Senin, 29 September 2025

Hikayat Putera Penawar Bisa

 

Hikayat Putera Penawar Bisa

Sebermula, maka tersebutlah sebuah negeri di bawah angin, bernama Negeri Inderapura. Negeri itu diperintah oleh seorang raja adil bijaksana, bergelar Sultan Mansur Syah. Adapun baginda duduklah di istana bertatahkan emas permata, beratapkan perak suasa, serta dikelilingi taman bunga dan kolam yang penuh dengan ikan emas.

Syahdan, baginda mempunyai seorang putera, terlalu elok rupanya, tampan lagi berani, bernama Putera Syah Alam. Adapun putera itu dikasihi segala rakyat, karena sifatnya pemurah, serta tiada jemu menolong orang yang kesusahan.

Hatta, maka pada suatu hari, datanglah suatu bala ke negeri itu. Seorang hulubalang jatuh sakit, panas badannya serupa api, tiada sembuh dengan segala tabib dan bomoh. Maka kemudian sakit itu merebak ke seluruh rakyat, seorang demi seorang jatuh demam, tubuh mereka panas tiada tertahan, hingga gemparlah negeri itu.

Adapun Sultan Mansur Syah terlalu dukacita melihat rakyatnya menderita. Maka baginda pun bersabda kepada segala menteri, katanya:

“Apalah ikhtiar kita hendak mengubati penyakit ini? Sudah segala tabib kita panggil, tiada seorang pun dapat menyembuhkan.”

Sebermula, maka seorang tua pun tampil ke hadapan baginda. Ia seorang alim, rambutnya putih seluruh, berjanggut panjang sampai ke dada. Katanya, “Daulat tuanku, hanya Putera Syah Alam sahaja yang dapat mengubati penyakit ini, dengan penawar yang tiada ternilai harganya. Penawar itu ialah bunga mawar putih bercampur daun pandan hijau, direndam dengan doa yang ikhlas, maka hilanglah segala demam dan bisa di tubuh.”

Maka Sultan pun hairan, lalu bertanya, “Di manakah boleh didapati bunga mawar putih itu?”

Maka jawab orang tua itu, “Syahdan, bunga itu tiada tumbuh di negeri ini, melainkan di Taman Larangan, di bawah jagaan naga berkepala tujuh, bernama Naga Labi-Labi. Barang siapa hendak mengambilnya, hendaklah bersedia dengan doa yang kuat, serta berani menempuh mara bahaya.”

Maka baginda pun menitahkan Putera Syah Alam berangkat mencari bunga mawar putih itu. Putera pun sembah sujud, tanda taat setia kepada ayahandanya.

Syahdan, berangkatlah Putera Syah Alam bersama beberapa hulubalang, menuju ke Taman Larangan. Perjalanannya terlalu jauh, merentas rimba belantara, menyeberang sungai besar, dan mendaki gunung yang tinggi. Hatta, sampailah mereka ke suatu lembah yang indah, di situlah letaknya Taman Larangan.

Maka kelihatanlah bunga mawar putih itu, mekar berseri-seri di tengah kolam, dikelilingi daun pandan hijau. Tetapi tiba-tiba terdengarlah bunyi gemuruh, bumi pun bergetar. Maka keluarlah seekor naga berkepala tujuh, terlalu besar tubuhnya, sisiknya bersinar bagaikan perak, matanya merah menyala, giginya tajam bagaikan pedang.

Adapun naga itu pun bersuara, katanya, “Siapakah berani datang ke tempat larangan ini? Tiada seorang pun boleh menyentuh bunga ini, melainkan akan binasa.”

Hatta, maka Putera Syah Alam pun berdiri dengan gagahnya, menghunus keris pusaka yang diwariskan ayahandanya. Tetapi teringatlah ia akan pesan orang tua, bahwa naga itu tiada dapat ditewaskan dengan senjata, melainkan dengan doa penawar.

Maka Putera pun menadah tangan, membaca doa dengan ikhlas hati:

“Bismillahirrahmanirrahim,

Kurendam si bunga mawar,

Campur dengan daun pandan,

Seteguk air jadi penawar,

Hilanglah panas dalam badan.

Berkat doa Laillahaillallah Muhammadarrasulullah.”

