada suatu hari, gemparlah negeri kerana seorang putri bangsawan bernama Putri Kanangga Raya jatuh sakit tenat. Putri itu terlalu molek parasnya, bagai bidadari turun dari kayangan. Namun takdir berkata lain, ia meninggal dunia sebelum sempat melahirkan anaknya. Maka dukacitalah seisi negeri, kerana putri itulah cahaya penyejuk hati baginda.

Maka menurut adat negeri, barang siapa mati tiada sempat melahirkan, jiwanya menempuh perjalanan panjang menuju alam baka. Roh putri disebut orang menempuh jalan Pan Bagongeng Bathiang Tunggal, jalan gaib yang penuh duri dan jurang.

Syahdan, roh Putri Kanangga Raya berangkat diiringi tangisan dayang dan bunyi gong kematian. Dalam perjalanan, ia sampai ke Palis Kepanca Bagongeng Bathiang, tiang raksasa yang menjulang ke langit. Barang siapa hendak melewati, harus menyerahkan adat berupa manik dan gong tembaga.

Syahdan, ketika roh putri sampai di kaki pohon durian besar yang berduri tajam, muncullah makhluk penjaga bernama Sang Nyuba Rang, wajahnya seram, matanya menyala merah. Maka katanya,

“Hai Putri Kanangga Raya, tiadalah engkau boleh melintas jika tiada membayar adat jiwa. Serahkanlah adatmu, supaya jalanmu terbuka.”

Maka roh putri menyerahkan harta gaib berupa manik raja berlapis tujuh yang dahulu diselipkan ibunya saat upacara kelahiran. Maka dibukalah jalan, lalu ia melintas dengan selamat.

Syahdan, setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah Putri Kanangga Raya di negeri arwah. Roh leluhur menyambutnya dengan tari dan tabuhan gong. Maka tenanglah ia bersemayam di alam baka, menjadi pelindung bagi negeri Kayangan Rimba.

Hingga kini, orang tua-tua di Kalimantan Barat selalu menceritakan kisah Putri Kanangga Raya sebagai pengingat, bahawa hidup hanyalah perjalanan, dan adatlah yang mengiringi jiwa menuju akhirat.

Hikayat Mati Badarah

 

Hikayat Mati Badarah

 Adapun tersebut kisah pada zaman purbakala di tanah Kalimantan Barat, ada seorang raja besar bernama Sri Maharaja Indera Dipa, bersemayam di istana Kampung Durian. Baginda adil bijaksana, tetapi selalu khuatir akan dosa rakyatnya.

Syahdan, dalam negeri itu hiduplah seorang hulubalang bernama Laksamana Badarah, gagah perkasa, tetapi hatinya condong kepada nafsu. Pada suatu masa, ia berperang melawan musuh, lalu terkena luka parah. Belum sempat ia sembuh, ajal menjemputnya. Maka mati syahidlah ia di medan laga, darahnya membasahi tanah.

Menurut adat, barang siapa mati kerana luka berdarah, rohnya menempuh jalan sukar menuju negeri akhirat. Jalan itu disebut orang Kasampongan Kapancur, yakni sungai gaib tempat roh menyeberang dengan rakit emas.

Syahdan, roh Laksamana Badarah mengembara ditemani seekor burung enggang putih, tanda perlindungan leluhur. Ia menyeberangi sungai deras, dihadang makhluk gaib bernama Sang Sampona, raksasa bertaring panjang.

Maka katanya:

“Hai roh Badarah, jika engkau ingin melintas, serahkanlah adatmu. Tiadalah roh boleh sampai ke negeri abadi tanpa membayar adat darah.”

Maka roh hulubalang menyerahkan parang pusaka yang selalu dipakainya berperang. Maka terbukalah jalan, dan rakit emas pun meluncur deras menuju seberang.

Syahdan, setelah menempuh segala ujian, roh Laksamana Badarah sampai di negeri roh, di sambut oleh arwah hulubalang terdahulu. Maka jadilah ia penjaga negeri akhirat, pelindung segala prajurit yang mati di medan perang.