Syahdan, tatkala doa itu dibaca, tiba-tiba naga berkepala tujuh itu pun terdiam, matanya pun terpejam, lalu jatuh tertidur di hadapan putera. Maka Putera Syah Alam pun segera memetik bunga mawar putih, dicampur dengan daun pandan, lalu dibawanya kembali ke negeri Inderapura.

Hatta, sampailah putera ke istana. Maka bunga itu pun direndam dalam jambangan emas, diberi minum seteguk kepada segala rakyat yang sakit. Ajaib sekali, panas dalam badan mereka pun hilang, wajah mereka kembali berseri, tiada lagi demam yang menular.

Maka segenap negeri pun bersorak gembira, mengucap syukur ke hadrat Allah Subhanahu Wata’ala. Maka Sultan Mansur Syah pun sangat bersuka hati, lalu menitahkan kenduri tujuh hari tujuh malam, memberi jamuan kepada segala rakyat, tanda kesyukuran atas sembuhnya penyakit itu.

Adapun Putera Syah Alam pun masyhurlah namanya di seluruh negeri, digelar orang Putera Penawar Bisa, karena berjaya mengubati penyakit yang tiada dapat disembuhkan oleh sesiapa pun.

Syahdan, tiap kali rakyat jatuh sakit demam, maka mereka pun datang ke istana, meminta seteguk air rendaman bunga mawar putih bercampur daun pandan, sambil membaca doa penawar. Dan dengan izin Allah, sembuhlah mereka semuanya.

Maka sejak itu, Negeri Inderapura pun aman makmur, rakyat hidup sejahtera, tiada lagi penyakit yang melanda. Adapun kisah Putera Penawar Bisa ini tetaplah diceritakan turun-temurun, sebagai tanda kebesaran seorang putera yang berani, ikhlas, serta berpegang pada doa.

Maka inilah hikayat yang dikarang oleh orang dahulu kala, tiada diketahui siapa pengarangnya, hanya disalin daripada mulut ke mulut jua, menjadi penglipur lara bagi orang yang mendengar.

Hikayat Puteri Bunga Emas

 

Hikayat Puteri Bunga Emas

Sebermula, maka adalah sebuah negeri di bawah angin, negeri itu terlalu besar, indah permai, lagi makmur adanya. Negeri itu bernama Negeri Seri Alam, diperintah oleh seorang raja yang gagah perkasa lagi adil saksama, bernama Sultan Iskandar Syah. Adapun baginda bersemayam di sebuah istana bertatahkan emas permata, beratapkan perak suasa, tiang-tiangnya daripada kayu cendana, dan lantainya daripada kaca yang jernih tiada bandingannya.

Syahdan, pada tiap-tiap pagi maka segala rakyat jelata pun berhimpunlah di balairung seri, menunggu titah baginda. Maka segala menteri, hulubalang, panglima, dan bentara pun duduklah bersaf-saf menghadap raja. Adapun Sultan Iskandar Syah terlalu arif dalam hukum, lagi pemurah pada rakyatnya, maka amanlah negeri Seri Alam di bawah lindungan baginda.

Adapun baginda mempunyai seorang puteri, terlalu elok parasnya tiada taranya. Puteri itu dinamai orang Puteri Bunga Emas, karena tiap langkahnya mengeluarkan cahaya keemasan, hingga segenap istana berkilau-kilauan serupa sinar mentari pagi. Hatta, barang siapa memandang wajah puteri itu, nescaya hilanglah dukacita di hatinya, seolah-olah melihat cahaya syurga.

Maka setiap malam, Puteri Bunga Emas duduklah di taman istana, dikelilingi bunga mawar dan melati, sambil ditemani dayang-dayang. Syahdan, tatkala ia berjalan di antara bunga-bungaan, keluarlah bunyi yang merdu, seakan-akan bunyi seruling dan gendang yang mengiringinya.

Hatta, tersebutlah kisah pada suatu hari, datanglah suatu alamat besar. Langit menjadi gelap, angin pun bertiup kencang, laut bergelora serupa ombak gunung. Maka kelihatanlah seekor naga dari laut dalam, terlalu besar tubuhnya, sisiknya berkilat bagaikan besi, matanya merah menyala serupa bara api. Naga itu bernama Naga Sembilan Kepala, terlalu garang lagi menakutkan.

Syahdan, naga itu pun terbanglah menuju Negeri Seri Alam, suaranya bergemuruh sehingga segenap istana pun bergetar. Maka rakyat pun lari bertempiaran, anak-anak menangis, segala binatang di rimba pun melarikan diri. Maka gemparlah seluruh negeri.

Maka baginda pun menitahkan segala hulubalang dan panglima turun ke medan, melawan naga itu. Segala hulubalang pun lengkaplah dengan persenjataan, keris panjang, tombak berkilat, dan perisai bertatahkan emas. Maka berpestalah mereka di medan, tetapi seorang pun tiada dapat mengalahkan naga itu. Barang siapa mendekati, disambar oleh sayap naga, lalu terhempas hancur luluh di bumi.

Adapun Sultan Iskandar Syah terlalu dukacita melihat hulubalangnya binasa. Maka baginda pun berkata, “Apalah ikhtiar kita hendak mengalahkan naga yang terlalu sakti ini?”

Sebermula, maka Puteri Bunga Emas pun berdiri di tengah balairung seri, sembah kepada ayahanda baginda, katanya, “Daulat tuanku, hamba pohon izin hendak turun ke medan. Mudah-mudahan dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala, naga itu dapat ditundukkan.”

Maka baginda pun terdiam, terlalu kasih akan puterinya itu. Tetapi melihat tiada jalan lain, maka diizinkanlah jua.

Syahdan, Puteri Bunga Emas pun keluarlah dari istana, berpakaian baju sutera bertabur permata, di tangannya membawa sebuah jambangan berisi bunga emas. Tatkala ia berjalan, keluarlah cahaya dari tubuhnya, sehingga seluruh rakyat berhenti dan memandang penuh takjub.

Maka tibalah ia di hadapan naga yang mengamuk itu. Syahdan, Puteri Bunga Emas pun menaburkan bunga emas dari jambangan. Ajaib sekali, bunga itu pun terbang di udara, lalu berubah menjadi burung-burung emas yang berkicau terlalu merdu. Maka naga itu pun terpesona mendengar kicauan burung emas, matanya pun terpejam, dan ia pun tertidur seribu tahun lamanya.

Hatta, maka amanlah kembali Negeri Seri Alam. Segala rakyat pun bersorak gembira, mengucap syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Maka Sultan Iskandar Syah pun menitahkan sebuah taman bunga dibangun bagi puterinya, tempat segala bunga emas dan perak ditanam, supaya menjadi tanda kenangan akan kebesaran puteri itu.

Adapun Puteri Bunga Emas tinggal di istana, tiada pernah keluar dari taman itu, hingga masyhur ceritanya ke segenap negeri. Segala raja di bawah angin pun mendengar khabar itu, maka masing-masing ingin meminang puteri tersebut. Maka datanglah utusan dari negeri-negeri besar, membawa persembahan emas, permata, dan gajah-gajah putih, hendak meminang Puteri Bunga Emas.

Tetapi Puteri Bunga Emas tiada berkehendak bersuami, hanya duduk dalam taman bunga, memandang bunga-bungaan, bercakap-cakap dengan burung emas yang diciptakannya. Maka segala pinangan itu ditolak halus oleh Sultan Iskandar Syah, karena kasih baginda terlalu besar akan anakandanya itu.

Syahdan, berlalulah masa, Puteri Bunga Emas tetaplah demikian keadaannya, tiada berubah. Tiap malam ia menaburkan bunga emas ke angkasa, hingga sinarnya menyinari seluruh negeri. Maka rakyat pun berbahagia, karena percaya bahwa negeri itu tiada akan diganggu lagi oleh segala makhluk jahat.

Adapun naga yang tertidur itu tetaplah di laut dalam, tiada bergerak, kerana sudah termeterai oleh bunga emas Puteri Bunga Emas. Maka selama seribu tahun, naga itu tiada bangun.

Maka inilah hikayat yang dikarang oleh orang dahulu kala, tiada diketahui siapa pengarangnya. Disalin daripada mulut ke mulut, menjadi cerita penglipur lara, penghibur hati segala rakyat jelata.