Hingga kini, orang Dayak selalu mengisahkan hikayat Mati Badarah dalam upacara kematian, sebagai pengingat bahawa darah pahlawan menjadi persembahan bagi leluhur dan Tuhan.

Hikayat Kampang-Ngampang

 

Hikayat Kampang-Ngampang 

Sebermula, adalah sebuah negeri besar bernama Lembah Kencana, diperintah oleh seorang raja bergelar Sri Maharaja Dirgantara Syah, terlalu adil, lagi gagah perkasa, masyhurlah baginda ke tujuh lautan. Negeri itu aman makmur kerana hukum adat dijunjung tinggi, tiada seorang pun berani mengingkarinya.

Maka adalah adat di negeri itu, barang siapa bertindak aniaya dengan sengaja terhadap seorang gadis, niscaya ia disebut kampang-ngampang, yakni perbuatan tercela lagi memalukan. Barang siapa melakukan demikian, wajiblah membayar adat kampang sepuluh real promas, serta adat kesopanan kepada orang tua si gadis.

Syahdan, pada suatu masa, hiduplah seorang hulubalang muda bernama Tun Perkasa Alam, terlalu gagah lagi rupawan. Namun hatinya condong kepada hawa nafsu. Ia jatuh hati kepada seorang dayang istana bernama Putri Seri Bulan, gadis suci laksana bidadari turun dari kayangan.

Maka sekali peristiwa, Tun Perkasa hendak berbuat aniaya kepada Putri Seri Bulan. Belum lagi niatnya jadi kenyataan, kabar itu telah sampai ke telinga para menteri, lalu dibawa menghadap baginda Sri Maharaja.

Maka titah baginda:

“Barang siapa lelaki hendak berbuat aniaya kepada gadis negeri beta, walau sekadar niat jua, niscaya ia kena adat kampang sepuluh real promas. Tambahan pula, hendaklah membayar adat kesopanan kepada orang tua si gadis.”

Maka dipanggillah Tun Perkasa ke balairung seri. Wajahnya pucat, tiada berani mengangkat muka. Lalu diperintahkan baginda supaya ia menyerahkan harta emas sebagai tebusan adat.

Sebermula, tiada insaf Tun Perkasa, bahkan ia mengulangi perbuatannya di kampung-kampung, mengganggu gadis desa yang tiada berdosa. Maka segala rakyat marah, lalu mengadu kepada penghulu adat.

Syahdan, musyawarah besar pun diadakan. Kata penghulu adat:

“Inilah kali kedua hulubalang berbuat durjana. Maka wajiblah ia membayar adat kampang ganda, serta adat pekain kepada ibu bapak si gadis.”

Maka Tun Perkasa pun terpaksa menyerahkan harta benda, hingga jatuh miskinlah ia.

Syahdan, ketiga kalinya Tun Perkasa mengulangi perbuatan tercela, bahkan berani di hadapan istana. Maka murkalah baginda Sri Maharaja.

Titah baginda dengan suara guntur:

“Barang siapa tiga kali melanggar adat kampang-ngampang, tiadalah lagi ia layak jadi rakyat negeri ini. Maka serahkan ia kepada pengadilan negeri, buanglah ia ke hutan gelap nan tiada berpenghuni, biarlah ia menerima kutukan adat.”

Maka Tun Perkasa pun dibuang ke hutan. Konon kabarnya, malam pertama di hutan, terdengar suara jeritannya bagai halilintar. Selepas itu lenyaplah ia, tiada pernah kembali.

Adapun kata orang tua-tua, roh Tun Perkasa menjadi hantu kampang, gentayangan di hutan, menjerit tiap malam bulan gelap. Barang siapa melanggar adat, niscaya terdengar suaranya:

“Bayarlah adat… adat kampang…”

Maka orang pun segera insaf, kerana percaya bahawa adatlah tiang negeri, tempat marwah dijunjung tinggi. Barang siapa melanggarnya, niscaya binasa hidupnya.

Syahdan, inilah hikayat kampang-ngampang yang masyhur di tanah Kalimantan Barat, turun-temurun dikisahkan, tiada diketahui siapa pengarangnya, kerana hikayat itu hidup di lidah rakyat dari masa ke masa.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...