Hikayat Dayang Awan Putih

 

Hikayat Dayang Awan Putih

Pada zaman purbakala, di tanah Kalimantan Barat, hiduplah sebuah kerajaan besar suku Dayak Salako. Rajanya bernama Maharaja Pusaka Langit, bersemayam di istana bertiang ulin, beratap rumbia berhias manik-manik, berkilauan bagaikan cahaya pelangi selepas hujan.

Namun suatu hari, negeri yang makmur itu ditimpa malapetaka. Penyakit aneh bernama pialu badan kuning menyerang rakyat. Tubuh mereka berubah kekuningan, mata layu, tenaga lenyap, dan banyak yang meninggal.

Di balairung istana, Maharaja duduk di atas singgahsana. Rakyat, menteri, dan hulubalang datang menghadap, wajah mereka penuh duka.

“Apakah tiada penawar bagi penyakit ini?” titah baginda dengan suara berat. “Jika kita tiada berbuat sesuatu, negeri ini akan hancur binasa.”

Para menteri menunduk. Tiada seorang pun yang tahu obatnya. Tiba-tiba, masuklah seorang nenek tua berjubah kulit kayu, tongkat bambu di tangan, rambutnya panjang beruban. Dialah Dayang Awan Putih, orang halus yang konon hidup di antara manusia dan kayangan.

Ia memberi salam, lalu berkata,

“Tuanku yang mulia, janganlah putus asa. Ada penawar bagi penyakit ini, tetapi penawar itu berupa sepuluh akar pusaka yang tersimpan di hutan larangan, dijaga oleh penunggu ghaib. Barang siapa mendapatnya, niscaya sembuhlah segala penyakit kuning.”

Maharaja memandang dengan penuh harap.

“Sebutkanlah, wahai Dayang Awan Putih. Apakah nama akar pusaka itu?”

Dayang Awan Putih pun mengangkat tangannya, menyebut satu per satu nama akar pusaka itu.

Suara nenek itu menggema ke seluruh balairung, seakan roh nenek moyang ikut melafalkan.

“Baiklah,” titah Maharaja, “beta titahkan Patih Bulan Berjalan memimpin seribu hulubalang, masuk ke hutan larangan, membawa pulang segala akar pusaka.”

Patih Bulan Berjalan pun berangkat. Mereka menembus rimba, menyeberangi sungai, mendaki bukit, hingga tiba di hutan pertama. Di sanalah akar Karinapat dijaga naga bersisik besi, matanya berapi.

Naga itu menyembur, “Siapakah berani mengambil akar pusaka ini?”

Patih Bulan Berjalan melangkah maju. “Kami datang atas titah Maharaja Pusaka Langit, hendak mencari obat bagi rakyat yang sakit.”

Lalu dibacakannya mantera leluhur Dayak. Naga itu pun luluh, menunduk, dan membiarkan mereka memetik akar serta daunnya.

Di hutan kedua, akar Pandan Sari dijaga burung enggang putih sebesar gajah. Sayapnya mengepak hingga hutan bergetar.

Burung itu berteriak, “Tiada seorang pun boleh mengambil akar ini!”

Patih Bulan Berjalan mengangkat tombaknya, tetapi tidak menikam. Ia menyanyi lagu nenek moyang, suaranya merdu. Burung enggang pun terharu, lalu menundukkan kepalanya. “Ambillah, sebab niatmu tulus,” katanya.

Di hutan ketiga, akar Santidur terbungkus kabut pekat. Para pahlawan tertidur seorang demi seorang. Hanya Patih Bulan Berjalan yang tetap terjaga, kerana membawa jimat dari Dayang Awan Putih. Ia memetik akar itu, kabut pun sirna, pasukannya terbangun kembali.

Demikianlah mereka menempuh hutan demi hutan. Ada yang dijaga raksasa, ada pula dijaga roh halus. Dengan keberanian, kecerdikan, dan doa leluhur, akhirnya lengkaplah kesepuluh akar pusaka.

Mereka kembali ke istana membawa akar-akar itu. Dayang Awan Putih menumbuk dan meramu dengan air telaga suci. Lalu disajikan kepada orang sakit.

Seorang rakyat yang kulitnya kuning minum ramuan itu. Sekejap tubuhnya kembali segar, wajahnya berseri. Seorang demi seorang disembuhkan. Seluruh negeri pun bersorak, memuji Maharaja.

“Syukur kepada roh nenek moyang!” seru rakyat.

“Daulat Tuanku!” gemuruh suara di balairung.

Maharaja memandang Dayang Awan Putih dengan hormat. “Benarlah, engkaulah penyelamat negeri ini.”

Dayang Awan Putih tersenyum. “Tuanku, ketahuilah, akar pusaka ini bukan sekadar obat bagi tubuh, melainkan wasiat. Barang siapa menjaga hutan, menghormati roh, dan mengasihi bumi, niscaya penyakit menjauh. Tetapi jika tamak menguasai manusia, obat pun hilang tiada berguna.”

Maharaja menunduk, lalu bersabda, “Mulai hari ini, hutan larangan akan dijaga. Tiada seorang pun boleh merusaknya. Kerana di sanalah pusaka nenek moyang.”

Sejak itu, negeri Dayak Salako kembali aman dan makmur. Sawah menghijau, sungai penuh ikan, rakyat sehat sejahtera. Hikayat tentang sepuluh akar pusaka disimpan dalam lontar kulit kayu, diwariskan turun-temurun.

Tiada siapa tahu siapa yang pertama menuturkan kisah ini, kerana hanyalah suara leluhur yang mengalir dari zaman ke zaman.

Dan demikianlah tamat Hikayat Obat Pialu Badan Kuning: Wasiat Dayang Awan Putih, adanya.

Hikayat Raja Bulan Beristerikan Puteri Kayangan

 Hikayat Raja Bulan Beristerikan Puteri Kayangan

Syahdan setelah Raja Bulan mengalahkan Raja Angin Ribut, maka semakin termasyhurlah nama baginda di tujuh lautan dan sembilan negeri. Segala raja-raja besar pun datang membawa persembahan, tetapi tiada seorang pun puteri yang berkenan di hati baginda.

Hatta, pada suatu malam tatkala baginda duduk di balairung menghadap bulan purnama, tiba-tiba turunlah cahaya putih dari langit. Maka keluarlah seorang puteri terlalu elok rupanya, tiada terperikan oleh kata, harum baunya bagaikan bunga tanjung, kilau wajahnya laksana matahari pagi.

Syahdan maka puteri itu pun berkata, “Wahai Raja Bulan, hamba ini Puteri Cahaya Sembilan, anakanda kepada Raja Kayangan. Hamba dititahkan ayahanda supaya turun menghadap tuanku, kerana baginda kagum akan kebijaksanaan dan keadilan tuanku.”

Maka Raja Bulan pun terpikat hatinya, lalu meminang puteri itu dengan penuh takzim. Maka sahut Puteri Cahaya Sembilan, “Jikalau tuanku benar-benar ikhlas, hendaklah tuanku berjanji tiada menggunakan Kitab Bayu Karau melainkan untuk kebaikan segala rakyat.”

Maka Raja Bulan pun bersumpah atas nama segala bintang dan bulan, tiadalah ia akan menyalahi janji itu.

Sebermula, maka berlangsunglah perkahwinan besar di istana Raja Bulan. Segala menteri hulubalang dan rakyat jelata bergembira, tujuh malam tujuh hari kenduri diadakan, gamelan berdentum, serunai beralun, tarian beriringan. Adapun pada malam pertama, hujan gerimis turun dari kayangan, tetapi bukan membawa bala, melainkan titisan mutiara sebagai restu dari segala dewa-dewi.

Syahdan, sejak itu Puteri Cahaya Sembilan bersemayam di sisi Raja Bulan, menjadi permaisuri yang setia, menambah seri istana dan keberkatan negeri. Maka negeri Raja Bulan pun bertambah makmur, tiada lagi kekurangan, rakyat hidup aman dalam kasih raja dan permaisuri bagai bulan bertemu cahaya.

Hatta demikianlah tamat kisah perkahwinan Raja Bulan dengan Puteri Kayangan, adanya.

Puisi "Alamku Singkawang" oleh Hendra Bahari Singkawang

  Alamku Singkawang Di Singkawang, langit berteriak seribu warna senja Gunung berdiri sebagai penjaga mimpi yang tak tidur Angin berbisik...